Krisis Kopi di Depan Mata 1
Kopi terancam krisis karena ketimpangan permintaan dan pasokan.

Kopi terancam krisis karena ketimpangan permintaan dan pasokan.

Cadangan kopi dunia makin menipis. Data Badan Kopi Dunia (International Coffee Organization, ICO), menyebutkan bahwa konsumsi kopi dunia pada 2014 mencapai 148,89 juta karung—setara 8.933.460 ton biji. Artinya setiap bulan dunia menyesap 744.455 ton kopi. Produksi tahun sama hanya 149,07 juta karung setara 8.944.620 ton. Selisih 11.160 ton jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan sebulan. Tahun berikutnya, selisih meningkat menjadi 22.980 ton. Tetap saja jauh dari kebutuhan sebulan.

Padahal, pada 1990, cadangan kopi dunia mencapai 10 bulan. Peningkatan konsumsi, bencana alam atau perubahan iklim yang mengganggu produksi, stagnasi produksi, dan berbagai penyebab lain menjadikan angka itu makin merosot. Sesungguhnya produksi juga bertambah untuk meladeni konsumsi yang meningkat. Namun, peningkatan itu tidak sebanding dengan pertambahan permintaan. ICO mencatat, konsumsi kopi dunia 2017 meningkat 1,9% dari tahun sebelumnya. Namun, produksi hanya meningkat 0,8%.

Peluang pekebun

Dr. Pujiyanto, M.Sc.

Dr. Pujiyanto, M.Sc.

Apa pentingnya cadangan? Simpanan itu menjadi “penambal” kebutuhan ketika pasokan tersendat. Lazimnya produk yang mengandalkan kemurahan alam, kopi rentan pengaruh cuaca atau iklim. El nino yang terjadi 2016 mempengaruhi produksi pada tahun berikutnya. Semua sentra kopi dunia mengeluhkan penurunan produksi akibat deviasi cuaca. Pasokan dari kebun berkurang sementara konsumsi justru terus meningkat. Efek selanjutnya bisa ditebak, terjadi kenaikan harga.

Harga kopi di pasar dunia pada 2001 mencapai US$0,38 per 0,5 kg. Harga melonjak menjadi US$1,22 per setengah kg pada Februari 2018. Terlepas pengaruh inflasi, perubahan harga menyiratkan kenaikan permintaan. Dalam jangka pendek memang terjadi beberapa kali penyimpangan, pasokan berkurang tetapi harga justru turun. Penyimpangan itu hanya sporadis. Pada musim berikutnya harga pasti terkoreksi karena hukum permintaan dan penawaran berlaku umum.

Ketika pasokan berkurang, cepat atau lambat harga akan naik. Yang menjadi penentu harga justru kopi robusta, yang selama ini dianggap kelas bawah oleh banyak orang. Robusta identik dengan kopi curah dan memang demikian faktanya. Buah Coffea canephora itu menjadi andalan industri kopi kemasan. Itu sebabnya begitu terjadi penurunan produksi, kalangan industri terkena dampak langsung. Untuk meredam kenaikan harga, industri mempunyai cadangan.

Buah terserang PBKo akibat tanaman tidak terawat.

Buah terserang PBKo akibat tanaman tidak terawat.

Saat harga naik, mereka mengolah biji simpanan dari gudang dan menunda pembelian dari kebun sampai harga turun. Kalau harga tidak juga turun, terpaksa industri mengikuti dengan menaikkan harga jual. Cadangan di kalangan produsen itulah yang semakin tergerus. Apalagi pengecer yang jaringannya mendunia lewat bisnis waralaba menjalin hubungan dengan pekebun.

Baca juga:  Mawar Gurun Seronok

Bagi pekebun, apa pun yang terjadi di pasar dunia, mereka menjadi pihak yang diuntungkan karena produknya dicari. Kondisi demikian sejatinya merupakan peluang meningkatkan penghasilan. Sayang, produktivitas tanaman rendah, hanya 25—30% dari potensi bahan tanamnya.

Selain itu banyak juga pekebun menanam bibit asalan dari biji yang tidak jelas kualitasnya. Setelah menunggu 3—4 tahun, ternyata tanaman tidak berproduksi optimal. Apalagi perawatan yang minim tanpa pemupukan membuat kualitas buah kopi rendah. Biji dari tanaman tanpa pemupukan lebih kecil dan ringan. Padahal dari luar, mata awam tidak bisa membedakan buah berkualitas dari pohon terawat atau tidak. Itu belum memperhitungkan kerugian akibat serangan penggerek buah kopi (PBKo) atau gangguan organisme lain.

Sepintas orang mengira mereka untung karena bisa memanen kopi tanpa merawat. Seakan biaya produksi rendah. Padahal kalau memperhitungkan masa tunggu tanaman sejak tanam sampai berbuah selama 4 tahunan, tenaga panen, dan biaya pengolahan pascapanen, pekebun merugi. Seandainya para petani menerapkan pola budidaya yang benar (good agriculture practice, GAP), hasilnya lebih menguntungkan.

Kelembagaan

Penerapan GAP meningkatkan jumlah dan mutu panen. Pohon terawat bisa menghasilkan hingga 3 kg buah per tahun. Pengupasan (pulping) buah dari tanaman terawat hanya memerlukan 8—10 kg ceri untuk menghasilkan 1 kg biji. Untuk memperoleh hasil sama memerlukan sampai 20 kg ceri dari tanaman asalan. Padahal produksi pohon asalan hanya 0,7 kg buah per tahun. Hasil sedikit, kualitas rendah, padahal biaya panen dan pengolahan pascapanen sama.

Banyak tanaman tua di sentra kopi tanah air.

Banyak tanaman tua di sentra kopi tanah air.

Kendala lain, kelembagaan pekebun untuk mengkoordinir hasil panen lemah. Di sentra-sentra kopi, pekebun menjual begitu saja kopi ceri hasil panen kepada pedagang atau tengkulak. Berapa jumlah yang pantas ia peroleh sepenuhnya menjadi hak veto sang pedagang. Keruan saja pekebun enggan berbuat lebih karena tidak ada perbedaan harga yang mereka peroleh. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember, beberapa kali melakukan pendampingan kepada pekebun di sentra.

Baca juga:  Cuka Kelapa Pengganti Formalin

Pendampingan itu antara lain di sentra kopi di Desa Tepal, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Desa yang hanya bisa dijangkau dengan mobil berpenggerak 4 roda itu menjadi sentra arabika dan robusta dataran tinggi. Setelah terbentuk koperasi serbausaha, pengolahan kopi terpusat di koperasi. Pekebun anggota koperasi membawa kopi ceri dan menjual kepada koperasi. Ia bisa tahu persis kualitas buah dan kisaran harga yang layak.

Semua terbuka, tidak ada yang ditutup-tutupi. Jika menyetor buah berkualitas, ia mendapat harga lebih tinggi. Setiap tahun ia mendapat pembagian sisa hasil usaha. Selain itu pohon tua juga menjadi bom waktu di berbagai sentra kopi di Indonesia. Banyak sentra kopi masih mempertahankan pohon-pohon berumur lebih dari 30 tahun. Alasannya sayang, pohonnya sudah besar. Padahal umur produktif pohon kopi terbatas. Puncak produksi tercapai di umur 15 tahun, setelah itu terus menurun.

Oleh karena itu, jika pohon kopi berumur lebih dari 25 tahun, sebaiknya pekebun meremajakannya. Sebaiknya tanam pohon baru ketika tanaman lama berumur 21—22 tahun. Ketika tiba saatnya mengganti tanaman lama, tanaman baru sudah berproduksi optimal. Puslitkoka merilis klon unggul seperti BP-42 dan BP-308 yang tahan nematoda.

Upaya-upaya untuk meningkatkan produksi itu vital untuk menjaga ketersediaan kopi. Pada 2025 nanti, kebutuhan kopi dunia mencapai 175 juta karung setahun. Itu lebih dari 25 juta karung lebih banyak daripada produksi 2017. Peningkatan produksi menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.***

Anggota Dewan Pakar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *