Tingkat kelulusan hidup gabus hasil pemijahan lebih tinggi daripada hasil tangkapan alam.

Tingkat kelulusan hidup gabus hasil pemijahan lebih tinggi daripada hasil tangkapan alam.

Gabus memijah 3 kali setahun berkat pemberian pakan bernutrisi lengkap.

Gabus salah satu komoditas ikan air tawar bernilai ekonomis tinggi. Harga Channa striata sekitar Rp60.000—Rp75.000 per kg terdiri atas 5 ikan. Sementara harga 1 kg terdiri atas 10 ekor rata-rata Rp50.000—Rp60.000. Meski potensial, peternak gabus menghadapi beragam kendala antara lain pemijahan untuk memperoleh benih. Harap mafhum pemijahan ikan gabus musiman, yaitu sekali setahun dan pada musim hujan.

Dampaknya waktu penyediaan benih sangat singkat. Kini pemijahan gabus tidak hanya setahun sekali. Tim peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, mampu memijahkan induk gabus 3 kali setahun dengan sistem pemijahan alami. Peningkatan frekuensi pematangan gonad memanfaatkan pakan lengkap nutrisi dan manajemen pemberian pakan.

Tiga kali

Pakan bernutrisi lengkap memicu induk gabus memijah lagi empat bulan pascakonsumsi.

Pakan bernutrisi lengkap memicu induk gabus memijah lagi empat bulan pascakonsumsi.

Komposisi pakan itu yakni kadar air (6,76%), protein (36,12%), lemak (3,17%), abu (10,27%), serat kasar (4,79%), dan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BENT) (45,65%). Peternak dapat membeli pakan itu di toko pakan ikan. Pemberian pakan empat kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore, dan malam. Ikan gabus termasuk hewan nokturnal atau aktif pada malam hari sehingga pemberian pakan juga dilakukan saat malam. Justru saat malam ikan itu aktif beraktivitas.

Dosis pakan 5% dari total bobot ikan. Misal sepasang induk berbobot 2 kg, maka pakan yang didapat 0,1 kg per hari. Empat bulan pascakonsumsi gonad matang dan ikan siap memijah lagi. Agar pemijahan berhasil, pastikan ukuran induk gabus sama untuk menghindari perkelahian. Jika induk dari hasil tangkapan alam, pelihara ikan selama 3 bulan sebelum pemijahan. Tujuannya agar ikan gabus beradaptasi dengan lingkungan baru dan mengurangi stres.

Baca juga:  Ikan Gabus Atasi Hipertiroid

Sebab stres mempengaruhi tingkat kematangan gonad. Lazimnya ikan siap pijah berumur satu tahun atau berbobot 200 g untuk jantan dan 250 g untuk betina. Sistem pemijahan bersifat semialami menggunakan bak fiber berbentuk silinder bervolume 500 liter air. Sebaiknya kedalaman air 70—100 cm. Bagian teratas bak ditutup jaring agar ikan tidak melompat. Letakkan juga eceng gondok dengan tutupan 50% dari luas permukaan air. Induk gabus meletakkan telur di pangkal tanaman air itu.

Produk hormon gonadotropin untuk memijahkan gabus.

Produk hormon gonadotropin untuk memijahkan gabus.

Tanpa eceng gondok kualitas air menurun sehingga tête de serpent strié —sebutan ikan gabus di Perancis itu—berpotensi mati. Eceng gondok Eichhornia crassipes berperan sebagai filter biologis yang mengurai amonia dan tempat berlindung. Setiap bak berisi satu pasang induk yang terdiri dari satu jantan dan satu betina. Sebab ikan gabus bersifat teritorial sehingga harus terisolasi. Pengecekan kematangan gonad setiap 2—3 pekan dengan kateter.

Jika tingkat kematangan gonad (TKG) mencapai 4 maka ikan siap memijah. Cirinya jika telur dikeluarkan dan diberi air akan terpencar dan tidak mengumpul. Jika gonad sudah matang, suntik induk dengan hormon gonadotropin berdosis 0,6 ml per kg bobot tubuh dan cairan infus sehingga bervolume 1 ml agar lebih encer. Para peternak mudah mendapatkan produk hormon itu di pasaran. Tanda perilaku memijah yaitu induk jantan berkejaran dengan betina.

Gabus tidak memijah sekaligus (partial spawning) karena mempunyai dua kantong telur. Jadi ikan sumber albumin itu akan memijah 2—3 kali dalam interval waktu tak menentu. Satu induk betina berbobot 0,5 kg menghasilkan 15.000 telur. Selang sepekan, berikan pakan bernutrisi lengkap selama 4 bulan dan siap memijah lagi. Cara itu memudahkan peternak memperoleh benih gabus tanpa tergantung tangkapan alam dan musim pemijahan.

Letakkan eceng gondok sebagai media gabus menaruh telur.

Letakkan eceng gondok sebagai media gabus menaruh telur.

Daya tetas telur berkisar 60—75%. Jumlah itu lebih rendah daripada daya tetas hasil tangkapan alam yang mencapai 70—85%. Meski begitu peternak dapat memijahkan gabus 3 kali dalam setahun sehingga tetap lebih untung. Itulah upaya untuk memperpendek waktu pemijahan. Untuk ikan-ikan yang sudah didomestikasi sempurna (dibudidayakan), rematurasi dilakukan dengan memanfaatkan hormon yang meningkatkan proses sintesis vitelogenin dan penyerapannya oleh sel telur.

Baca juga:  Seleksi Dini Demi Mutu

Ketersediaan benih
Manipulasi hormon itu melalui suntikan dan implantasi hormon. Tujuannya mengganti sinyal lingkungan sebagai tanda pematangan gonad. Gabus masih dalam proses terdomestikasi sempurna sehingga cara budidayanya masih terus dipelajari. Dengan upaya itu ikan gabus mampu tiga kali memijah per tahun sehingga ketersediaan benih pun mencukupi. Harap mafhum kebutuhan ikan gabus kian meningkat.

Ikan predator itu menjadi bahan makanan tradisional di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan. Masyarakat juga mengonsumsi gabus untuk penyembuhan luka pascaoperasi karena mengandung albumin. Ikan konsumsi itu dan kerabatnya termasuk hewan dunia lama, yakni genus Channa dari Asia dan Parachanna dari Afrika. Di Indonesia, gabus tersebar di barat garis Wallacea yaitu Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Pastikan ukuran induk gabus seragam untuk menghindari perkelahian.

Pastikan ukuran induk gabus seragam untuk menghindari perkelahian.

Kini ikan anggota famili Channidae itu juga menghuni kawasan Indonesia bagian timur karena introduksi oleh masyarakat. Gabus berhabitat di perairan tenang seperti danau dan rawa, bahkan perairan payau. Ikan air tawar itu pun mampu hidup di perairan ekstrim atau anaerobik karena memiliki sistem pernapasan tambahan (diverticula). Gabus bersifat bentopelagis dan berkembang baik pada pH 7—8 dengan kedalaman perairan 1—2 m serta bersuhu 23—27°C.

Mayoritas masyarakat memperoleh gabus dari hasil tangkapan alam, baik ukuran konsumsi atau benih. Jika tidak ada upaya budidaya, ikan karnivora itu terancam punah. Buktinya terdapat penurunan populasi dan ukuran gabus di alam karena eksploitasi berlebihan dan kerusakan habitat alami. Kini masyarakat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mulai membudidayakan ikan yang diidentifikasi naturalis Jerman, Marcus Elieser Bloch, itu.

Baca juga:  Udang Vannamei: Panen Besar si Kaki Putih

Membudidayakan gabus menguntungkan karena ukuran per individu besar yaitu minimal 250 g/ekor. Makin besar bobot, harga semakin mahal. Jumlah telur gabus pun cukup tinggi (5.000 telur dari induk betina berbobot 250 g), kebiasaan makan omnivora, dan mutu daging yang digemari masyarakat terutama di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. (Adang Saputra, peneliti ikan gabus dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Bogor)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d