Dengan teknik IP-200 pekebun berpeluang menggandakan produksi krisan.

Potong pucuk batang utama menggunakan gunting tanaman atau pisau, menjadi sekitar 10 – 12 cm.

Potong pucuk batang utama menggunakan gunting tanaman atau pisau, menjadi sekitar 10 – 12 cm.

Lazimnya pekebun memperoleh 5.000—7.000 krisan dari rumah tanam (greenhouse) berukuran 12 m x 14 m. Jika harga krisan Rp3.000 per tangkai, pekebun mendapat omzet Rp15-juta—Rp21-juta. Pekebun krisan di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Ir Jany Jeffry Adry Hanny Lasut SP, mampu menggandakan hasil panen di lahan sama. Artinya Jany memanen 10.000—14.000 bunga Chrysanthemum indicum.

Tentu saja hasil panen berlipat berimbas pada penghasilan. Dengan harga sama ia memperoleh omzet Rp30-juta—Rp42-juta. Ia menjual hasil panen ke toko dan perangkai bunga. Apa rahasia Jany panen berlipat? “Saya menerapkan teknik IP-200 pada krisan,” kata pria berumur 49 tahun itu. Dengan teknik itu setiap tanaman memiliki dua tangkai bunga yang sama panjang (50—70 cm) sehingga mendapat harga serupa.

Dua tangkai
Pekebun lain lazimnya menumbuhkan satu atau banyak tangkai (spray) dalam satu tanaman. Spray berbeda dengan IP-200 karena cara itu menghasilkan lebih dari 5 tangkai pendek yang berbunga relatif kecil. Jany menuturkan, prinsip teknik IP-200 sama dengan konvensional. Namun, penanaman mesti menyesuaikan musim. Saat musim hujan kelembapan tinggi sehingga tanaman memiliki risiko terserang karat daun.

Oleh karena itu jarak tanam harus lebar. Sementara pada musim kemarau, penanaman dengan teknik IP-200 sama dengan budidaya krisan biasa. Penerapan teknik IP-200 relatif mudah. Jany memotong pucuk krisan berumur dua pekan yang tingginya 15 cm menggunakan pisau kecil atau gunting tanaman. Pola pemotongan lurus. Setelah dipotong tinggi tanaman menjadi 10—12 cm dan berdaun 7—8 helai.

Permintaan krisan kian besar memberi peluang untuk membudidayakannya.

Permintaan krisan kian besar memberi peluang untuk membudidayakannya.

Pagi waktu terbaik memotong pucuk krisan, baik saat kemarau atau hujan. Mula-mula dari hasil pemotongan keluar 6—7 tangkai. “Jumlah itu terlalu banyak sehingga pertumbuhan krisan kurang efektif,” kata ketua Asosiasi Tanaman Hias Krisan Sulawesi Utara periode 2011—2015 itu. Jadi, Jany menyisakan 2—4 tangkai dalam satu batang. Tanaman bertangkai dua memproduksi bunga berdiameter masing-masing sekitar 8—12 cm dengan panjang tangkai 50—70 cm.

Baca juga:  Buah Melon: Panen 3 Kali Lebih Banyak

Pemanenan sebaiknya saat krisan berturgor optimum yakni pada pagi ketika udara sejuk dan panas matahari belum terik. Lazimnya krisan dipanen 3—4 bulan pascatanam. Saat itu bunga setengah mekar atau memerlukan 3—4 hari sebelum krisan mekar sempurna. Pasar menghendaki tangkai tangkai bunga sepanjang 50—80 cm. Jany menjamin krisan asal kota yang berjarak 25 km dari Kota Manado, Sulawesi, Utara, itu, tetap segar 10 hari pascapetik.

Satu batang krisan lokal Tomohon, usia 2 minggu, tinggi 15 cm.

Satu batang krisan lokal Tomohon, usia 2 minggu, tinggi 15 cm.

Krisan sebagai tanaman hias penghasil bunga potong komersial makin populer di berbagai negara. Di Indonesia, krisan termasuk bunga potong trendsetter karena ciri khasnya. Perkembangbiakan krisan melalui dua cara yaitu generatif melalui biji dan vegetatif melalui bagian vegetatif tanaman (batang, akar, atau daun). Perkembangbiakan generatif untuk menghasilkan keturunan baru membutuhkan waktu lama.

Kebetulan
Sementara perkembangbiakan vegetatif relatif lebih cepat. Lazimnya pekebun lebih memilih perbanyakan vegetatif ketimbang generatif. Jany menemukan teknik IP-200 secara tidak sengaja pada 2010. IP-200 kepanjangan dari Indeks Pertanaman 200 karena terinspirasi dari padi. Saat itu ia membudidayakan krisan asli Tomohon, kulo dan riri, pada dua bedengan sepanjang 10 m.

Dua pekan pascatanam 10 krisan patah pucuk. Ia menduga itu terjadi karena penyemprotan atau serangan serangga. Selang 1—2 pekan Jany mengamati dari pucuk krisan yang patah muncul lebih dari satu tangkai bunga baru. Ia lalu mengujicoba cara itu selama 3 kali musim tanam sehingga ditemukanlah teknik IP-200. Yang paling optimal tentu saja dua tangkai dalam satu tanaman.

Jany Jeffry Adry Hany Lasut, menanam krisan di Tomohon, Sulawesi Utara.

Jany Jeffry Adry Hany Lasut, menanam krisan di Tomohon, Sulawesi Utara.

Kawan dan kerabat Jany merespons baik penemuan itu. Kini sekitar 5 pekebun di Tomohon menerapkan teknik IP-200. Namun, teknik ini belum berkembang di luar Tomohon. “Saya berharap IP-200 meningkatkan produksi krisan sekaligus pendapatan petani,” kata pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) itu.

Baca juga:  Laba dari Yoghurt Talas

Menurut peneliti krisan di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cianjur, Jawa Barat, Kurniawan Yunianto, teknik IP-200 bisa diterapkan untuk daerah yang terkendala ketersediaan benih. Lebih lanjut Kuriniawan mengatakan kemungkinan pekebun memanen krisan 1—2 pekan lebih lama karena tanaman memerlukan waktu menghasilkan tangkai bunga yang sama besar. (Marietta Ramadhani/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d