Mesin Pengupas Kedelai

Mesin Pengupas Kedelai 1

Mesin memisahkan kulit ari dari biji kedelai. Kulit ari yang terkupas mengambang di permukaan air. Membersihkan kedelai dari kulit ari hanya 30 menit. Kedelai terbelah sempurna dan tidak remuk.

Sujiana menancapkan steker ke stop kontak. Sesaat kemudian terdengar suara mesin, bersamaan dengan motor 300 watt berputar, menarik puli, dan menggerakkan mata kupas. Perajin tempe di Desa Jatimulyo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, itu mulai memasukkan biji kedelai Glycine max dalam corong pengumpan.

Benturan biji kedelai dengan mata kupas berulir menimbulkan bunyi gesekan, lalu biji kedelai berjatuhan dari corong keluar. Pemisahan 10 kg kedelai dari kulit ari hanya perlu waktu setengah jam, Padahal, sebelum menggunakan mesin itu, ia mengupas kulit ari kedelai dengan cara menginjak-injak.

Setelah merendam kedelai selama 12 jam, ia menempatkan kedelai dalam wadah kemudian menginjak-injak dengan kaki telanjang. Perlu waktu satu jam untuk mengupas 10 kg kedelai dari kulit arinya.

Irit

Selain perlu waktu lebih lama, membersihkan kulit ari secara tradisional dengan menginjak-injak juga memberikan hasil tak sempurna. Sebab, tidak semua kulit ari terkelupas. Padahal, kulit ari menyebabkan proses peragian tak sempurna. Dampaknya tempe kurang lembut.

Untuk memisahkan kulit ari yang terlepas, pada proses pembersihan berikutnya perajin kerap menyiramkan air. Akibatnya banyak kedelai hanyut sehingga mengurangi bahan baku dan jumlah produksi berkurang.

Mesin pengupas jenis screw hasilkan kedelai yang utuh dan mulus

Mesin pengupas jenis screw hasilkan kedelai yang utuh dan mulus

Sekarang ia tak perlu repot. Perajin tempe itu memanfaatkan pemisah kulit ari kedelai. Mesin bertenaga listrik itu ekonomis: dalam sebulan tagihan listrik Sujiana hanya berkisar Rp50.000, termasuk konsumsi energi rumah tangga.

Mula-mula Sujiana merendam kedelai selama 4 jam hingga mengembang. Setelah itu ia mengukus selama 30 menit dengan api sedang, merendam lagi selama 12 jam, lalu meniriskan. Kedelai yang sudah tiris dimasukkan ke dalam corong pengumpan di mesin pemisah itu, sambil ditekan menggunakan kayu untuk memperlancar jatuhnya biji ke dalam rumah poros ulir.

Baca juga:  Tanaman Rosella Manfaat Dan Cara Budidayanya Baca Di sini

Kedelai tanpa kulit ari kemudian keluar lewat ujung poros ulir bagian depan dan diarahkan ke bawah menyamping, selanjutnya ditampung dalam sebuah bak berisi air.

Kulit ari kedelai yang sudah terlepas akan mengambang di permukaan air, sedangkan kedelai akan tetap berada di dasar bak. Pun begitu, Sudjiana masih tetap menyortir secara manual. Kedelai yang belum terkupas akan dipisahkan untuk digiling ulang.

Sudjiana lantas mengukus kedelai yang sudah terkupas itu selama 1 jam. Setelah kedelai dingin, ia memberi ragi. Terakhir, ia membungkus kedelai menggunakan daun pisang dan menyimpan. Dua hari kemudian, tempe siap jual. Dari 10 kg kedelai, Sudjiana bisa menghasilkan 200 bungkus tempe.

Menggunakan dana hibah program kreativitas mahasiswa bidang teknologi (PKMT), pada 2004 Mudjijana mengganti kotak luar dengan baja nirkarat dan menambahkan motor listrik sebagai penggerak. Motor listrik berkekuatan 0,5 tenaga kuda dengan putaran mesin 1.420 rpm dan konsumsi daya 300 watt.

Kapasitas alat mencapai 15 kg per jam. Mesin itu berukuran 0,51 m x 0,56 m x 0,7 m dengan bobot 75 kg. Itu 50% lebih ringkas ketimbang alat serupa sehingga tidak memerlukan tempat luas untuk mengoperasikannya.

Sistem cakram

Sujiana yang sejak 1973 membantu orang tua membuat tempe itu mendapatkan mesin pengupas kulit ari kedelai dari Ir Mudjijana, MEng. Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu mematenkan mesin tersebut pada Februari 2010.

Mudjijana menawari Sujiana, tetangga sekampung Mudjijana, untuk memanfaatkan mesin itu. Ide pembuatan mesin berasal dari mahasiswa, yang pada 2003 merancang mesin serupa. Desain awal menggunakan engkol manual, kotaknya pun hanya berbahan kayu.

Cukup 30 menit untuk kupas 10 kg kedelai

Cukup 30 menit untuk kupas 10 kg kedelai

Lazimnya mesin pengupas kulit ari kedelai menggunakan sistem cakram berputar dan pelat diam. Sementara mesin rancangan Mudjijana menggunakan poros berulir (screw) yang disambung dengan poros kedua. Di kedua ujung terdapat bantalan gelinding untuk mencegah keausan.

Baca juga:  Buah Delima Pelangsing Alami

Dengan poros berulir, kontak antara mata kupas dan rumah lebih lama. Dampaknya pengupasan kulit ari kedelai lebih halus dan mengurangi hancurnya kedelai saat penggilingan.

Kedelai bebas kulit ari membuat proses peragian menjadi tempe lebih sempurna

Kedelai bebas kulit ari membuat proses peragian menjadi tempe lebih sempurna

Selain mengupas kulit ari kedelai, mesin rakitan Mudjijana juga mampu membelah dua kedelai. “Uji coba menunjukkan 60% kedelai terbelah dua,” kata alumnus Tsukuba University, Jepang, itu. Kedelai yang terbelah dua meningkatkan volume tempe sehingga menguntungkan perajin.

Ukuran sedang menggunakan mesin berbahan bakar bensin, dengan konsumsi 0,68 liter per jam. Adapun ukuran besar menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar dengan konsumsi sebanyak 1,5 liter per jam. Mesin yang diproduksi PT Bahagia Jaya Sejahtera itu dipakai perajin tempe di banyak tempat, antara lain kota-kota di Jawa, Padang, Medan, Gorontalo, dan Jambi.

Dengan harga Rp5-juta—Rp15-juta pada 2013 permintaan mesin itu masih mencapai 120 unit per tahun.Di Bogor, Surizal dari PT Bahagia Jaya Sejahtera membuat mesin serupa sejak 2000. Prinsipnya serupa, menggunakan gesekan. Bedanya, ia menggunakan cakram alias batu giling pada poros gerak.

Bahagia Jaya membuat mesin dengan 3 variasi berdasarkan kapasitas produksi. Ukuran 30—50 kg, 100—200 kg, dan 200—500 kg. Setiap kapasitas menggunakan penggerak berbeda. Ukuran kecil menggunakan motor listrik berkekuatan 500—750 watt.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x