Klinik Hortus Medicus: Cek ala Barat, Resep Timur 1
Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus dikunjungi 300 pasien setiap hari.

Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus dikunjungi 300 pasien setiap hari.

Semakin banyak rumahsakit yang meresepan herbal berkhasiat kepada pasien.

Wulan Juliasari—nama samaran—kerap merasakan tengkuknya tegang. Semula Wulan menduga tengkuk tegang akibat kelelahan. Ia pun menambah waktu beristirahat. Berselang dua pekan gejala itu tak kunjung hilang sehingga ia mendatangi sebuah klinik untuk memeriksakan diri. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan seperti tes darah yang menunjukkan kadar kolesterol Wulan di atas normal.

“Saya lupa berapa kadar kolesterol saya saat itu,” kata perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu. Dokter lantas menyodorkan selembar kertas resep. Wulan lalu menuju apotek di ruangan lain. Setelah 1 jam menunggu petugas memanggil namanya. Petugas memberitahukan Wulan secara detail cara mengonsumsi obat, frekuensi konsumsi, dan dosisnya. Musababnya resep yang diberikan berupa simplisia kering tanaman obat.

Meniran salah satu tanaman obat yang digunakan untuk mengatasi hipertensi dan asam urat.

Meniran salah satu tanaman obat yang digunakan untuk mengatasi hipertensi dan asam urat.

Ratusan pasien
Tempat Wulan berobat pun bukan klinik biasa. Ia memilih Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, untuk mengobati penyakitnya. Menurut Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT), Indah Yuning Prapti SKM MKes, awalnya klinik itu berdiri karena banyaknya masyarakat sekitar yang meminta tanaman obat.

Semakin lama banyak masyarakat yang datang memanfaatkan tanaman obat milik balai. Indah khawatir lama-kelamaan koleksi tanaman obat semakin berkurang. Alasan lain berdirinya klinik karena banyak pengobat tradisional asing yang menggunakan herbal yang belum teruji khasiatnya. Saat pengobatan berbahan kimia tidak berhasil, banyak pasien yang beralih ke penyembuhan dengan tanaman obat.

Petugas memasukkan simplisia kering tanaman obat ke dalam kantong kertas.

Petugas memasukkan simplisia kering tanaman obat ke dalam kantong kertas.

Oleh karena itu, pada 2007 Indah mendirikan klinik penelitian dan pengembangan obat herbal di lingkungan BBPPTOOT. Pada awal berdirinya klinik beragam masalah mencuat. Beberapa pegawai menyangsikan keputusan Indah mendirikan klinik. Dokter yang bekerja di klinik pun belum yakin khasiat jamu mengatasai penyakit. Indah lalu mengirim sang dokter ke Korea Selatan untuk mengikuti kursus singkat seputar penggunaan obat tradisional.

Baca juga:  Kuat Berkat Bulu Rapat

Indah bergeming dan tetap yakin dengan klinik herbalnya. Semula hanya 1—3 pasien yang datang ke klinik per hari. Namun, dari hari ke hari pasien bertambah banyak. “Kini 150 pasien mengunjungi klinik setiap hari,” kata alumnus magister bidang Epidemiologi Universitas Gadjah Mada itu. Ia mengatakan jumlah pasien bisa lebih tinggi lagi hingga 250—300 orang per hari.

Kebun produksi
Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 003 tahun 2010 tentang saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan semakin meneguhkan masuknya jamu ke dalam sistem kesehatan. Saintifikasi jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Oleh karena itu muncul beberapa klinik yang melayani saintifikasi jamu sesuai peraturan.

Indah Yuning Prapti SKM MKes, “Kami memiliki 1.200 spesies tanaman obat dari dalam dan luar negeri.”

Indah Yuning Prapti SKM MKes, “Kami memiliki 1.200 spesies tanaman obat dari dalam dan luar negeri.”

Pada prinsipnya klinik itu memadukan cara barat yakni dalam mendiagnosis pasien sekaligus model timur dalam pemberian resep berupa tanaman obat. Jamu yang diresepkan berasal dari ramuan yang digunakan masyarakat secara turun- temurun. Ramuan terbukti empiris itu diteliti melalui serangkaian uji ilmiah. Mulai dari uji keamanan, mutu, dan khasiat melalui riset praklinis (pada hewan uji) dan klinis (pada manusia).

Jaminan keamanan dan mutu jamu didukung dari cara pembuatan simplisia yang baik, standardisasi benih/bibit, budidaya, panen, dan pascapanen serta analisis mutu di Laboratorium Terpadu BBPPTOOT. Bahan baku resep klinik yang berlokasi di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu, berasal dari kebun produksi seluas 21 ha.

“Di kebun kami terdapat sekitar 1.200 spesies tanaman obat asli Indonesia serta introduksi dari negara-negara Eropa dan Tiongkok,” ujar Indah. Petugas memanen tanaman obat sesuai keperluan. Petugas lalu memisahkan hasil panen dengan kotoran lalu mencucinya. Setelah itu penirisan hasil panen hingga tanaman obat tidak terlalu basah. Proses selanjutnya perajangan hasil panen agar pengeringan lebih cepat.

Baca juga:  Agave Elok Incaran

Pengeringan menggunakan sinar matahari langsung dan ruangan khusus yang dilengkapi oven. Setelah kering petugas menyortir kembali beragam tanaman obat itu. Kemudian petugas mengemas dan melabeli tanaman obat itu sesuai dengan spesies lalu menyimpannya di tempat khusus yang higienis.

Teruji klinis
Ketika ramuan di klinik berkurang, apoteker mengajukan permohonan ke petugas gudang untuk meminta herbal tertentu. BBPPTOOT juga menerima pasokan tanaman obat dari sekitar 50 petani binaan di Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah), Kabupaten Sragen (Jawa Tengah), dan Kabupaten Magetan (Jawa Timur). Petani binaan mesti menerapkan cara budidaya sesuai standar BBPPTOOT.

Tujuannya agar kualitas hasil panen bermutu. Koordinator Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus dr Danang Ardiyanto mengatakan terdapat 5 ramuan berbeda yang masing-masing terbukti secara empiris dan ilmiah manjur mengatasi hipertensi, asam urat, osteoarthritis, hemorrhoid, dan dispepsia.

dr Danang Ardiyanto meresepkan tanaman berkhasiat obat kepada pasien.

dr Danang Ardiyanto meresepkan tanaman berkhasiat obat kepada pasien.

Ramuan selain untuk dispepsia masing-masing berisi rimpang temulawak, kunyit, dan meniran serta herbal lain. Untuk ramuan hipertensi Danang menambahkan daun seledri, daun kumis kucing, dan daun pegagan. Pasien asam urat mendapatkan herbal lain seperti kayu secang, daun tempuyung, dan daun kepel. Sementara rumput bolong, daun pegagan, dan daun kumis kucing untuk pasien osteoarthritis.

Danang juga mencampur daun ungu, daun duduk, dan daun iler sebagai ramuan pasien hemorrhoid. Herbal untuk pasien dispepsia meliputi daun sembung, kayu manis, rimpang kunyit, dan jintan hitam. Pasien yang telah memperoleh resep, tinggal mengolahnya. Ia mendidihkan 5 gelas air dengan api sedang lalu masukkan sepaket ramuan. Setelah itu tunggu 5—15 menit dengan api kecil hingga air tersisa 3 gelas.

Dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu menganjurkan pasien menggunakan wadah terbuat dari tanah liat karena suhu stabil. Ia melarang pasien menggunakan wadah dari aluminum karena suhu sangat cepat naik. “Padahal terdapat zat aktif tertentu yang rentan terhadap perubahan suhu,” kata Danang.

Indah berharap pada 2017 berdiri Jamu Research Hospital (Rumahsakit Riset Jamu). Selain itu ia juga bermimpi membangun Istana Jamu yang menampilkan aneka jamu dari semua daerah di Indonesia. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *