Buah-buah jawara Lomba Buah Unggul Nusantara tersebar di seluruh pelosok tanahair.

Mangga arumanis juara pertama Lomba Buah Unggul Nusantara.

Mangga arumanis juara pertama Lomba Buah Unggul Nusantara.

Ia datang bukan yang pertama, melainkan kedua. Mangga arumanis bernomor peserta 02 itu bercitarasa manis dan segar. Tingkat kemanisan mencapai 13° briks. Tingkat kemanisan mangga di pasaran rata-rata 10° briks. Daging buah berwarna jingga menyala dan cukup tebal. Bobot rata-rata 600 gram per buah. Dari bobot itu, persentase buah yang dapat dimakan sebanyak 60,4%.

Jeruk batu 55 juara pertama kategori jeruk manis.

Jeruk batu 55 juara pertama kategori jeruk manis.

Itu modal arumanis koleksi Mohammad Herdadi W.A. untuk menyingkirkan 19 rival di kelas mangga saat perhelatan Lomba Buah Unggul Nusantara 2016. Penampilan dan rasa sang rival pun tidak kalah sohor. Beberapa di antaranya gedong gincu, lazis zidan, cengkir, dan agrimania. Agrimania menjadi yang terbaik ketika LBUN 2012—2013.

Pasok swalayan
Kelebihan arumanis milik Herdadi itu mencuri perhatian dewan juri yang akhirnya sepakat mendaulatnya menjadi juara pertama LBUN. Arumanis itu memperoleh total nilai 80,42. Sejak awal mengikuti kontes buah skala nasional, pehobi di Kecamatan Pondokaren, Kota Tangerang Selatan, Banten, yakin buah koleksinya bakal meraih juara. Lantaran memiliki citarasa dan penampilan prima, Herdadi mudah menjual mangga itu ke swalayan.

Mohammad Herdadi W.A pemilik mangga juara pertama.

Mohammad Herdadi W.A pemilik mangga juara pertama.

“Berapa pun jumlahnya pasar swalayan menerima,” ujar Herdadi. Ia membanderol Rp40.000 per kilogram. Sebelum memasok ke swalayan, ia menjual arumanis itu ke pengepul. Satu kilogram buah dihargai Rp15.000. “Saya kira Rp15.000 sudah kemahalan,” kata pria berkacamata itu. Tidak jarang pengepul memborong hasil panen Herdadi. Pengepul itu pun rela menyewa taksi untuk mengangkut hasil panen karena tidak cukup dibawa pakai motor.

Panen mangga Herdadi memang melimpah. Panen pada 2016, ia memetik 270 kilogram dari sebuah pokok yang tumbuh di halaman depan rumahnya. Dari hasil penjualan itu ia mengantongi Rp9-juta. Sayang, panen arumanis musim ini relatif sedikit karena pengaruh musim hujan. Pada panen sebelumnya ia memetik 350 kilogram sehingga mengantongi Rp14-juta dari hasil penjualan mangga.

Indukan pohon mangga arumanis itu tumbuh di halaman rumah Herdadi. Pohon berumur 31 tahun itu tumbuh subur. Daunnya rimbun dengan percabangan ranting cukup banyak. Saking rimbunnya, ranting-ranting pohon itu melebar ke rumah tetangga Herdadi. Meski ranting itu berasal dari pohon induk di tempatnya, tetapi Herdadi rela mengganti dengan sejumlah biaya.

Para pemilik buah pemenang LBUN 2016.

Para pemilik buah pemenang LBUN 2016.

Sebab ia khawatir jika pertumbuhan pohon mangga akan mengganggu tetangga. Tepat di bawah tajuk pohon Herdadi sengaja meletakkan tangga dari papan. Besi yang terpasang pada atap rumah menopang papan untuk memudahkan memetik buah ketika panen. Karena citarasanya yang enak, Herdadi pernah menerima tawaran untuk mencangkok pohon koleksinya itu dan dihargai Rp1,5-juta.

Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata (kanan) memverifikasi calon pohon pemenang.

Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata (kanan) memverifikasi calon pohon pemenang.

Namun, ia menolak. “Saya takut pohon menjadi merana,” kata pria berusia 68 tahun itu. Herdadi menceritakan pohon mangga koleksinya itu berasal dari cangkok. Di kediaman mertuanya yang berlokasi di Pulomas, Jakarta Timur, tumbuh pohon mangga yang bercitarasa enak. Ia pun mencangkoknya, menanam, dan merawat dengan sepenuh hati hingga pohon itu pun tumbuh dengan baik.

Baca juga:  Ekshibisi Satwa Klangenan

Madu deli hijau
Banyaknya pengepul yang mencari dan pasar swalayan yang menerima berapa pun jumlah panen Herdadi bukti jika mangga arumanis itu memang jempolan. Wajar jika para juri sepakat menobatkan mangga milik pria ramah itu sebagai jawara kategori mangga. Pada kategori mangga, arumanis menjadi yang terbaik. Buktinya mangga arumanislah yang menyabet juara pertama hingga ketiga.

Arumanis milik Ibrohim meraih peringkat kedua pada kategori mangga, sedangkan mangga milik Nor Huda juara ketiga. Kedua kampiun buah anggota keluarga Anacardiaceae itu berasal dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lomba Buah Unggul Nusantara melahirkan jawara-jawara unggul di berbagai kelas. Selain mangga, panitia juga membuka kategori jambu air, avokad, dan jeruk manis.

Pemenang pertama kategori avokad.

Pemenang pertama kategori avokad.

Jambu madu deli milik Sunardi meraih juara pertama kelompok jambu air. “Jambu madu deli hijau memiliki rasa dan tekstur buah istimewa. Dengan perawatan yang minim pun tetap bagus hasilnya,” kata pekebun di Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, Sumatera Utara, itu. Sesuai dengan namanya, kulit buah jambu itu berwarna hijau mengilap. Citarasa buah anggota famili Myrtaceae itu renyah dan semanis madu.

Pengukuran dengan refraktometer membuktikan, tingkat kemanisannya mencapai 11° briks, jambu-jambu di pasaran hanya 5—8° briks. Bobot per buah 143 gram. Porsi buah yang dapat dimakan besar, mencapai 95%. Selain itu buah juga produktif. Pada umur tiga tahun (penanaman secara tabulampot) mampu menghasilkan 16 kilogram per tahun. Jambu madu deli hijau lain koleksi Andy Roza dari Deliserdang, Sumatera Utara, meraih juara kedua.

Presiden Joko Widodo mencicipi jeruk batu 55 pemenang LBUN.

Presiden Joko Widodo mencicipi jeruk batu 55 pemenang LBUN.

Jambu milik Andy mendapat nilai 76,89 selisih 3,09 poin dari juara pertama. Adapun jambu kalampok milik Patrawi dari Sumenep, Provinsi Jawa Timur, meraih juara ketiga. Sementara itu jeruk keprok batu 55 milik Eko Santoso di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, meraih juara pertama kategori jeruk. Citarasa batu 55 manis menyegarkan dengan tingkat kemanisan 11° briks.

Warna kulit dan daging buahnya jingga. Buah berdiameter 7 cm itu berbobot 141 gram. Sementara bagian buah yang dapat dimakan mencapai 71,63%. Menurut juri LBUN, Tatang Halim, jeruk pemenang pertama berkulit ari sangat halus. “Saking halusnya, kulit ari bisa dimakan bersama daging tanpa mengganggu kenikmatan mencicipinya,” ujarnya. Pohon jeruk batu 55 milik Eko berumur 7 tahun.

Baca juga:  Keprok Batu Juara Satu

Ia membudidayakan tanaman anggota Rutaceae itu di lahan 1,5 ha berketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Populasi 700 pohon. Pekebun 24 tahun itu mampu memetik 40 kilogram buah per pohon setiap musim. Total kontestan jeruk manis mencapai 27 peserta. Itu artinya jeruk batu 55 milik Eko menyingkirkan 26 kontestan lain dari Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bandung, dan Garut.

Perbanyak bibit

Pohon induk juara kedua jeruk berlokasi di dekat rawa.

Pohon induk juara kedua jeruk berlokasi di dekat rawa.

Lomba Buah Unggul Nusantara melahirkan empat kategori buah juara, yakni jambu air, avokad, mangga, dan jeruk manis. Majalah Trubus menyelenggaraka LBUN bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Institut Pertanian Bogor. Tujuan LBUN untuk mencari buah terbaik dari seluruh pelosok negeri. Pelaksanaan lomba berlangsung selama Januari—Oktober 2016.

Pelaksanaan lomba cukup panjang waktunya itu karena masa panen buah di tanahair tidak serentak. “Kita memberi kesempatan kepada peserta dari seluruh pelosok agar dapat mengirimkan buah,” ujar Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata, manajer LBUN. Dengan masa kontes yang panjang masyarakat dapat mempersiapkan tanaman agar kualitas buah maksimal. LBUN 2016 penyelenggaraan kesepuluh.

Andy Roza dari Deliserdang, Sumatera Utara, pemilik juara kedua jambu air.

Andy Roza dari Deliserdang, Sumatera Utara, pemilik juara kedua jambu air.

Pada perhelatan LBUN kali ini dewan juri berasal dari Kementerian Pertanian, Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB, pelaku usaha, Trubus, dan juru masak internasional. Panitia membuka 14 kategori buah, antara lain durian, pisang, dan pala. Dari 14 kategori buah total keseluruhan peserta mencapai 120. Para peserta lomba berasal dari pehobi, pekebun, lembaga pemerintah, perusahaan, hingga taman buah.

Dari seluruh kelompok buah, berdasarkan keputusan dewan juri, panitia hanya memberikan pemenang pada empat kategori, yaitu avokad, jambu air, mangga, dan jeruk manis. Sementara sepuluh kategori buah yang lain tidak memenuhi kuota minimal 10 peserta dalam satu kategori. Itulah sebabnya panitia tidak memberikan gelar pemenang pada kategori itu. Walaupun hanya empat kelas yang menghasilkan juara, kualitas para juara itu jempolan.

Sebelum menentukan para pemenang, panitia melakukan verifikasi pohon induk calon pemenang. “Verifikasi salah satu tahapan yang sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan,” ujar Reza. Perwakilan dari juri dan panitia datang ke lokasi pohon buah calon pemenang, kemudian melakukan identifikasi. Setelah yakin pohon itu yang menghasilkan buah peserta kontes, panitia melangsungkan rapat penentuan pemenang.

Nanas bogor memiliki tingkat kemanisan hingga 140 briks, sayang jumlah peserta tidak memenuhi kuota minimal.

Nanas bogor memiliki tingkat kemanisan hingga 140 briks, sayang jumlah peserta tidak memenuhi kuota minimal.

Panitia mengumumkan pemenang LBUN itu pada acara Fruit Indonesia 2016 pada 17 November 2016 di parkir timur Senayan, Jakarta Pusat. Presiden Joko Widodo menghadiri acara itu. Pada kesempatan itu presiden mencicip jeruk keprok batu 55 pemenang pertama di kategori jeruk manis. Presiden berpesan agar panitia melanjutkan perhelatan LBUN menjadi lebih besar.

Bekerjasama dengan Direktorat Benih Hortikultura panitia LBUN berencana memperbanyak bibit para pemenang. Panitia akan bekerja sama dengan pemilik pohon dan Dinas Pertanian setempat memperbanyak 1.000 bibit untuk masing-masing pohon. Bibit itu lalu disebar ke daerah sekitar pohon induk. Dalam kurun 3—4 tahun mendatang buah akan berproduksi. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Syah Angkasa dan Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d