Kilat Potong Kentang 1
Mesin pemotong kentang berkapasitas 100 kg/jam

Mesin pemotong kentang berkapasitas 100 kg/jam

Alat pemotong umbi praktis dan efisien: 100 kg per jam.

Pengusaha katering di Depok, Jawa Barat, Eliani Suryana girang mendapat pesanan katering menu kentang lada hitam pada Desember 2013. Untuk menyiapkan menu itu, ia membutuhkan 8 kg kentang sebagai bahan baku. Untuk memasak kentang memang mudah, apalagi ia sudah lebih dari 5 tahun menjalani profesinya itu. Namun, “Proses pemotongan kentang cukup lama,” ungkapnya.

Eliani membutuhkan waktu 80 menit untuk memotong kentang  menjadi irisan berukuran 5 cm x 1 cm. Proses itu dilakukan seorang tenaga kerja dengan pisau. Padahal, Eliani dituntut kerja cepat. Sebab, ia juga harus menyiapkan menu pendamping lain seperti ayam rica-rica dan pindang ikan patin.

Sederhana

Kini Eliani tak perlu repot untuk memotong umbi Solanum tuberosum  menjadi irisan berbentuk korek api. PT Bahagia Jaya Sejahtera di Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendesain alat pemotong kentang seperti yang Eliani butuhkan. Cara kerja mesin sederhana. Pekerja tinggal menghidupkan mesin, masukkan umbi kentang yang sudah bersih ke tabung silinder (hopper inlet). Kemudian pekerja menekan menggunakan kayu. Dari hopper uotlet yang berupa balok itu akan keluar kentang yang sudah terpotong-potong menyerupai korek api.

Penggunaan mesin meningkatkan nilai jual kentang

Penggunaan mesin meningkatkan nilai jual kentang

Keistimewaan lain, “Proses pemotongan lebih cepat, rata, dan seragam,” ujar Surizal, direktur PT Bahagia Jaya Sejahtera. Ketebalan potongan yang diinginkan bisa diatur. Rizal menjelaskan, dengan menggunakan alat itu ketebalan umbi dapat diatur sesuai kebutuhan, 3—6 milimeter. “Jika ingin menghasilkan potongan yang lebih tebal tinggal ganti mata pisau saja,” ungkapnya. Sementara untuk panjang potongan tergantung dari panjang bahan yang dimasukkan.

Mesin terbuat dari besi nirkarat (stainless steel) sehingga tampak kokoh. Bobot mesin itu 30—50 kg, dengan tinggi 90 cm, panjang 60 cm, dan lebar 55 cm. Bagian atas berbentuk silinder. Sementara di bagian bawah berbentuk kubus dengan empat kaki sebagai penopang. Mesin menggunakan tenaga listrik berdaya 2.200 watt. Kapasitas potongan yang dihasilkan 100 kg/jam.

Baca juga:  Malaria Tertusuk Duri

Untuk memaksimalkan hasil pemotongan, mesin itu dilengkapi beragam  komponen. Di antaranya, pisau, pemutar piringan, motor penggerak, dan kayu sebagai penekan. Selain memotong kentang, alat itu juga dapat memotong umbi-umbi lain seperti wortel Daucus carota, ubi jalar Ipomoea batatas, ataupun singkong Manihot esculenta.

Selain kentang, mesin juga dapat memotong wartel

Selain kentang, mesin juga dapat memotong wartel

2 in 1

Selain sebagai pemotong umbi, mesin itu juga dapat berfungsi sebagai pemarut kasar ubi jalar atau singkong. Ketebalan parutan yang dihasilkan 1 mm. Cara pemakaiannya mudah. Pekerja hanya membuka penutup, melepaskan baut, lalu mengganti mata pisau menjadi  parutan. Dengan berbagai keunggulannya itu, Rizal memasarkan mesin itu dengan harga   Rp6,5-juta—16-juta, tergantung kapasitas mesin.

Menurut Hari Baker, konsultan pertanian di Lampung, mesin pemotong kentang merupakan terobosan yang bagus. “Pemakaian mesin pemotong dapat meningkatkan nilai jual kentang,” ujar alumnus rekayasa genetik Universitas Yokohama, Jepang. Penggunaan mesin itu juga membantu pengusaha jasa boga memperingan pekerjannya.

Hari menambahkan, penggunaan mesin untuk pengolah bahan makanan harus berbahan besi nirkarat. Tujuannya agar lebih higienis dan tidak berkarat. Toh bahan itu juga  tahan hingga puluhan tahun. Asal dibersihkan setelah penggunaan.

Rizal menjelaskan, perawatan mesin itu cukup mudah. Selesai pemakaian, bersihkan alat itu dengan mengolesi minyak di bagian yang terkena umbi. Lalu, lap menggunakan kain kering. Tujuan pengolesan minyak, “Menghilangkan getah umbi yang menempel pada mesin,” ujarnya. Getah umbi yang menempel menyebabkan mesin berkarat. Dengan cara itu mesin tahan lebih dari 10 tahun. (Desi Sayyidati Rahimah)

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *