Kondisi peternakan sapi di Kudus, Jawa Timur memperoleh angin segar baru-baru ini. Populasi sapi yang meningkat secara signifikan dan para peternak pelan-pelan menjadi lebih sejahtera.

Tentunya itu semua tak terlepas dari perkembangan peternak serta tumbuhnya kesadaran pengetahuan di antara warga di sana. Usaha pembibitan sapi yang menjadi cikal bakal pengembangan peternakan sapi pun turut berkembang dengan sendirinya seiring waktu berjalan.

Nah, jika kita bicara tentang peternakan sapi di Kudus dan usaha pembibitan sapi di Kudus, tentu saja tidak bisa melewatkan nama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidorejo yang berdiri di Desa Jati Wetan. Di sana banyak peternak yang berhasil melanjutkan hidup berkat mengembangkan bibit sapi.

Bahkan, berkat kerja keras berbagai anggotanya, Gapoktan Sidorejo berhasil meraih gelar sebagai Gapoktan Berprestasi Tingkat Nasional dan juara lomba ternak sapi bibit. Atas dasar itu tidak heran jika usia Gapoktan tersebut berhasil memasuki usia yang cukup panjang, 11 tahun.

Masiran merupakan Ketua Gapoktan Sidorejo tersebut. Ia dengan kerja kerasnya dapat memimpin kelembagaan petani dari berbagai kelompok tani. Hasilnya juga berbuah manis.

Selain bisa meraih berbagai gelar, Masiran juga berhasil membawa Gapoktan Sidorejo mengikuti berbagai kegiatan untuk pengembangan usaha pembibitan sapi ke depan.

Berkat tangan dingin Masiran, pelatihan dan bimbingan dari penyuluh pertanian lapangan, para anggota Gapoktan Sidorejo dapat kesempatan studi banding ke berbagai daerah. Otomatis, segala seluk beluk usaha pembibitan sapi dapat dikuasai para anggota.

Masiran yang berusia 49 tahun ini memang senang berbagi ilmu. Lambat laun populasi di lingkungan sekitar Gapoktan Sidorejo pun meningkat. Pada April 2014 populasi sapi di sana telah mencapai 80 ekor.

Peningkatan populasi sapi di sana otomatis mendorong tingkat perekonomian warga menjadi lebih baik. Para anggota Gapoktan Sidorejo kini dapat menyekolahkan anak, merenovasi rumah, atau menyelenggarakan pernikahan anak dari hasil menjual sapi peliharaannya.

Adapun harga seekor sapi biasanya dijual antara Rp 7,5 hingga Rp 15 juta per ekor tergantung jenis dan kondisinya. Biasanya juga para bakul langsung  datang ke kompleks kandang ternak di Gapoktan Sidorejo.

Dengan demikian, tidak hran jika para peternak di Gapoktan tersebut tidak perlu repot-repot membawa sapinya ke pasar ternak atau tempat lain untuk ditawarkan.

Masiran sendiri sebagai Ketua Gapoktan Sidorejo telah memiliki enam sapi, lima kerbau dan sebidang sawah yang ditanami padi. Ke depannya, ia bahkan telah merencanakan mengembangkan komoditi pertanian dan perkebunan lain, yakni usaha penanaman pisang kepok yang diintegrasikan dengan budidaya lele serta nila.

Masiran lalu mengharapkan para peternak di daerahnya terus menjaga keberadaan Gapoktan Sidorejo. Sebab, banyak manfaat yang dapat dirasakan jika telah bergabung ke dalam suatu kelompok. Apalagi baru-baru ini populasi ternak yang cukup besar menjadi peluang yang masih bisa dimanfaatkan sebagian besar warga.

Budi Santoso, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Kudus, mengatakan peluang usaha ternak sapi masih terbuka sangat luas di Kudus. Pasalnya kebutuhan daging sapi di Kudus selama ini masih disangga oleh daerah-daerah lain seperti Boyolali dan Pati.

Keberadaan Gapoktan Sidorejo yang berhasil mengembangkan usaha pembibitan benih sapi merupakan contoh nyata akan keberadaan petani teladan di Indonesia. Dengan Masiran sebagai ketua, mereka terus bekerja keras tak kenal lelah untuk memajukan dunia pertanian di sekitar tempat tinggalnya.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m