kondisi lahan pertanian indonesia

Lahan pertanian adalah sebidang tanah yang digunakan sebagai media budidaya tanaman atau peternakan. Lahan merupakan salah satu sumber daya utama pada usaha tani karena dalam proses budidayanya tanaman pasti membutuhkan tempat untuk tumbuh, baik berukuran luas ataupun sempit. Oleh karena itu kita perlu mengetahui kondisi lahan pertanian indonesia.

Secara umum di Indonesia, lahan pertanian dapat dibedakan menjadi lahan basah yang biasa berupa lahan sawah dan lahan kering yang biasa berupa ladang dan tegalan.

Keberadaan lahan pertanian akan menghasilkan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Indonesia yang memiliki tren pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan adanya pergeseran fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman maupun industri. Bagaimana kondisi lahan pertanian Indonesia saat ini?

Lahan Basah (Sawah)

Secara definisi, lahan sawah merupakan lahan pertanian yang berpetak-petak yang dibatasi oleh pematang/ galengan atau saluran untuk menahan/ menyalurkan air, lahan ini biasa ditanami tanaman padi. Lahan sawah meliputi sawah pengairan, tadah hujan, sawah pasang surut, rembesan, lebak dan lain sebagainya.

lahan basah,sawah
lahan basah/ sawah

Menurut data BPS (2015-2017) dan Kementerian ATR/BPN (2018-2019) Untuk Lahan Sawah, Indonesia memiliki total luas lahan sawah pada tahun 2016 seluas 8,18 juta hektar, lahan sawah ini terdiri dari lahan sawa irigasi seluas 4,78 juta hektar dan sawah non irigasi seluas 3,40 juta hektar. Luas tersebut mengalami penurunan di tahun 2019 sebesar 8.83% atau sekitar 723 ribu hektar.

Baca juga:  Berbagai Penemuan Untuk Meningkatkan Produktivitas Padi

Penurunan luas lahan sawah dapat terjadi karena adanya pembangunan infrastruktur, baik itu berupa pembuatan/ pelebaran jalan maupun pembangunan perumahan.

Penurunan luas sawah merupakan masalah serius, karena di-sawah-lah tumbuh tanaman yang menghasilkan makanan pokok penduduk Indonesia. Perlu diingat, bahwa peningkatan jumlah produksi pangan suatu wilayah sejalan dengan adanya peningkatan luas lahan dan produktivitasnya, begitupula sebaliknya.

5 provinsi dengan lahan sawah paling luas

Provinsi di Indonesia yang memiliki luas lahan sawah terbesar pada tahun 2019 adalah Jawa Timur dengan luas lebih dari 1.2 juta hektar, disusul Jawa Tengah dengan luas 1.04 juta hektar, Jawa Barat dengan luas 0,92 juta hektar, Sulawesi Selatan dengan luas 0,65 juta hektar dan Sumatra Selatan dengan luas 0,47 juta hektar.

provinsi dengan lahan sawah paling luas
5 Provinsi dengan lahan sawah paling luas tahun 2016 dan 2019

Mengapa kita perlu tahu provinsi mana yang memiliki luas lahan sawah terbesar? Karena disanalah pusat produksi padi nasional. Berikut data produksi padi untuk kelima provinsi diatas.

produksi padi
Produksi padi dari 5 provinsi dengan lahan sawah paling luas
tahun 2018

Produksi padi untuk provinsi Jawa Timur tahun 2018 adalah sebesar 10,20 juta ton, kemudian provinsi Jawa Tengan sebesar 10,49 juta ton dan provinsi Jawa Barat sebesar 9,64 juta ton. Produksi padi untuk provinsi Sulawesi Selatan tidak sebanyak ketiga provinsi sebelumnya, yakni sebesar 5,95 juta ton dan Sumatra Selatan hanya sebesar 2,99 juta ton.

20 Kabupaten/ Kota dengan lahan sawah paling luas

Luas lahan sawah suatu provinsi merupakan akumulasi dari luas masing-masing kabupaten/ kota tersebut. Sebagai contoh, provinsi Jawa Timur memiliki lahan sawah terluas adalah kabupaten Lamongan, sebesar 99.38 ribu hektar, diikuti dengan Bojonegoro sebesar 83,19 ribu hektar, lalu Jember 80,12 ribu hektar dan seterusnya.

Baca juga:  Anggur-anggur Baru Asal Ukraina

Berikut ini tabel dari 20 kabupaten/ kota di Indonesia yang memiliki lahan sawah terluas tahun 2019

No. Kabupaten/ Kota Luas Sawah (ribu Ha)
2016 2019
1 Banyuasin (Sumatera Selatan) 197.96 174.41
2 Indramayu (Jawa Barat) 115.83 122.92
3 Bone (Sulawesi Selatan) 112.33 117.84
4 Karawang (Jawa Barat) 95.87 101.96
5 Wajo (Sulawesi Selatan) 99.23 101.32
6 Lamongan (Jawa Timur) 83.60 99.25
7 Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan) 115.63 97.34
8 Grobogan (Jawa Tengah) 80.25 90.77
9 Subang (awa Barat) 84.36 90.53
10 Bojonegoro (Jawa Timur) 77.99 83.19
11 Jember (Jawa Timur) 78.41 80.12
12 Lampung Tengah (Lampung) 82.19 79.66
13 Barito Kuala (Kalimantan Selatan) 104.16 71.73
14 Blora (Jawa Tengah) 46.34 69.76
15 Banyuwangi (Jawa Timur) 52.04 68.09
16 Cianjur (Jawa Barat) 65.25 67.51
17 Tuban (Jawa Timur) 55.91 66.53
18 Cilacap (Jawa Tengah) 64.69 66.52
19 Kapuas (Kalimantan Tengah) 92.48 65.66
20 Brebes (Jawa Tengah) 61.76 65.10

Lahan Kering (Ladang dan Tegalan)

Dari data BPS, luas lahan kering Indonesia tahun 2016 jauh lebih besar dengan total 16,5 juta hektar. Luas tersebut terdiri dari lahan ladang 5 juta hektar dan lahan tegalan 11,5 juta hektar. Walaupun terlihat sangat luas namun total luas tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 17 juta hektar.

Lahan kering biasanya terbentuk karena topografi dan akses air yang sulit dan terbatas sehingga tidak cocok untuk ditanam padi yang identik membutuhkan banyak air.

Walaupun bahan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia adalah beras yang berasal dari lahan basah, peran lahan kering tidak kalah penting, yaitu menghasilkan produk hortikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan.

Baca juga:  Meningkatkan Produksi Kubis Hingga 50% Dengan Kelinci

Potensi lahan kering di Indonesia harus tetap diperhatikan dan dimanfaatkan, misalnya dengan inovasi pengaplikasian irigasi mikro dan biosilika.

Dalam hal mencukupi kebutuhan pangan yang terus meningkat, tantangan yang dihadapi pada masa yang akan datang tidak hanya terbatas pada upaya peningkatan produksi, tetapi juga harus mempertimbangkan keberlanjutan yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan.

Tantangan ini bisa dijawab dengan memanfaatkan lahan yang belum dimanfaatkan, baik lahan basah maupun lahan kering untuk kegiatan pertanian produktif.

Referensi: Publikasi Statistik Lahan Pertanian, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian 2020