Citarasa kopi spesialti sangat khas, di atas rata-rata kopi

Citarasa kopi spesialti sangat khas, di atas rata-rata kopi

Kopi rinjani menjadi kopi spesialti menyusul gayo dan toraja.

Masyarakat Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya sohor menjaga adat-istiadat seperti sedekah bumi. Desa itu juga penghasil kopi spesialti yang lezat, yakni kopi spesialti rinjani. Wilayah di kaki Gunung Rinjani itu menjadi sentra pengembangan kopi varietas arabika sejak empat tahun lalu.

Pemerintah Nusa Tenggara Barat juga mengembangkan kopi spesial varietas arabika di Tepal, pegunungan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa. Adapun Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima menjadi sentra kopi spesialti tambora. Para petani di dua sentra itu mengebunkan varietas robusta.

Untungkan petani
Istilah kopi spesialti atau specialty coffee adalah sebuah penilaian terhadap kopi dengan aroma dan rasa yang istimewa, di atas kopi rata-rata pada umumnya. Kopi spesialti merupakan kopi organik bercitarasa lokal yang khas dan berasal dari wilayah geografis tertentu yang membudidaya kopi rakyat dalam kurun waktu lama. Ciri lain kopi spesialti adalah dikembangkan di dataran bertinggian 800–1.500 meter di atas permukaan laut.

Area sentra pengembangan kopi spesialti biasanya memiliki 3—4 bulan kering. Di Indonesia keruan saja kopi spesialti harus lulus sertifikasi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Sementara itu sebuah kopi disebut sebagai specialty grade jika memenuhi persyaratan perkebunan dikelola dengan cara organik, petani hanya memetik buah kopi yang berwarna merah kemudian diproses menjadi green bean.

Syarat lain, total defect atau biji rusak kurang dari 4%. Dalam 1 kg green bean specialty coffee, total defect atau biji rusak tidak boleh lebih dari 40 g. Selain itu memiliki nilai cupping test lebih dari 80. Hanya kopi spesialti yang diolah dengan cara yang tepat dapat mendapat skor di atas 80. Intinya kopi spesialti adalah kopi kelas premium bercitarasa tinggi sehingga wajar harganya mahal.

Kopi spesialti hasil budidaya organik

Kopi spesialti hasil budidaya organik

Bagi petani jelas lebih menguntungkan menanam kopi spesial dibanding kopi biasa. Sebab, harga jual kopi spesialti lebih mahal daripada kopi biasa. Sebagai gambaran harga kopi spesialti mencapai Rp36.000 per kg; kopi biasa, Rp18.000 per kg. Namun, petani tentu saja dituntut memiliki sejumlah kecakapan teknis yang lebih untuk bisa mendapatkan hasil kopi spesial terbaik.

Baca juga:  Konsep Tiga Sejahtera

Harga kopi spesialti Indonesia mencapai rata-rata US$7—US$8 per pon atau tiga kali lipat dari harga jenis kopi biasa. Peluang pasar juga sangat terbuka karena hampir 99% kopi Indonesia merupakan produk ekspor. Sayangnya produksi kopi spesialti di dalam negeri masih rendah 500 kg per ha setiap tahun. Agar kopi rinjani sejajar dengan kopi gayo atau kopi jawa memang masih panjang.

Peringkat naik
Kualitas kopi rinjani juga diakui oleh peneliti berkualifikasi Q-grader dari Specialty Coffee Asociation of America (SCAA). Itu menjadi faktor pengungkit dan babak baru pengembangan kopi di Nusa Tenggara Barat. Pengembangan kopi spesialti di provinsi itu menjadi pintu masuk bagi masa depan kopi Indonesia. Sebab, harganya mahal dan pasarnya terbuka lebar.

Ketika lelang kopi nasional pada September 2014, kopi spesialti rinjani itu termasuk 30 besar nasional dari 144 peserta. Kopi rinjani meraih nilai 84,42 atau naik 4,42 poin dari pertengahan 2011—ketika itu meraih angka 80. Kopi sajang atau rinjani dan kopi tepal kini bersertifikat organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) Mojokerto, Jawa Timur.

Nusa Tenggara Barat memang agak tertinggal dalam pengembangan kopi spesial. Sumatera Utara lebih dahulu mengembangkan kopi mandailing, Aceh terkenal dengan gayo mountain coffee, Tanatoraja (toraja coffee), dan Jawa (java coffee dari Gunung Ijen Jawa Timur). Sementara kopi kintamani bali dan kopi manggarai dari Flores merupakan produk kopi spesialti yang belakangan terus berkembang.

Pemerintah Provinsi NTB giat mendorong percepatan penanaman kopi spesialti sejak 2010. Tiga lokasi dipilih sebagai sentra pengembangan kopi spesialti yaitu kawasan Rinjani di Lombok, kawasan Tepal dan Tambora di Pulau Sumbawa. Setidaknya 350 hektar lahan disediakan untuk proyek masa depan. Dalam lima tahun NTB memiliki kopi organik dengan citarasa khas.

Sembari terus memperbaiki kualitas mutu dan standar produksi agar pada rentang 5–10 tahun sesudahnya kopi organik dari Rinjani, Tepal, dan Tambora menjadi kopi spesialti yang mengisi pasar mancanegara. Pada pertengahan Agustus 2010, Gubernur M. Zainul Majdi dan Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Teguh Wahyudi menandatangani nota kesepahaman tentang pendampingan budidaya dan pemasaran kopi arabika di NTB.

Baca juga:  Minus Greenhouse

Peristiwa itu momentum penting bagi pengembangan kopi di NTB, serta menandai babak baru usaha budidaya kopi jenis organik yang sebelumnya kurang serius digarap pemerintah dan petani kopi di NTB. Kerja sama antara pemerintah Provinsi NTB dan Puslitkoka antara lain dalam bentuk mendorong sertifikasi organik dan penerapan teknologi sambung pucuk untuk meningkatkan produktivitas dan standar kualitas kopi.

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi

Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi

Luas potensi areal kopi di Nusa Tenggara Barat mencapai 36.000 ha. Pada 2012 luas lahan kopi baru 12.800 ha dengan total produksi 5.300 ton. Lebih dari separuh areal kopi itu tersebar di Pulau Sumbawa. Begitu juga dengan total produksi. Produksi kopi di Sumbawa hampir tiga kali lipat dari produksi di Pulau Lombok. Sentra budidaya dan produksi kopi di Pulau Sumbawa terutama berpusat di lingkar Gunung Tambora di Dompu dan Bima serta di dataran tinggi Tepal.

Menurut Gubernur Muhammad Zainul Majdi, potensi pengembangan kopi di Nusa Tenggara Barat cukup menjanjikan. Pemerintah menyadari budidaya kopi merupakan usaha perkebunan rakyat yang menopang hidup ribuan petani. Dukungan nyata untuk pengembangan usaha budidaya kopi menjadi kewajiban pemerintah. Diperlukan ikhtiar lebih keras dengan perencanaan yang lebih terukur untuk memastikan usaha budidaya kopi terus berkembang dan maju.

Pendekatan “pengembangan kawasan agribisnis” berbasis pedesaan menjadi roh dari cetak biru pengembangan kopi, yakni integrasi antara hulu, tengah, dan hilir. Tujuan utamanya adalah memastikan petani kopi menerima manfaat terbesar dari apa yang mereka usahakan. Cetak biru kebijakan dengan pendekatan pengembangan kawasan agribisnis terpadu.

Target pemerintah Nusa Tenggara Barat adalah meningkatkan produksi kopi 4% per tahun dari kondisi awal pada 2013 sebesar 4.302 ton. Artinya pada 2015 target produksi kopi 4.653 ton menjadi 4.839 ton (2016). Salah satu upaya untuk mencapai target itu adalah menerapkan teknik sambung pucuk untuk meningkatkan produktivitas dan standar kualitas kopi. Program rehabilitasi tanaman kopi melalui teknik sambung pucuk di lahan 405 ha. (Ir Acmad Sarjana, MSi, ketua Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya).

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d