Kucai vs Gulma 4-0

Kucai vs Gulma 4-0 1
Kucai bebas gulma berkat serasah bambu

Kucai bebas gulma berkat serasah bambu

Daun  bambu ampuh mengatasi gulma, 90% gulma lenyap.

Lahan milik International Cooperation and Development Fund (ICDF) alias Misi Teknik Taiwan di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu jauh dari bersih. Serasah daun bambu yang telah kering  berserakan menutupi permukaan lahan. Saking banyaknya serasah sampai tidak ada sejengkal pun permukaan tanah terbuka. Daun-daun kucai mencuat dari sela serasah. Lembaga itu menanam kucai berjarak antartanaman 20 cm x 20 cm.

Di tengah lautan daun bambu kering, Allium tuberosum itu menjadi satu-satunya jenis tanaman yang tumbuh.Pendamping peneliti ICDF, Koko Satrima, sengaja menciptakan lautan serasah bambu untuk menggusur gulma dari lahan. Sepekan pascapenyiangan saja gulma bisa menginvasi 80% lahan, apalagi pada musim hujan.

Koko Satrima: Hemat biaya penyiangan setelah gunakan mulsa daun bambu

Koko Satrima: Hemat biaya penyiangan setelah
gunakan mulsa daun bambu

Pembasahan

Menurut Sekretaris Jenderal Himpunan Ilmu Gulma Indonesia, Dr Ir Dedi Widayat MS, invasi gulma terhadap tanaman keluarga bawang-bawangan cukup tinggi. Musababnya tanaman utama hanya sedikit menutup lahan dan tumbuh lebih lambat ketimbang gulma yang invasif. Efeknya produktivitas anjlok 80—90%, bahkan bisa gagal panen. Koko dan staf lapangan ICDF menyiangi lahan seminggu sekali atau 4—5 kali sebulan.

Kondisi berbalik sejak serasah hadir di sela kucai. Anggota staf lapangan ICDF cukup menyiangi kucai seluas 630 m2 4—5 bulan sekali. “Ibaratnya sebelum itu kami selalu kalah 0—4 oleh gulma karena harus menyiangi minimal 4 kali sebulan. Dengan serasah skornya berbalik menjadi 4—0 lantaran penyiangan cukup 4 bulan sekali,” tutur Koko. Biaya penyiangan mencapai Rp40.000 per orang per hari. Padahal untuk menyiangi lahan 630 m2, Koko memerlukan 3 orang selama 1 hari. Frekuensi penyiangan 4 kali sebulan. Artinya selama budidaya kucai hampir 5 bulan, Koko menghabiskan minimal Rp2-juta untuk biaya penyiangan.

Menurut ayah 5 anak itu, biaya aplikasi mulsa serasah bambu selama 4 bulan hanya Rp1,4-juta. Itu untuk biaya pengangkutan dan penebaran daun bambu di lahan. Koko mendapatkan daun bambu secara cuma-cuma. Sebelumnya, ongkos penyiangan mencapai Rp2-juta. Itu berarti terjadi penghematan Rp600.000 per 5 bulan.

Baca juga:  Janji Laba Talas

ICDF menanam kucai untuk memperoleh bunga. Sejak menggunakan serasah bambu, selain bebas gulma, produksi bunga kucai meningkat dari 110 kg per 2 bulan menjadi 140 kg di lahan 630 m2. Mereka menggunakan serasah bambu dari daerah sekitar Desa Cikarawang. “Semua jenis daun bambu bisa digunakan. Namun, sebaiknya menggunakan daun bambu yang lebar seperti daun bambu betung Dendrocalamus asper agar seluruh permukaan tanah tertutup,” ujar Koko.

Sebelum aplikasi, staf ICDF membasahi serasah lalu meneduhkan dan mendiamkan daun bambu selama sepekan. Saat kemarau, mereka membasahi 3 kali dalam 3 hari berturut-turut, sedangkan pada musim hujan cukup sekali. Menurut Edhi Sandra MSi, ahli Fisiologi Tumbuhan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pembasahan serasah bambu mengaktifkan zat alelopati (bersifat racun terhadap tumbuhan, red). Selain itu serasah bambu kering lebih cepat hancur.

Untuk menanam kucai, staf ICDF membuat bedengan sepanjang 40 m, lebar 1 m, dan tinggi 20 cm. Dari 21 bedengan, mereka menggunakan serasah di 3 bedengan untuk uji efektivitas. Untuk membuat lapisan mulsa setebal 2—3 cm di permukaan bedengan, mereka memerlukan  90 kg serasah. Pemberian serasah ketika tanaman berumur 1 bulan atau tinggi 8—10 cm. Namun, menurut Dedi Widayat, aplikasi bisa dilakukan segera setelah pindah tanam untuk mencegah perkecambahan biji gulma.

Selang 30 hari, tidak tampak sehelai pun gulma tumbuh di permukaan bedengan yang tertutup serasah bambu. Sementara di permukaan bedengan yang terbuka, daun kucai nyaris tertutup oleh rumput. Menurut Dr Ir Naresworo Nugroho, MS pakar bambu di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, sejatinya serasah bambu perlu 15—18 bulan untuk terurai sempurna. Namun, pengalaman Koko menunjukkan efektivitas lapisan mulsa serasah berkurang 4—5 bulan pascaaplikasi. Tandanya sebagian tanah mulai terbuka atau tumbuh tunas-tunas rumput. Saat itu terjadi, staf lapangan pun langsung menambahkan serasah bambu yang baru.

Pengganti herbisida?

Koko mengetahui kemampuan serasah bambu secara kebetulan. Saat itu ia mengecek tanaman okra merah di lahan 500 m2. Ia terkejut melihat bedengan di dekat rumpun bambu, tanah tertutup serasah bambu, nyaris bebas gulma. Padahal di bedengan lain yang jauh dari rumpun bambu, rumput teki tumbuh  bersaing dengan tanaman utama. Ia lantas berpikir untuk menciptakan lapisan serasah bambu buatan  di komoditas lain untuk menghambat gulma.

Baca juga:  Kanker Batang Ancam Naga

Dari mana muasal kemampuan serasah bambu menghambat gulma? Mulsa serasah bambu membuat sinar matahari tidak mengenai permukaan bedengan sehingga benih gulma tidak berkembang. Selain itu, menurut Naresworo, berbagai riset menyatakan daun bambu mengandung zat alelopati berupa asam fenolat. “Daun bambu lebih “ramah” untuk tanaman utama ketimbang daun pinus, karena mempunyai komponen aktif yang mudah menguap,” kata periset bambu sejak 1995 itu. Selain itu serasah bambu juga bisa berfungsi sebagai penambah nutrisi bagi tanaman induknya karena mengandung kaya kalium, yang merupakan nutrisi makro untuk tumbuhan.

Menurut Ir Budi Jaya, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat, pupuk kandang yang belum terfermentasi sempurna memicu kehadiran gulma.  Menurut Dedi Widayat, gulma yang kerap menginvasi pertanaman sayur antara lain babadotan Ageratum conyzoides, krokot Portulaca oleracea, jukut pahit Axonopus compressus, dan rumput teki Cyperus rotundus.

Di antara mereka itu, pengendalian rumput teki paling sulit lantaran biji sangat kecil, banyak, dan mampu bertahan cukup lama dalam tanah. Untuk mengatasinya biasanya petani menggunakan herbisida berbahan aktif oksadiazon berdosis

1—2 liter per ha. Pria kelahiran Kota Cimahi, Jawa Barat,  54 tahun lalu itu menyarankan petani untuk menyiangi. “Penyiangan bisa menggemburkan tanah, sebaliknya beberapa zat aktif herbisida justru meninggalkan residu yang terbawa sampai panen” ujar Budi.

Menurut Naresworo, selama ini pemanfaatan bambu baru sebatas batang dan akar, sementara daun tersia-sia. Padahal dengan kemampuan menghambat pertumbuhan gulma, daun tanaman kerabat padi itu bisa menjadi alternatif pengganti herbisida sekaligus mulsa yang murah dan mudah diperoleh. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

 

Serasah musuh gulma

Serasah musuh gulma

FOTO:

  1. Koko Satrima: Hemat biaya penyiangan setelah gunakan mulsa daun bambu
  2. Kucai bebas gulma berkat serasah bambu
  3. Dr Ir Naresworo Nugroho, MS: Daun bambu mengandung alelopati yang mampu hambat pertumbuhan gulma

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x