Manis, gurih, dengan sensasi pahit citarasa bekal juara.

Juara pertama, durian ilok  milik Selsius Ilok di kontes durian di Balaikarangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Juara pertama, durian ilok milik Selsius Ilok di kontes durian di Balaikarangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Ratusan orang hilir mudik di halaman kantor Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Mereka antusias menyaksikan lahirnya sang juara dalam kontes durian unggul yang diselenggarakan oleh Yayasan Durian Nusantara berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sanggau. Sejak pagi mereka berdatangan dan bertahan hingga pengumuman gelar juara.

Ada pula tamu undangan yang sengaja datang dari luar kota seperti Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Jayapura (Papua), Koba dan Jebus (Bangka Belitung), serta Depok dan Bekasi (Jawa Barat). Maklum, boleh dibilang kontes yang digelar setiap tahun di Desa Balaikarangan itu merupakan kontes durian bergengsi. Sebagian besar peserta merupakan durian berkualitas.

Juara
Walaupun kontes lokal panitia mendapuk juri bertaraf nasional untuk mencari sang juara. Mereka adalah Dr Moh. Reza Tirtawinata (ketua Yayasan Durian Nusantara), Karim Aristides (pengamat dan pemerhati durian nusantara), dan Tamron (pekebun durian pelangi dari Bangka). Koordinator pelaksana kontes, Hendro Suparman, menuturkan bobot dan ukuran buah bukan menjadi kriteria utama penilaian.

Durian juara harapan 2.

Durian juara harapan 2.

“Tim juri justru mencari durian berdaging buah tebal dengan rasa manis dan kombinasi pahit yang pas,” ujar Hendro. Penampilan buah seperti warna daging buah juga menjadi pertimbangan. Panitia mencatat ada 63 durian berkualitas yang turut serta meramaikan kontes. Mereka beradu rasa dan rupa demi predikat juara. Itu sebabnya, tim juri harus berjuang keras untuk memberikan penilaian bagi tiap durian peserta kontes.

Juara dua, durian bernomor urut 16  milik Niah di  Kecamatan Entikong.

Juara dua, durian bernomor urut 16 milik Niah di Kecamatan Entikong.

Setelah melalui penilaian yang ketat, juri sepakat menobatkan durian bernomor urut 35 sebagai juara. Jangan bayangkan sang juara bersosok besar. Durian bernama ilok itu hanya berbobot kurang dari 1 kg. Dr Moh Reza Tirtawinata menuturkan ilok layak juara lantaran memiliki rasa yang sangat memikat. “Cita rasa daging buahnya merupakan hasil kombinasi manis dan gurih, dengan sedikit sensasi pahit,” ujarnya.

Selsius Ilok semringah lantaran durian miliknya berhasil menyabet gelar juara.

Selsius Ilok semringah lantaran durian miliknya berhasil menyabet gelar juara.

Reza mengibaratkan kelezatan durian ilok bagai campuran susu kental manis dan madu. Keunggulan itu semakin bertambah dengan daging buah yang tebal, serta warna daging yang kuning cantik. Guru besar Jurusan Biologi, Universitas Negeri Semarang, Prof Dr Ir Amin Retnoningsih MSi, yang turut hadir sebagai tamu undangan pun satu suara dengan tim juri.

Baca juga:  Brutus dan Hurayra Terbaik

Amin menuturkan ilok boleh dibilang paket lengkap. “Daging buah tebal, sedangkan kulit dan bijinya tipis,” ujarnya. Ukuran buah yang mini menjadi nilai tambah bagi ilok. Sebab gaya hidup moderen membuat masyarakat lebih menggemari buah-buahan berukuran personal alias kecil. Soal citarasa, Amin memberikan dua jempol. “Kelezatan durian ilok nyaris sempurna,” ujarnya.

Berkat keunggulan itu ilok sukses mengalahkan pesaingnya. Sang empu, Selsius Ilok, tidak menyangka durian warisan leluhur itu bakal meraih gelar juara. Ilok, sapaannya, baru sekali ini mengikutkan duriannya di kontes. Ia tak berharap mendapat juara. Itu sebabnya, ia sangat bangga saat mendengar juri menabalkan durian ilok sebagai durian berperingkat paling atas. Ayah dua anak itu pun bertekad untuk menjaga dan merawat lebih baik pohon sang juara. Maklum, durian ilok berlokasi jauh dari kediamannya di Desa Batangtarang.

Dr Moh Reza Tirtawinata, ketua Yayasan Durian Nusantara, memberikan sambutan sebelum kontes dimulai.

Dr Moh Reza Tirtawinata, ketua Yayasan Durian Nusantara, memberikan sambutan sebelum kontes dimulai.

Alami
Ilok tak memberikan perawatan apa pun pada pohon berumur sekitar 40 tahun itu. “Pohon tumbuh alami tanpa pemupukan maupun pemberian nutrisi khusus,” ujarnya. Biasanya ia menjual seluruh durian hasil panenn secara borongan kepada pengepul setempat. Saat panen ia memetik 700 buah. Semula Ilok enggan mengikuti kontes, tetapi dorongan dari keluarga dan penyuluh pertanian setempat berhasil meluluhkan hati Ilok.

Juara tiga, durian bernomor urit 02 milik Beki di Kecamatan Entikong.

Juara tiga, durian bernomor urit 02 milik Beki di Kecamatan Entikong.

Akhirnya ia pun sukses membawa pulang uang tunai Rp4-juta. Di bawah ilok terdapat durian unggulan milik Niah bernomor urut 16 yang meraih juara kedua. Adapun durian bernomor urut 02 milik Beki meraih juara ketiga. Keduanya sama-sama berasal dari Kecamatan Entikong. Pemilik durian niah berhak menerima hadiah sebesar Rp3-juta, sedangkan pemilik durian beki Rp2-juta.

Durian juara harapan 1.

Durian juara harapan 1.

Menurut Reza keberadaan kontes merupakan cara untuk menyaring durian unggul di sebuah daerah, sekaligus meningkatkan nilai tambah. Dengan begitu pekebun lebih makmur dan sejahtera. Dengan kontes, pemilik juga diharapkan lebih peduli dengan pohon-pohon durian miliknya. (Andari Titisari)

Baca juga:  Durian Jiran Lezat Nian

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d