Komunitas Belajar Akuaponik Indonesia memiliki 3.600 anggota yang tersebar di berbagai kota di tanah air.

Ketika akhir pekan rumah Kaftaru Fiscer di daerah Citayam, Kota Depok, Jawa Barat, hampir selalu ramai oleh kunjungan para tamu. Mereka adalah para anggota komunitas Belajar Akuaponik Indonesia (BAI) yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Para tamu itu datang untuk berdiskusi soal budidaya sayuran dan perikanan dengan teknik akuaponik.

Kaftaru bersama rekannya, Abdi Halim Munggaran, mendirikan komunitas Belajar Akuaponik Indonesia (BAI) pada Februari 2015. Menurut Kaftaru komunitas itu berdiri untuk mewadahi masyarakat yang ingin belajar akuaponik. Halim menuturkan para anggota BAI berasal dari berbagai latar belakang. “Semua yang ingin belajar berawal dari hobi, dan ingin memperoleh manfaat dari akuaponik,” katanya.

Antusiasme anggota

Menurut Halim dalam komunitas Belajar Akuaponik Indonesia semua anggota sama, tidak ada yang merasa lebih senior atau lebih ahli. “BAI terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar akuaponik. Setiap pertanyaan yang masuk ke dalam forum pasti segera ditindaklanjuti,” kata Halim.

Menurut Kaftaru komunitas BAI berawal dari kegemarannya berhidroponik pada 2013. Pada tahun yang sama ia bersama Halim juga membudidayakan lele di kolam terpal. Kemudian ia mencoba menyiramkan air dari kolam lele itu ke tanaman cabai yang dibudidayakan dalam di polibag.

“Ternyata tanaman pun bisa hidup dan berbuah,” ujar Kaftaru mengenang. Melihat hasil itu ia pun segera membuat sistem akuaponik sederhana untuk membudidayakan aneka jenis sayuran seperti kangkung, selada, dan cabai.

Baca juga:  Mengenal Kegiatan Fitoremediasi

Menurut Kaftaru pada dasarnya sistem akuaponik mirip hidroponik. Namun, pada akuaponik menggunakan jasa ikan untuk menghasilkan nutrisi bagi tanaman. Nutrisi itu berasal dari sisa metabolisme ikan. Selain pertemuan rutin, Kaftaru jug amenjembatani pertemuan para anggota di dunia maya.

Eceng gondok yang ditanam di Gemilang Farm, merupakan sistem akuaponik alami, adanya simbiosis mutualisme antara tanaman dan ikan.
Eceng gondok yang ditanam di Gemilang Farm, merupakan sistem akuaponik alami, adanya simbiosis mutualisme antara tanaman dan ikan.

Pada Februari 2015 Kaftaru membuat grup di media sosial dengan nama Belajar Akuaponik Indonesia. Di dalam grup itu ia rutin berbagi informasi tentang perkembangan hasil percobaan sistem akuaponik sederhana miliknya.

Kehadiran grup BAI di media sosial ternyata disambut antusiasme para pehobi. Buktinya ketika Kaftaru menyelenggarakan pelatihan akuaponik pada April 2015 diikuti hingga 35 peserta.

Salah satu pesertanya, Sondy Novianto, mengatakan bahwa BAI adalah komunitas yang sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

“Kadang di komunitas yang sudah banyak pakar, para pehobi baru yang ingin belajar justru malu jika ingin mengajukan pertanyaan yang mendasar. Namun, di BAI setiap pertanyaan yang mendasar sekalipun respons dari para anggotanya selalu cepat dan ramah,” kata Sondy.

Barang bekas

Halim menuturkan, tidak ada pakem yang mengikat dalam berakuaponik. “Tidak ada batasan dalam berakuaponik. Semua tergantung kreativitas, semua bisa memodifikasi sistem. Yang penting komponen utama seperti sistem budidaya ikan, saringan, dan budidaya tanaman harus ada jika ingin melakukan budidaya akuaponik,” kata Halim. Menurut Kaftaru kelebihan sistem akuaponik adalah banyaknya komoditas yang bisa dipanen.

Kaftaru Fiscer menggunakan stirofoam bekas untuk rakit apung.
Kaftaru Fiscer menggunakan stirofoam bekas untuk rakit apung.

“Para pemain akuaponik kadang ada yang lebih mengutamakan ikan saja, tanaman saja, bahkan intensif untuk keduanya,” kata pendiri Gemilang Farm itu. Menurut Kaftaru keunggulan sistem akuaponik nyaris tanpa limbah.

Apakah akuaponik mahal? “Jika semua serba baru tentunya menjadi mahal, seperti bak, saringan, dan komponen-komponen kecil lainya. Itu bisa disiasati dengan menggunakan barang bekas,” kata Yuli Aki, anggota BAI asal Jakarta.

Baca juga:  Kisah Sukses Gapoktan Sidorejo Kembangkan Usaha Pembibitan Sapi

Menurut Yuli komponen seperti bak ikan bisa diganti dengan bak mandi atau drum bekas yang dibelah menjadi dua. Contoh lain mengganti media tanam hidroton—sebutan media tanam yang terbuat dari butiran tanah liat—dengan bata merah yang dihancurkan.

Seiring dengan bertambahnya anggota komunitas BAI, maka semakin banyak pula permintaan pelatihan akuaponik.

Saat ini BAI tengah fokus merancang sistem akuaponik yang tidak bergantung pada tenaga listrik. “Para anggota BAI sedang mencari solusi sumber energi lain agar pompa tetap hidup meski tanpa listrik,” kata Halim. Salah satunya Rico.

Saat ini ia tengah merancang sistem akuponik yang dapat mengalirkan air kolam tanpa bantuan listrik, tapi menggunakan konsep kapilaritas. “Tapi masih dalam tahap uji coba,” kata pria yang juga gemar memelihara ikan koi itu.

Pengurus dan anggota Belajar Akuaponik Indonesia, dari kiri Abdi HM, Yuli Aki, Kaftaru F, Rico, Fairus F, Sondy N, Musyafak, dan Cahya.
Pengurus dan anggota Belajar Akuaponik Indonesia, dari kiri Abdi HM, Yuli Aki, Kaftaru F, Rico, Fairus F, Sondy N, Musyafak, dan Cahya.

Menurut Kaftaru konsep dasar dari BAI adalah kekeluargaan. “Para anggota dan pengurusnya tidak ada yang bersaing, tapi justru saling melengkapi,” kata pria asal Yogyakarta itu. Kaftaru berharap di masa mendatang BAI dapat menginspirasi para petani di tanahair untuk mengembangkan sebuah sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan.

“Akuaponik adalah sebuah sistem yang ramah lingkungan. Hasil panen baik ikan maupun tanamannya aman dan berkualitas,” ujar Kaftaru.

Tentang Komunitas BAI

Nama:
Belajar Akuaponik Indonesia
Berdiri:
Februari 2015
Pendiri:
Kaftaru Fiscer & A Halim Munggaran
Subkomunitas:
Terbagi menjadi 9 subkomunitas di Surabaya, Cilegon, Jabodetabek, dan Balikpapan.
Visi:
Mewadahi kegiatan edukasi akuaponik.
Misi:
Percontohan kegiatan budidaya pertanian modern yang sehat dan ramah lingkungan.***

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d