Kukuh Roxa Putra Hadriyono – Mekar Usai Memar 1
Kukuh Roxa saat menerima penghargaan sebagai Wirausaha Muda Terbaik 1 Kementrian Pemuda dan Olahraga Bidang Pertanian 2013

Kukuh Roxa saat menerima penghargaan sebagai Wirausaha Muda Terbaik 1 Kementrian Pemuda dan Olahraga Bidang Pertanian 2013

Sukses mengembangkan pertanian organik dan produksi pupuk ratusan ton per bulan.

Ratusan hektar sawah petani di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, gagal panen. Satu-satunya sawah yang panen adalah lahan percobaan milik petani yang didampingi Kukuh Roxa Putra Hadriyono seluas 8.000 m2. Para petani konvensional memanfaatkan pupuk dan pestisida sintetis menjadikan tanah gersang lantaran kehilangan air dan makhluk hayati. Penanaman tanpa henti memperburuk kondisi itu. “Jangankan panen, tanaman mampu bertahan saja sudah bagus,” kata Kukuh.

Adapun Kukuh sama sekali tak menggunakan pestisida kimiawi. Pupuk urea juga tidak digunakan karena serangan hama penyakit sangat parah. Kukuh menggunakan pupuk organik berbahan sampah bikinan timnya sendiri. Menurut Kukuh Roxa biaya produksi saat itu hanya Rp5-juta tidak termasuk sewa lahan. Tanaman padi tumbuh subur dan menghasilkan malai yang bernas. Dari lahan itu, petani menuai 2,8 ton gabah kering panen seharga beli Rp4.300 per kg. Produksi itu keruan saja sangat bagus ketika petani lain gagal panen.

Menyebar

Para petani di Singojuruh yang semula memandang sebelah mata Kukuh Roxa berubah sikap. Mereka menganggap Kukuh Roxa yang baru lulus kuliah di Institut Pertanian Bogor tak akan mampu bertani. “Saat itu mereka menganggap kami anak kuliahan tidak mengerti apa-apa,” kata Kukuh yang saat itu berusia 21 tahun. Keberhasilan Kukuh segera menyebar ke desa-desa lain di 12 kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Dampak keberhasilan itu, maka petani yang semula meremehkan berbalik angkat topi dan mengikuti cara Kukuh.

Selang 3 bulan, luasan lahan petani yang banting setir menggunakan pupuk berbahan sampah mencapai 30 ha. Penganut budidaya organik kian meluas hingga 120 ha setahun kemudian. Kukuh pun harus menjalani “profesi” tambahan: konsultan, agronomis, sekaligus tempat mengeluh. Ia meninggalkan rumah pada pukul 07.00 dan baru kembali menjelang tengah malam. Pada akhir pekan, kalau orang lain bersantai di rumah, ia justru kerap harus bermalam di lahan untuk berdiskusi dengan petani.

Kukuh bersama Sigit Pramono (kiri), salah satu rekan yang bersama-sama membangun CV Pandawa Putra indonesia

Kukuh bersama Sigit Pramono (kiri), salah satu rekan yang bersama-sama membangun CV Pandawa Putra indonesia

Kunci keberhasilan para petani antara lain terletak pada sumber nutrisi organik bikinan Kukuh Roxa. Pria kelahiran 1987 itu memanfaatkan sampah organik sebagai bahan baku pupuk organik. Pupuk diolah dengan cara memilah sampah organik dan non-organik kemudian mencampurnya dengan serbuk sabut kelapa. Selama 3—4 hari, campuran itu dibolak-balik setiap hari agar fermentasi merata. Pada hari kelima, pupuk siap dikemas dalam karung berukuran 50 kg. Produksinya mencapai 100 ton per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sampah organik, Kukuh merangkul para pemulung.

Baca juga:  Kampiun Bermodal Elok

Dalam satu siklus produksi itu, Kukuh menggunakan bahan baku berupa sampah organik sebanyak 20 ton. Selain pupuk organik, Kukuh juga membuat pupuk cair dari campuran ekstrak tumbuhan dan agen hayati berdasarkan permintaan petani. Banyaknya rata-rata 200 liter per bulan. Kukuh juga membuat 13 macam produk penunjang pertanian organik. Sarana pertanian organik kreasi Kukuh antara lain pupuk mineral cair, pestisida nabati, dan pestisida hayati.

“Peningkatan hasil dengan pupuk organik hanya hasil samping. Tujuan utama budidaya organik sejatinya menciptakan lingkungan optimal untuk pertumbuhan tanaman,” kata Kukuh. Ia memang bertekad mengubah pertanian konvensional menjadi pertanian organik, terutama di tanah kelahirannya, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Semua produknya dipasarkan di bawah perusahaan yang didirikannya pada 2012 yakni CV Pandawa Putra Indonesia. Sebelum sukses berbisnis pupuk organik, Kukuh juga menjual beras organik merah dan putih dalam kemasan satu kilogram. Kini bisnis itu dilanjutkan rekan-rekannya.

Wirausaha muda

Insting bisnis Kukuh akhirnya menarik minat seorang kawan lama pemilik izin penangkaran benih padi yang telah 10 tahun terhenti. Kukuh mendirikan CV Padi Nusantara untuk “membangunkan” izin penangkaran benih yang lama tidur itu. Usaha produksi benih padi bekerja sama dengan para petani di lahan 200 ha. Ia mengambil harga Rp100—Rp250 lebih tinggi ketimbang tengkulak lain. “Tergantung kualitas benih yang dihasilkan,” jelasnya.

Untuk menghasilkan beras berkualitas, Kukuh menjaga proses produksi benih agar berpegang teguh pada standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Penggunaan pupuk NPK yang berimbang termasuk penambahan pupuk organik wajib diikuti petani mitra penghasil benih. Kebutuhan pupuk untuk penanaman padi juga disokong dengan memberikan pinjaman kepada petani mitra. “Biaya diganti pada waktu panen,” kata Kukuh. Ia juga bekerja sama dengan teknisi dari Institut Pertanian Bogor agar kualitas benih yang dihasilkan tetap terjaga.

Baca juga:  Mahkota Raja Terbaik

Produksi benihnya kini mencapai 300 ton per bulan. Produk itu untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian yang tersebar di Pasuruan, Banyuwangi, Lumajang, Jember, dan Probolinggo. Permintaan di luar daerah seperti Nusa Tenggara Timur saja masih harus ditolaknya karena keterbatasan produksi. Targetnya memang memenuhi pasar di seputar Jawa Timur terlebih dahulu.

Lajang berusia 26 tahun itu kini menjabat sebagai direktur di CV Pandawa Putra Indonesia sekaligus CV Padi Nusantara. Sukses Kukuh Roxa tidak diraih seketika. Pada mulanya ia justru babak belur karena terlilit utang. Keterlibatan Kukuh pada bidang pertanian bermula saat perhelatan  festival pertanian di Institut Pertanian Bogor.

Padi lebih vigor dengan memakai pupuk organik

Padi lebih vigor dengan memakai pupuk organik

Acara itu bertujuan sebagai ajang promosi sekaligus mengais laba. Ternyata ia harus membayar mahal pengalaman itu. Akibat kekeliruan perhitungan biaya operasional, Kukuh dan 4 rekan menanggung kerugian Rp40-juta. Pria kelahiran Banyuwangi itu pun terpaksa berutang pada kampus untuk menutup kerugian. Kukuh yang saat itu menempuh semester VI di Departemen Agronomi dan Hortikultura terpaksa memutar otak. Beruntung, seorang pengajar di tempatnya menimba ilmu memberikan solusi.

Sang dosen menugaskan mereka menguji efikasi—pengujian produk sebelum dilepas ke pasar—sebuah produk pupuk. Kelimanya sepakat bekerja di sela waktu kuliah tanpa bayaran. Setiap pagi, Kukuh mengawali hari dengan mengunjungi demplot penanaman. Usai kuliah, bila mahasiswa lainnya bersantai, ia dan rekannya mesti berkutat menyusun laporan. Kerja keras mereka gemilang: utang terbayar 2 bulan kemudian. Pengalaman berharga itu membuat anak ke 2 dari 3 bersaudara itu lebih hati-hati dalam beragribisnis.

Tim solid

Kunci sukses Kukuh adalah dukungan petani yang menjadi konsumennya serta kerja sama tim usaha yang solid dalam menjalankan usaha. Melalui kedekatan dengan kelompok tani, ia cepat mengetahui kebutuhan mereka. Kedekatan itu juga menjadi jalan memperkenalkan riset yang selama ini kerap tidak menjangkau petani. Beberapa di antara petani bahkan mengajukan diri sebagai target uji coba produk.

Ia pun mengakui dukungan rekan-rekan sesama alumnus pertanian menjadi penopang keberhasilannya. Pantas bila ketajaman melihat peluang dan kepiawaian menyasar pasar membawa Kukuh menyambar gelar Wirausaha Muda Terbaik versi Kementerian Pemuda dan Olahraga pada 2013. (Kiki Rizkika/Peliput: Lutfi Kurniawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments