Aksesori memanfaatkan barang bekas untuk memperindah desain suvenir.

Aksesori memanfaatkan barang bekas untuk memperindah desain suvenir.

Ragam inspirasi suvenir tanaman hias unik dan cantik.

“Wah cantik ya…,” ujar seorang perempuan sambil menunjuk sebuah suvenir yang terpajang di sebuah stan pameran di Jakarta pada 2016. Suvenir itu berupa gantungan kunci tabung kaca akrilik berukuran mini. Uniknya, di dalam tabung kaca itu terdapat tanaman sukulen crassula yang tumbuh pada media berupa lumut berwarna cokelat. Restu Amanda, pembuat suvenir itu, menjualnya Rp20.000—Rp50.000 per buah.

Gantungan kunci sukulen mini.

Gantungan kunci sukulen mini.

Harga itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan kaktus dan sukulen dalam pot yang hanya Rp3.000—Rp7.000 per pot. Kemasan unik dan menarik salah satu cara untuk mendongkrak harga. Ide itu yang terlintas dalam benak Restu saat menciptakan gantungan kunci unik itu. Semula ia hanya menjual karyanya ke teman-teman kuliahnya di Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB).

Lama-kelamaan, perempuan 25 tahun itu mendapat pesanan dari para sahabat dan warga Bogor, Jawa Barat, dan sekitarnya. Mereka memesan sukulen dan kaktus mini itu untuk hiasan, suvenir pernikahan, dan gantungan kunci. Saat ini industri suvenir tanaman hias berkembang menjadi sebuah industri kreatif. Para produsen suvenir berlomba-lomba menyajikan aneka tanaman dengan teknik dan cara penyajian yang unik.

Industri kreatif
Produsen suvenir tanaman hias di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Erik Ariyanto, memiliki tim desain khusus untuk berinovasi menciptakan rancangan-rancangan baru. “Terobosan baru merupakan cara agar konsumen tidak cepat bosan,” ujar Erik. Apalagi selera konsumen berbeda-beda. Pelanggan di Jakarta, misalnya. Mereka lebih suka suvenir dengan desain yang minimalis.

Desain unik miniatur taman menggunakan pot sabut kelapa.

Desain unik miniatur taman menggunakan pot sabut kelapa.

Berbeda dengan pelanggan asal Bali yang menyukai desain sarat seni. Salah satu rancangan Erik adalah suvenir yang memanfaatkan barang bekas seperti karung goni. Erik menggunakan karung goni itu untuk membungkus pot dengan aneka model pembungkusan. Doni Manaf memanfaatkan tabung reaksi yang selama ini identik dengan laboratorium untuk suvenir tanaman hias.

Baca juga:  Pro Kontra Diet Tinggi Lemak

Staf Desain dan Marketing Living With Lot of Flowers (LOF) itu mengisi tabung reaksi dengan air lalu menempatkan tanaman sirih gading di dalamnya. Sirih gading dapat tumbuh dengan baik meski media tumbuh hanya berupa air. Tabung reaksi berdiameter 2 cm itu ia gantungkan pada kerangka besi yang dirancang berbagai bentuk seperti segitiga, lingkaran, dan bujur sangkar. LOF menjual suvenir berwadah tabung reaksi itu dengan harga Rp50.000—Rp100.000.

Doni juga memanfaatkan lampu bekas sebagai wadah tanam. Ia menempatkan tillandsia dan menambahkan kerikil warna-warni sebagai aksesori di dalam wadah lampu. Ia meletakkan lampu pada kotak mika sehingga dapat menopang lampu dan dapat diletakkan di atas meja. Kreasi LOF lain yang tak kalah unik adalah tanaman yang tumbuh dalam pot yang terbuat dari serat sabut kelapa berbentuk bola. Pada permukaan pot dililitkan tali rami sebagai aksesori. Doni meletakkan pot sabut kelapa itu di permukaan papan kayu.

 Tabung reaksi menjadi wadah suvenir tanaman hias.

Tabung reaksi menjadi wadah suvenir tanaman hias.

Bingkisan
Produsen suvenir tanaman hias di Lembang, Hadi Nugraha, menyajikan suvenir tanaman hias dalam bentuk paket bingkisan yang terdiri beberapa jenis tanaman. Ia menanam aneka jenis kaktus dan sukulen berwarna-warni dalam wadah berbentuk hati yang terbuat dari kayu. “Dengan sedikit sentuhan seni dan kreasi nilai kaktus menjadi naik,” kata Hadi. Ia juga membuat bingkisan yang terbuat dari beberapa tanaman tilansia yang ditata membentuk miniatur taman di permukaan papan kayu.

Lampu bekas untuk wadah suvenir.

Lampu bekas untuk wadah suvenir.

Untuk memperkuat tema taman Hadi menambahkan aksesori seperti batu-batu putih, lumut, bunga palsu, dan miniatur kursi taman. Hadi juga tengah mempersiapkan kreasi suvenir berupa tanaman hasil kultur jaringan. Pada pertengahan 2018 mendatang ia berencana menjalin mitra bersama dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Erni Suminar S.P., M.Si., untuk mencetak bibit anggrek, pisang, dan aglaonema melalui kultur jaringan dalam botol mungil.

Beberapa tanaman kaktus dan sukulen dapat dikemas menjadi buah tangan dalam bentuk bingkisan.

Beberapa tanaman kaktus dan sukulen dapat dikemas menjadi buah tangan dalam bentuk bingkisan.

Pemerhati lingkungan di Kota Bandung, Jawa Barat, Sobirin Supardiyono, menilai positif tren suvenir tanaman untuk pernikahan. “Suvenir hijau saat pernikahan lebih bermakna daripada bentuk suvenir konvensional seperti selama ini,” ujarnya. Tren suvenir hijau juga dapat menyentuh kesadaran masyarakat karena pendekatannya personal. Namun, Sobirin berpendapat lebih baik kalau suvernirnya berupa bibit tanaman keras. Ia berharap suvenir itu ditanam sebagai bentuk balas jasa kepada bumi yang selama ini memelihara kita. Satu tanaman hidup sangat berarti untuk melestarikan bumi. (Tiffani Dias Anggraeni/Peliput : Marietta Ramadhani)

Baca juga:  Lovebird Tenang Ikuti Kontes

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d