Pot mobil-mobil kaktus disukai anak-anak

Pot mobil-mobil kaktus disukai anak-anak

Pot unik berbahan limbah mendongkrak harga tanaman.

Sejak 2004 Darmono Taniwiryono tak lagi membuang wadah sampo yang habis. Warga Baranangsiang Indah, Kotamadya Bogor, Jawa Barat, itu memanfaatkannya untuk menanam drimiopsis dan aglaonema Mula-mula ia membuat 3 lubang di sisi wadah yang telah dicuci bersih itu untuk memasukkan media tanam hingga penuh. Ia menambahkan kaki agar lebih menarik. Setelah itu menanam drimiopsis, tanaman berumbi berdaun cantik di setiap lubang. Jadilah botol sampo itu wadah tanam nan unik.

Bukan hanya botol sampo, Darmono juga memanfaatkan botol-botol bekas lain untuk menanam aglaonema. Pertumbuhannya bagus, tidak berbeda dengan di pot. Di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rizal Djaafarer, juga memanfaatkan limbah botol bekas minuman. Pemilik Rumah Bunga Rizal itu memanfaatkan aneka jenis minuman untuk budidaya sukulen dan kaktus. Ia memberi kawat gantungan di bagian atas dan bawah botol sehingga beberapa botol bisa dihubungkan secara vertikal.

Seddum burrito cocok dengan wadah gantung

Seddum burrito cocok dengan wadah gantung

Perlu 100 tahun

Rizal membuat pot asal botol itu dalam jumlah banyak sebagai partisi di rumah kaktus. “Saya memanfaatkan limbah botol yang disisakan tamu,” ujarnya. Banyak tamu berkunjung ke Rumah Bunga Rizal untuk memperoleh beragam tanaman hias seperti kaktus dan anggrek. Semula Rizal menciptakan model mobil-mobilan dengan membuat lubang persegi panjang di salah satu sisi botol. Ia juga melubangi 4 titik kecil untuk memasang roda berbahan dasar botol lain.   Rizal kemudian memasang 4 ban—masing-masing 2 ban di depan dan belakang— itu ke botol dengan bantuan sepotong kawat melalui lubang kecil.

Mobil-mobilan itu menjadi pot sukulen, kaktus, atau tanaman kecil lain. Selanjutnya mobil kaktus itu dipajang di tempat pajang. Ternyata pengunjung menyukainya. “Lucu bentuknya,” ujar Rizal menirukan komentar pengunjung. “Saya hanya mengolah limbah, tapi ternyata kemudian menjadi produk yang disukai,” tutur Rizal. Harga jual satu buah pot mobil-mobilan atau botol-botol gantung Rp25.000. Ilmu itu kemudian ia tularkan ke anak sekolah di sekitarnya. Ia mengundang murid-murid untuk datang belajar. Tidak lupa mereka diminta membawa botol dan gunting kecil sebagai alat praktik.

Anggrek phalaenopsis tumbuh subur dan berbunga secara normal

Anggrek phalaenopsis tumbuh subur dan berbunga secara normal

Karya lain yang cukup menarik ialah tempat pensil terbuat dari kertas koran. Mula-mula Rizal merendam kertas koran itu dalam larutan lem kanji dan menggulung kecil-kecil sepanjang 8—10 cm. Agar lebih menarik, gulungan dibungkus dengan kertas kado. Bahan itu kemudian dibentuk menjadi wadah pot atau tempat pensil yang dijual Rp10.000 per buah. Rizal beralih membuat partisi gantung di atas. Alat yang digunakan pun tetap sama, gunting kecil atau pisau, dan solder.

Baca juga:  Dua Winas Panen Teratas

Permintaan ekspor

Sebelum memanfaatkan botol dan kertas koran, Rizal Djaafarer memproduksi pot berbahan sabut kelapa. Di wadah itu anggrek tumbuh dengan baik. Akar-akarnya keluar melewati celah antarkulit sehingga kokoh berpegang. Setelah cukup umur, 12—16 bulan, anggrek pun bebunga. Penampilannya lebih atraktif karena terlihat natural. “Kreativitas itu sangat perlu bagi seorang interpreneur. Jadi bagaimana memberi nilai tambah dari produk yang diproduksi,” ujar alumnus Universitas Pendidikan Indonesia itu.

Haworthia kontras dengan wadah dari organisme

Haworthia kontras dengan wadah dari organisme

Rizal menggambarkan harga kaktus di pot mobil-mobilan Rp25.000t. Padahal, harga kaktus dengan ukuran sama maksimal Rp10.000. Nilai tambah bisa berasal dari kemasan, pelayanan, dan lain-lain. Yang menarik, produk itu tetap bertahan hingga kini. Sabut kelapa bertahan selama 10 tahun. Hingga kini permintaan wadah itu tetap datang. Bahkan Pada 2010 ada peminat dari Amerika Serikat yang memesan 1 kontainer 40 feet setara 10.000 buah. Namun, ayah 2 anak itu menolak permintaan itu karena tidak mempunyai tenaga kerja untuk menghasilkan produk.

Chyptanthus tampil apik di wadah keras koran

Chyptanthus tampil apik di wadah keras koran

Jangankan memenuhi permintaan ekspor, memenuhi permintaan 20—40 pot per pekan saja, Rizal kewalahan. Rizal memang belum mendidik pekerja untuk membuat pot itu sehingga ia sendiri yang mengerjakan. Selain itu bahan sabut pun tidak boleh sembarang. Ukurannya minimal sebesar kepala orang dewasa. Selanjutnya, kulit dari satu buah tidak boleh bercerai-berai, kulit terdiri dari 5 belahan.   Harga sebuah pot unik itu Rp35.000—Rp50.000.

Belum surut permintaan pot sabut, pria 62 tahun itu mengeluarkan pot sabut model baru, kulit kelapa model jabrik karena kulit terluar dibuang. Serat sabut kemudian diekspos dengan membuang serbuk sabutnya. Serat itu pun menyerupai rambut jabrik penyanyi rock gaek, Rod Stewart. Sebagai inovasi baru, Rizal memberikan harga lebih tinggi dari pot lama, Rp45.000. Cara pembuatannya mudah, yakni dengan mengupas dan menarik kulit luar dengan tang dan dijepit tipis.

Wadah botol bisa dijadikan partisi

Wadah botol bisa dijadikan partisi

Untuk memunculkan serat digunakan sikat kawat. Setelah serbuk terpisah, tinggal lah serat yang kemudian dirapikan dengan sisir kawat. Setelah sabut diikat kawat lalu diberi gantungan. Rizal memanfaatkan ilmu ikat-mengikat yang diperolehnya saat menjadi pramuka dahulu. di tangan Rizal dan Darmono jadilah limbah tampil atraktif. Mereka tidak membuang botol-botol itu atau membakar karena tidak akan terurai hingga 100 tahun. (Syah Angkasa)

Baca juga:  Pencetak Anthurium Kampiun

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d