Kopi Kampiun Asal Bandung 1

Kopi sunda typica asal Gunung Puntang menjadi juara di Atlanta, Amerika Serikat.

Tanaman kopi sunda-typica, jawara 1 SCAA di Atlanta.

Tanaman kopi sunda-typica, jawara 1 SCAA di Atlanta.

Buah kopi merah ranum itu menggelayuti setiap cabang pohon setinggi 1 meter. Itulah pembuahan perdana pohon varietas sunda typica berumur 3 tahun. Ayi Sutedja Soemali yang menanam 2.000 pohon sunda typica di lahan 2 hektare girang bukan main. Sebab, pada ajang kelas dunia Specialty Coffee Association of America Expo (SCAA) kopi dari kebun Ayi Sutedja meraih juara. Kopi itu meraih skor tertinggi, 86, 25.

Ekshibisi kopi Amerika Serikat merupakan perhelatan tahunan yang melombakan kopi-kopi terbaik dari seantero jagat. Pada 2016 acara itu berlangsung di Atlanta, negara bagian Georgia, Amerika Serika. Dalam ajang itu juri menilai citarasa dalam 9 kriteria, yaitu aroma, flavour, kenang rasa (aftertaste), keasaman atau acidity, body, uniformity, balance, clean cup, dan sweetness.

Budidaya organik
Para juri memberikan nilai 0—10 untuk setiap kriteria. “Nilai 6—6,75 tergolong baik, 7—7,5 sangat baik, 8—8,75 luar biasa, dan 9—9,75 istimewa,” papar Wildan Mustofa, petani kopi di Pangalengan, Provinsi Jawa Barat. Menurut Wildan hasil penilaian citarasa kopi dengan nilai 83,00 sudah menunjukkan kriteria luar biasa. Dengan citarasa luar biasa Wildan menjual kopi itu Rp100.000 per kilogram; kopi nonjuara hanya Rp60.000—Rp80.000 per kg.

Wildan Mustofa, 2 varietas kopi miliknya masuk nominasi 20 besar SCAA.

Wildan Mustofa, 2 varietas kopi miliknya masuk nominasi 20 besar SCAA.

Ayi Sutedja mengebunkan kopi sunda typica di kawasan Gunung Puntang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Ia memperoleh biji kopi dari Eko Purnomowidi, ahli sekaligus penikmat kopi asal Jakarta, pada 2011. Ayi menyemai biji itu hingga menjadi bibit kemudian menanamnya pada 2012. Petani sejak 2011 itu membudidayakan kopi sunda typica berjarak tanam 3 m x 3 m atau populasi rata-rata 1.000 tanaman per hektare.

Baca juga:  Nutrisi Demi Satwa Sehat

“Pertama kali tanam seluas 2 hektare. Kini ada bantuan dari investor sehingga meningkat menjadi 3 hektare,” kata alumnus Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, itu. Menurut Eko Purnomowidi kopi sunda typica asli asal Jawa Barat. Ia pertama kali melihat biji kopi ini pada sebuah pertemuan di Medan, Sumatera Utara, pada 2008.

Ayi Sutedja, petani kopi di Gunung Puntang, Banjaran, Kabupaten Bandung.

Ayi Sutedja, petani kopi di Gunung Puntang, Banjaran, Kabupaten Bandung.

Warna bijinya sama dengan kopi asal Pulau Sumatera, tapi bentuknya berbeda. Bijinya berwarna kuning kecokelatan, sedangkan bentuknya lebih lonjong dibandingkan dengan kopi sumatera. Ia mengetahui hal itu dari rekannya seorang eksportir kopi. “Saya terkesan dengan rasanya yang khas,” kata Eko. Penemuan biji kopi itu mengubah sudut pandang Eko mengenai sentra kopi.

“Semula saya mengira sentra kopi terbaik hanya di Pulau Sumatera dan Toraja, Sulawesi Selatan. Ternyata Jawa Barat pun memiliki sentra kopi berkualitas,” katanya. Eko bekerja sama dengan sukarelawan Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia (PGPI) untuk meneliti variasi kopi sunda di daerah Panawuan dan Gunung Puntang. Kedua wilayah itu merupakan areal perkebunan kopi pada masa penjajahan Belanda.

Eko mengatakan, “Kopi adalah tanaman yang memerlukan aklimatisasi minimal lima tahun dari introduksi, karena itu dicari tanaman yang adaptif di suatu daerah kemudian diperbaiki kualitasnya dengan seleksi.” Ia mengembangkan kopi sunda sejak 2008, kemudian memberikan benihnya pada Ayi untuk ditanam dan dikembangkan lagi. “Pekebun tidak akan menyesal menanam kopi ini, karena kualitasnya yang baik” ujar Eko. Ayi membudidayakan kopi sunda typica dengan cara organik. Ia tak pernah memberikan pupuk dan pestisida kimiawi. Hasil panen saat ini rata-rata baru 1—2 kg per pohon,” katanya.

Baca juga:  Aral Beternak Gabus

Terbaik

Kopi sunda-typica, proses pengeringan memakan waktu seminggu dalam naungan.

Kopi sunda-typica, proses pengeringan memakan waktu seminggu dalam naungan.

Pada ajang Specialty Coffee Association of America Expo (SCAA) itu 5 kopi asal Jawa Barat lainnya juga sukses meraih 20 peringkat terbaik. Salah satu kopi terbaik itu kopi mekarwangi. Wildan Mustofa membudidayakan kopi mekarwangi di Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Kopi yang meraih juara ke-2 itu adalah kopi varietas lini S-795.

“Varietas itu adalah varietas asal India yang terkenal rasanya enak,” kata Wildan yang menanam kopi berjarak 2 m x 2,5 m atau populasi rata-rata 1.500 tanaman per hektare. “Bibitnya saya dapat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember, Jawa Timur, dan dari Kintamani, Bali,” kata ayah 3 anak itu. Menurut Wildan hasil panen varietas lini tidak sebanyak kopi arabika sigararutang asal Sumatera Utara yang dikenal berproduktivitas tinggi.

“Jika hasil panen sigararutang rata-rata 1 ton green bean per hektare, maka hasil panen lini hanya setengah sampai dua per tiga hasil panen sigararutang,” tuturnya. Meski begitu, dari segi rasa varietas lini lebih unggul daripada sigararutang. Kopi dari kebun Wildan lainnya yang masuk 20 peringkat terbaik adalah andungsari weninggalih. Kopi itu menempati peringkat ke-17.

Kopi andungsari weninggalih berbuah lebat.

Kopi andungsari weninggalih berbuah lebat.

Tiga kopi asal Jawa Barat lainnya adalah malabar honey milik Slamet Prayogo (peringkat ke-4), java cibeber (Asep, peringkat ke-9), dan west java pasundan honey (Dedi Darmadi, urutan ke-11). Menurut Wildan Mustofa dataran tinggi di sekitar Priangan (Pangalengan, Sindangkerta, dan Ciwidey) segitiga emas bagi petani kopi spesialti. “Iklimnya mendukung untuk menjadikan kopi bercitarasa khas,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Wildan mengatakan, kopi yang ditanam di daerah Priangan matang pada suhu terdingin sehingga kualitasnya bagus. “Kopi arabika kualitas terbaik ditanam di Indonesia pada ketinggian 1.000—1.500 m di atas permukaan laut,” kata pemilik CV Frinsa Agrolestari itu. Itu terbukti pada ajang internasional SCAA pada 14—17 April 2016. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *