Beragam cara meningkatkan nilai jual tanaman hias.

Tillandsia dalam bingkai meningkatkan nilai estetika tanaman.

Tillandsia dalam bingkai meningkatkan nilai estetika tanaman.

Irfan Syahroni mulai gundah. Pameran tahunan Flora dan Fauna 2015 di Jakarta sudah berlangsung beberapa hari, tetapi tanaman hias yang terjual masih sedikit. Puluhan tillandsia dan sansevieria masih tertata rapi menunggu pembeli. Sambil menunggu calon pembeli datang, Irfan membuat bingkai dari kayu palet bercat hitam. Ia lantas meletakkan Tillandsia xerographica di dalam bingkai itu, persis sebuah foto.

Bentuk Tillandsia xerographica unik, daun keriting dan tidak memerlukan media tanam. Sebagai penggantinya, Irfan melilitkan kawat tembaga yang lazim untuk membentuk bonsai. Tanaman hias itu terkesan mengambang di tengah bingkai. Menurut Irfan model seperti itu sedang tren di kalangan perangkai tanaman hias luar negeri. Cara membuatnya hanya membutuhkan senar pancing transparan yang dikaitkan pada sisi-sisi dalam bingkai.

Harga meningkat

Tillandsia dalam wadah kaca kreasi Irfan Syahroni.

Tillandsia dalam wadah kaca kreasi Irfan Syahroni.

Irfan lantas memajang bingkai tillandsia di stan pameran. Pengunjung mulai tertarik untuk melihat-lihat dan membeli produk itu. Irfan pun mulai bergairah dan kembali membuat tillandsia berbingkai dalam beberapa variasi bentuk. Ia menambahkan rumput sintetis sebagai latar belakang untuk memperkuat kesan asri dan menonjolkan warna tillandsia. Kayu berasal dari potongan sisa batang pohon dipasang sebagai tempat tanaman.

“Tambahan latar belakang membuat bingkai itu dapat diletakkan di dinding dengan warna yang lebih beragam. Adapun untuk yang tillandsia berkesan melayang dengan bantuan senar, lebih bagus kalau dipasang di atas dinding berwarna cerah. Warna hitam yang kuat pada bingkai menyamarkan senar penahan tanaman,” ujar lelaki berusia 37 tahun itu. Media untuk menempelkan tillandsia juga berupa lilitan kawat dan sisa potongan kayu.

Baca juga:  Safari Bahasa

Penggemar tillandsia dapat meletakkan kreasi itu di atas meja atau di lemari kecil untuk memberi kesan segar dan alami. Irfan juga mengombinasikan tillandsia dengan media wadah kaca berbentuk unik. Sayangnya, wadah yang memiliki bentuk menyerupai kapsul berukuran besar, lampu bohlam, dan tetesan air itu belum diproduksi di dalam negeri. Ia mendatangkannya dari Tiongkok.

Bisnis suvenir tanaman hias untuk penikahan kian marak.

Bisnis suvenir tanaman hias untuk penikahan kian marak.

Irfan juga membuat rangkaian Tillandsia ionantha menggunakan botol bekas parfum sebagai dasar untuk meletakkan lilitan kawat penyangga tanaman. “Ide itu muncul setelah melihat botol bekas parfum yang bentuknya unik-unik, ada yang segi tiga, bulat, meliuk, dan tidak selalu kotak yang kaku,” ujarnya. Rangkaian dengan botol parfum yang sebenarnya produk iseng itu malah mendapat sambutan bagus dari pehobi tanaman hias dari luar negeri.

Produk kreatif menggunakan bingkai dan wadah berbahan kaca unik karya Irfan itu dapat meningkatkan harga jual tillandsia. Selain itu penampilan baru yang unik membuat banyak orang yang tertarik untuk membeli bahkan meniru untuk membuatnya. Kreativitas itu tentu meningkatkan harga jual. Harga Tillandsia xerographica misalnya, hanya Rp500.000. Irfan menjual Tillandsia xerographica dalam bingkai Rp800.000—Rp1,2-juta.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Faldi Adisajana, dan Anwar Imannurdin memanfaatkan pot-pot kayu daur ulang. Mereka menjual tanaman dalam kayu palet eks impor berisi media tanam sekam itu pada hari bebas kendaraan di Dago, Kota Bandung, Jawa Barat. Sayang, respons konsumen masih kurang baik. “Kami kemudian mencari cara untuk mencoba membuat inovasi supaya dagangan dapat terjual,” ujar Faldi.

Kokedama menggabungkan lumut dan sukulen.

Kokedama menggabungkan lumut dan sukulen.

Pada Juni 2015 ia membuat model “rakitan tanaman” asal Negeri Sakura yang bernama kokedama—koke berarti lumut dan dama bermakna bola. Kokedama adalah tanaman yang ditanam dengan bola-bola lumut. Ketersediaan lumut melimpah dan harga relatif murah. Ia menggabungkan bola lumut itu dengan kaktus dan sukulen yang selama ini belum terjual. Untuk memenuhi bahan baku, Faldi mencari lumut ke hutan di Ciwidey dan Dago.

Baca juga:  Seri Walet 222: Liur Emas Tepi Mahakam

Inovasi Faldi menarik perhatian orang. “Kaktus dan sukulen dipilih untuk hiasan rambut untuk kepala boneka lumut tersebut, karena tanaman itu sangat mudah dirawat dan memiliki karakteristik tidak memerlukan banyak air.

Apalagi lumut mampu menjaga kelembapan. Perawatan boneka lumut itu sangat mudah hanya direndam ke air sekitar 3—5 menit seminggu sekali,” ujar pria berusia 22 tahun itu.

Produk kokedama Faldi mendongkrak nilai ekonomis tanaman hias jualannya. Biasanya harga kaktus dan sukulen hanya Rp10.000—Rp25.000 jika dijual dalam pot. Namun, kokedama kaktus laku hingga Rp50.000—Rp75.000. Faldi dapat meningkatkan nilai kemenarikan kokedama dengan menambahkan tangan, kaki, mata, menjadi karakter tertentu. Kini pemasaran bola lumut itu melalui berbagai pameran dan jejaring sosial.

Konsumennya berasal berbagai kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Namun, konsumen paling banyak anak-anak, anak muda dan pasangan muda yang akan segera menikah. Sebarannya di berbagai kota di Pulau Jawa, Medan, Makassar, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan.

Faldi Adisajana melakukan inovasi untuk meningkatkan nilai ekonomis tanaman hias.

Faldi Adisajana melakukan inovasi untuk meningkatkan nilai ekonomis tanaman hias.

Kecenderungan masyarakat perkotaan menyenangi barang ramah lingkungan juga ditangkap para pelaku bisnis dan penjual tanaman hias. Bisnis suvenir hijau pun mulai dilirik. Erik Arianto menyediakan layanan suvenir tanaman mini sejak 2013. Alumnus jurusan Biologi Universitas Padjadjaran itu mampu menjual 4.000 pot per bulan. Ia menggabungkan beberapa jenis tanaman hias dalam sebuah wadah.

Itu terbukti dapat menaikkan nilai ekonomis tanaman hias. Harga kaktus dan sekulen Rp5.000 per pot. Namun, harga kaktus dalam rangkaian kebun mini Rp75.000. Kebun mini atau miniatur kebun untuk melengkapi kebutuhan interior rumah dan kantor. Selain mempercantik ruangan, miniatur kebun juga menciptakan suasana sejuk dan segar. Kreasi itu cocok bagi masyarakat perkotaan yang sibuk dan ingin memelihara tanaman. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Baca juga:  Kekayaan Hayati

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d