Kuat Gempuran Karat 1
Pembibitan sengon provenan wamena

Pembibitan sengon provenan wamena

Sengon provenan wamena paling kuat terhadap karat tumor.

Mahrus Sholikhin menebang 3.600 sengon di lahan 3 ha miliknya pada 2010. Pekebun di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, itu menebang ribuan pohon bukan karena sengon siap panen, tapi terserang gall rust alias karat tumor. Cirinya batang berwarna cokelat dan terdapat benjolan. “Jika tidak segera ditebang, saya bisa gagal panen,” kata Mahrus. Paraserianthes falcataria yang terserang itu berumur 4 tahun dan berdiameter rata-rata 10—15 cm.

Lazimnya Mahrus memanen sengon saat tanaman berumur 7 tahun dan berdiameter 16—30 cm. Akibat karat tumor, pendapatan pria kelahiran 9 Februari 1954 itu merosot tajam menjadi kurang dari Rp20-juta dari 3.600 pohon. Padahal jika sengon tidak terserang penyakit, omzet Mahrus Rp840-juta. Saat itu Mahrus menggunakan bibit sengon dari Jawa yang lazim ditanam banyak pekebun.

Sengon provenan wamena, terbukti lebih tahan karat puru

Sengon provenan wamena, terbukti lebih tahan karat puru

Mematikan
Karat tumor yang disebabkan jamur karat Uromycladium tepperianum merupakan salah satu penyakit berbahaya pada sengon. Jamur mengeluarkan hormon yang merangsang pembentukan sel yang ukuran, jumlah, dan bentuknya berlebihan sehingga terbentuk tumor atau gall. Pada awal serangan gall berwarna hijau, perlahan berubah menjadi cokelat.

Itu mengindikasikan spora karat tumor melimpah dan sudah matang serta siap disebarkan ke tanaman lain dengan bantuan angin. Di kawasan Asia tenggara, penyakit karat tumor pada sengon pertama kali dilaporkan pada 1990 di pulau Mindanao, Filipina. Enam tahun berselang, di Indonesia muncul serangan perdana penyakit karat tumor pada 1996 di Pulau Seram, Maluku.

Di Jawa, khususnya di Jawa Timur, karat tumor terjadi pada 2003. Namun, saat itu tidak ada pencegahan karena kurangnya perhatian dari pihak terkait. Akibatnya pada 2005 penyakit itu menyebar luas di seluruh Jawa Timur terutama di lereng Gunung Semeru, Pegunungan Ijen, dan Gunung Raung (meliputi Banyuwangi, Bondowoso, Pasuruan, Malang, Probolinggo, dan Jember).

Adapun di sentra penanaman sengon di Temanggung dan Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, karat tumor menyebar sejak 2007. Pada akhir 2008 penyakit berkembang di daerah Ciamis, Majalengka, Sumedang, dan Cirebon. Tidak menutup kemungkinan daerah lain di Jawa Barat menunggu waktu terserang karat puru. Oleh karena itu, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta melakukan pemuliaan tanaman sengon yang relatif toleran karat puru.

Baca juga:  Noni Demi si Manis

Hasil penelitian tim periset dari BBPBPTH menunjukkan sengon provenan wamena (provenan: sumber ditemukannya atau dihasilkannya kultivar) relatif tahan serangan karat tumor. Peneliti menguji resistensi penyakit itu di dua lokasi berbeda yaitu di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Peneliti menggunakan 6 provenan di Candiroto dan 12 provenan di Ciamis. Provenan sengon yang digunakan yaitu hobikosi, waga-waga, holima, elagaima, pyramid, muliama bawah, meagama, siba, nifasi, worbag, maidi, dan wadapi menawi.

Provenan wamena
Delapan provenan yang disebut pertama berasal dari wilayah Wamena, Provinsi Papua. Sementara nifasi, worbag, dan maidi berasal dari wilayah Nabire, sedangkan wadapi menawi dari Serui, Provinsi Papua. Sengon yang digunakan berumur 14 bulan. Peneliti menginokulasi spora karat tumor berkerapatan 10s dengan sumber inokulum spora jamur Uromycladium tepperianum.

Pohon terserang karat tumor yang mewabah di tanah air sejak 2005

Pohon terserang karat tumor yang mewabah di tanah air sejak 2005

Hasil penelitian menunjukkan, sengon provenan wamena relatif lebih tahan serangan karat tumor dibanding sengon provenan lain. Hasil penelitian itu meneguhkan riset sebelumnya pada 2011 yang menguji ketahanan sengon pada tingkat semai berumur 2—4 pekan terhadap karat tumor. Harap mafhum penyakit itu menyerang sengon pada tingkat semai dan di lapang. Untuk mengetahui ketahanan sengon, digunakan lima sumber benih, yakni candiroto, wonosobo, dan kediri—berasal dari Jawa. Sisanya berasal dari EH (elagaima dan hubikosi) dan SH (siba dan hubikosi).

Kemudian periset menyemprotkan spora jamur berkerapatan 10s. Penyemprotan dilakukan tiga kali pada hari ke-1, 4, dan 7. Peneliti mengamati sengon terinfeksi itu sepekan sekali selama 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan sengon tingkat benih provenan wamena lebih toleran terhadap serangan karat tumor daripada provenan jawa. Luas dan intensitas serangan cendawan pada provenan wamena masing-masing 0%, sedangkan provenan jawa 86%—94% dan 53%—60%. Perbedaan intensitas dan luas serangan menunjukkan setiap provenan mempunyai daya tahan berbeda.

Mudah menyebar
Variasi luas dan intensitas serangan karat tumor dipengaruhi berbagai faktor antara lain genetik dan lingkungan. Mungkin saja benih sengon yang tahan karat puru itu berasal dari induk yang mempunyai ketahanan genetik terhadap penyakit itu. Faktor lingkungan juga berperan menyebarkan karat tumor seperti kabut, kelembapan relatif, kecepatan angin, intensitas sinar matahari, intensitas naungan, ketinggian tempat, derajat kelerengan, dan arah lereng.

Baca juga:  Destario Metusala

Karat tumor mudah menyebar dan menginfeksi sengon lain karena spora cendawan mudah terbawa angin. Perbedaan ketahanan penyakit karat tumor antar provenan disebabkan adanya keanekaragaman genetik pada sengon dari benih yang berasal dari induk yang tahan terhadap penyakit tumor. Keanekaragaman genetik membuat tanaman mampu beradaptasi atau melawan perubahan lingkungan, iklim, dan penyakit baru.

Oleh karena itu, keanekaragaman genetik tinggi modal utama suatu jenis populasi bertahan hidup dari generasi ke generasi. Keanekaragaman genetik mengembangkan sifat tanaman yang resisten terhadap berbagai jenis penyakit. Salah satu penyebab sengon dari lahan di Jawa rentan penyakit karat tumor yaitu rendahnya keragaman genetik sumber benih.

Penanaman sengon semakin meluas

Penanaman sengon semakin meluas

Beberapa hasil penelitian menunjukkan, keragaman genetik sengon di Jawa rendah sehingga rentan terserang penyakit. Sengon yang tahan karat tumor mempunyai gen penghambat pertumbuhan patogen. Namun, patogen juga mempunyai gen virulen atau ganas. Dengan adanya pertahanan dan kombinasi antara gen tanaman dan gen patogen cendawan maka sengon dapat terinfeksi ringan atau tidak terinfeksi sama sekali.

Jika suatu bagian sengon terserang penyakit, maka tanaman mengaktifkan gen agar menghentikan pasokan makanan ke bagian terserang itu. Tidak adanya pasokan makanan membuat pertumbuhan penyakit pada inang tidak begitu parah. Semua penyakit akibat patogen adalah hasil interaksi antara inang, patogen, dan lingkungan. Jika satu faktor tidak tersedia maka penyakit tidak berkembang.

Penyakit mudah muncul jika inang rentan terhadap suatu penyakit. Sementara patogen yang virulen dan lingkungan yang sesuai menyebabkan penyakit mudah berkembang. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit dapat dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi inokulum, memodifikasi lingkungan sehingga tidak mendukung perkembangan patogen dan penyakit, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.

Melindungi inang dari patogen dilakukan dengan cara seleksi atau pemuliaan tanaman yang secara genetik tahan atau toleran terhadap patogen. Sengon provenan wamena yang toleran karat puru salah satu cara mengurangi serangan penyakit itu. Dengan begitu kerugian besar yang dialami Mahrus akibat karat puru tidak terjadi jika pekebun lain menggunakan sengon provenan wamena. (Dr Liliana Baskorowati, peneliti di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments