Pamor puring terkatrol lagi lewat dunia maya

Pamor puring terkatrol lagi lewat dunia maya

Kehadiran grup komunitas pencinta puring di jejaring sosial menjadi lokomotif pasar puring kembali menggeliat.

“Shangrila… Hybrida @jangnara gueta. Merupakan perpaduan 2 karakter: lebar dan bundar.” Demikian status disertai foto puring shangrila yang diunggah Engelbertus Eenk Henry Suyono di sebuah situs jejaring sosial pada 11 Januari 2014. Sontak komentar-komentar dari anggota grup “Puring Lovers” bermunculan memuji keindahan puring itu. Tak sedikit yang mengirim pesan pribadi menanyakan peluang puring itu dijual. Eenk—sapaan Engelbertus Eenk Henry Suyono belum melepas puring pemberian Jangnara Gueta Yudhistira Kurniawan itu.

Begitulah cara 458 anggota pencinta kroton yang tergabung dalam grup “Puring Lovers” berinteraksi. Mereka berbagi informasi jenis baru, cara merawat tanaman, mengatasi hama penyakit, hingga bertransaksi jual-beli lewat situs jejaring sosial. Banyak di antara mereka belum pernah bertatap-muka langsung. Maklum grup yang berdiri pada  2013 itu terdiri atas anggota yang berasal dari berbagai daerah, seperti Ambon, Batu, Bandung, Gorontalo, Jakarta, Manado, dan Yogyakarta.

 

Puring H84 mirip petra

Puring H84 mirip petra

Imbas di lapang

Keberadaan grup di jejaring sosial membuat pehobi di berbagai daerah dengan cepat mengetahui informasi terkini tentang puring di Yogyakarta, Bandung, dan Batu—semua di Jawa yang selama ini menjadi sentra pengembangan Codiaeum variegatum itu. Begitu ada jenis baru misalnya, pehobi di luar Jawa langsung bisa mengetahui rupanya. Pencinta di luar Jawa pun kini tidak kuper atau ketinggalan berita perkembangan puring.  Bila mereka tertarik memiliki bisa langsung membeli.  Geliat di dunia maya berimbas ke dunia nyata. Pada November 2013 Mulyadi Sierad, pedagang puring di Yogyakarta mengunggah 1—2 foto puring di grup pertemanan tadi. Ternyata, foto itu mendapat tanggapan dari anggota lain. Mereka meminta 20 pot aneka jenis. Berkaca dari itu, Mulyadi kian rajin mengunggah foto-foto puring, baik varietas lama maupun baru. Bak gayung bersambut, permintaan puring terus meningkat. Kini setiap minggu Mulyadi mengirim 100—200 pot ke berbagai daerah. Misal Jakarta, Manado, Gorontalo, dan Malang. Tak jarang dalam seminggu ia mengirim 2—3 kali. Total jenderal dalam 1 bulan Mulyadi mengirim 500—600 pot. Padahal sebelumnya, permintaan puring hampir tidak ada.

Puring kura-kura

Puring kura-kura

Harap mafhum, pernah bersinar pada 2008, pamor puring lantas meredup. Bahkan pasarnya mengalami stagnasi selama 5—6 tahun. Harganya pun ikut “nyungsep” lantaran tidak ada yang mau membeli. Sejak permintaan ramai, Mulyadi intens mencari hingga keluar Yogyakarta. Pergantian tahun 2013 ke 2014 yang mestinya dilewati bersama keluarga, justru diisi dengan keluar-masuk kampung mencari puring. Dengan mobil pick up ia menelusuri jalan kampung di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menuju kebun petani. Di kebun langganannya itu ia mengambil puring yang dipesan 1 bulan sebelumnya. “Bila tidak memesan lebih dahulu, bakal  tidak dapat barang karena bersaing dengan pedagang lain,” tutur pemilik Nurseri Selaras itu.

Baca juga:  Bebas Flu

Ada beberapa jenis yang dipesan, di antaranya oscar dan kurasi alias kura-kura mutasi. Pada pergantian tahun itu, ia membawa pulang 120 tanaman.  Kegiatan serupa kembali dilakoni pada minggu kedua Januari. Seminggu kemudian, ia kembali menjemput 500 pot yang sebagian besar telah dipesan langganannya. Puring asal setek setinggi 20—25 cm yang baru 3 minggu ditempel itu lalu dipelihara 2—3 minggu. Setelah kondisi sehat, tanaman siap dikirim ke konsumen di luar kota. Masih di Yogyakarta ada Suryoekesumo Agus alias Agus Widayanto dan Engelbertus Eenk Henry alias Eenk serta Edy Catur dan Sumarno di Malang yang mengalami hal serupa. Agus Widayanto yang merupakan penyilang, enggan menyebut angka pasti,  penjualan. “Yang jelas, saat ini lingkup penggemarnya lebih luas dibandingkan dengan 5—6 tahun lalu,” tuturnya.  Mulyadi memperkirakan puring yang keluar dari Yogyakarta mencapai minimal 2.000 pot per bulan. Itu dipenuhi oleh 4—5 produsen dan pedagang. Ia menduga jumlah itu baru setengah dari permintaaan yang mencapai 4.500—5.000 pot. Jenis yang dicari: oscar, kura-kura, kurasi, dan apel.

Puring angel wings alias vinola

Puring angel wings alias vinola

Geliat puring itu juga dirasakan di Bandung, Jawa Barat. Menurut Ace Ramdan, pekebun di Gegerkalong,  animo masyarakat pada puring terjadi sejak November 2013. Pada awal Januari 2014, Ace mengirim 50 pohon puring jenis kura-kura, apel, dan afrika ke konsumen di Manado. Tanaman setinggi 20 cm—25 cm dibanderol Rp15.000—Rp20.000/pot.

Euforia puring juga terlihat pada beberapa pameran. Pada pameran di Taman Anggrek Indonesia Permai, (TAIP), Jakarta Timur, puring hadir cukup mencolok di tengah-tengah tanaman hias lain. Menurut Yanto Hidayat, pemilik Nurseri Andaman yang ikut pameran, geliat puring telah dirasakannya dalam 3 pameran terakhir yang diikuti dalam kurun waktu 2 bulan. Semua pameran berlokasi di Jabodetabek. Dari ketiga pameran itu, ia berhasil menjual lebih dari 10 pot puring yang harganya berkisar Rp250.000—Rp350.000/pot tanam-an setinggi 40—60 cm.  Di Batu, Jawa Timur, bahkan satu gerai khusus memajang puring, sesuatu yang tidak pernah terjadi di pameran-pameran sebelumnya.

Baca juga:  Pasar Tunggu Gabus

 

Harga terkoreksi

Para pemain sepakat, pemicu naiknya kembali pamor puring berkah dari riuhnya informasi di jejaring sosial. Para anggota setiap hari aktif mengunggah foto koleksi sehingga anggota lain selalu mendapatkan informasi baru. Apalagi harga kian terjangkau. Yakni Rp15.000—Rp25.000 untuk jenis umum setinggi 20—25 cm dan Rp150.000—Rp250.000 untuk jenis langka. Bandingkan  ketika booming puring 5—6 tahun silam. Saat itu, untuk jenis baru dan langka, misal kipas dewa setinggi 1 meter dan bercabang tiga dibanderol Rp15-juta/pot. Jenis populer lain vinolia alias angel wings. Sayang geliat puring saat itu hanya bertahan 4 bulan. Setelah itu pasar anjlok dan kehilangan  peminat.

Kipas dewa

Kipas dewa

Saat ini, bibit sambungan kipas dewa setinggi 20—25 cm dapat dibeli dengan Rp75.000—Rp100.000; sedangkan bibit cangkokannya dijual Rp150.000. Yang lebih murah, oskar dibanderol  Rp60.000—Rp75.000 untuk ukuran 40 cm. Namun, yang pasarnya lebih siap ialah kura-kura. Varietas itu  sudah diperbanyak secara massal oleh petani di daerah Bandongan, Magelang, Jawa Tengah.  Sekitar 2.000 pohon  diperkirakan siap beredar sekitar 1—2 bulan ke depan, dengan kisaran Rp15.000—Rp20.000/pot. Jenis-jenis itu berbeda dengan puring untuk taman yang harganya Rp5.000—Rp10.000/pohon.

Puring memang elok untuk tanaman pot dan untuk taman. Menurut Hary Harjanto, perancang taman di Depok, Jawa Barat, untuk puring jenis biasa berharga murah, hadirkan sebagai hamparan atau border. Sedangkan puring eksklusif hanya dipakai 1—3 pohon sebagai center point di halaman rumah. Warna-warni puring kembali memikat pehobi. (Syah Angkasa/Peliput: Lutfi Kurniawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d