Big dorsal full red albino jantan (atas) dan betina, tren baru dorsal lebar

Big dorsal full red albino jantan (atas) dan betina, tren baru dorsal lebar

Gupyy paling baru bersirip dorsal lebar, bagai bendera berkibar.

Guppy Poecilia reticulata full red albino di akuarium berukuran 30 cm x 22 cm x 26 cm itu tampak mencolok berwarna merah solid. Apalagi sirip dorsal alias sirip bagian atas lebar melewati pangkal ekornya. Kibasan sirip dorsal ikan koleksi Hermanus J Haryanto, pehobi di Jakarta Barat, itu gemulai. Umumnya sirip dorsal guppy ramping memanjang. Ikan remaja berukuran 4 cm itu merupakan big dorsal full red albino.

Sirip dorsal lebar memang tengah menjadi tren baru guppy. Pehobi dari Bandung, Jawa Barat, Charlie Wijaya, yang rajin mengikuti perkembangan guppy jenis baru membenarkan adanya tren sirip dorsal lebar itu. “Pertama kali lihat langsung saat ada kontes di Malaysia,” ujar Charlie mengenang kejadian pada 2011 itu. Menurut pemilik 1.000 guppy itu, tren berlangsung di Asia. Eddy Tjahyono, pemilik Et Aquatic di Sidoarjo, Jawa Timur, mengatakan, “Tren sirip dorsal lebar dimulai sejak 2011.”

Green snake skin big dorsal, di tempat gelap, kilaunya makin terlihat

Green snake skin big dorsal, di tempat gelap, kilaunya makin terlihat

Penampilan baru

Eddy mengatakan pada kontes internasional yang diikuti 13 negara pada 2011 di Malaysia, guppy berdorsal lebar mendominasi juara kompetisi. Taiwan dan Thailand sejatinya banyak mengembangkan  guppy bersirip lebar. Perbedaannya menurut Eddy, ikan-ikan asal Thailand umumnya kurang stabil. “Anakannya kadang gado-gado,” katanya. Maksud Eddy ada anakan yang seperti induknya, ada yang berbeda. Itu lantaran negeri Gajah Putih meriis guppy berdorsal lebar lebih cepat ketimbang Taiwan.

Dalam setahun Thailand mengeluarkan jenis-jenis baru yang berdorsal lebar. Padahal, silangan baru guppy setidaknya baru stabil dalam 3 tahun untuk kemudian dilepas ke pasar. Sisi menariknya, ikan asal Thailand bercorak variatif dan relatif baru. Sementara Taiwan lebih mengembangkan jenis-jenis lama yang stabil. Mana yang lebih unggul? Menurut Eddy sangat tergantung pada preferensi pehobi, apakah berkiblat ke Taiwan atau Thailand.

Full red albino yang dikembangkan Hermanus memang bukan barang baru. “Full red memang jenis lama. Yang baru karena sirip dorsalnya lebar,” kata Hermanus. Jenis lainnya yang juga bersirip dorsal lebar yaitu green snake skin big dorsal dan blue grass big dorsal. Keduanya bukan jenis pendatang baru tetapi embel-embel big dorsal yang menjadikannya berpenampilan baru.

Baca juga:  Agar Mata Sehat

Sesuai namanya, snake skin bermotif seperti kulit ular. Kombinasi warna kuning, hijau toska, dan biru berpadu dalam kilau metalik. Dengan imbuhan dorsal lebar, otomatis belasan ikan ukuran 4—5 cm itu menarik perhatian ketika meliuk-liuk dalam akuarium. Jenis lain, blue grass memiliki sifat genetik menurunkan tiga jenis anakan yaitu blue grass seperti indukannya dan dua warna berbeda yakni red grass berwarna merah dan sky blue alias biru muda langit.

Blue grass big dorsal, hasilkan 3 varian warna

Blue grass big dorsal, hasilkan 3 varian warna

Harga tinggi

Hermanus memboyong sepasang indukan big dorsal full red albino dari ajang World Guppy Contest pada Juni 2013. Dalam pameran di Malaysia itu, jenis guppy merah solid bersirip lebar merajai kontes kelas dunia itu dengan menyabet gelar grand champion. Itu alasan kuat, Hermanus membeli sepasang indukan jenis yang sama. Mata albino turut digadang-gadang mendongkrak pamor ikan besutan penangkar Taiwan itu.

Dalam sebulan, sepasang indukan mulai menghasilkan anakan. Sayangnya, sekali bertelur hanya sekitar 20% yang berjenis kelamin jantan. “Dari 20 yang menetas, hanya 4 ekor yang jantan,” kata Hermanus. Begitu pula turunan kedua. Padahal yang bersirip cantik itu ikan jantan. Pantas bila akhirnya harga anakan berumur tiga bulan mencapai Rp500.000 per pasang.

Eddy juga membanderol harga tinggi untuk jenis big dorsal. Jenis big dorsal koleksinya antara lain blue tuxedo line A, german yellow albino big dorsal, mega dorsal yellow cobra, dan german yellow albino line B. Ia menetapkan harga  rata-rata Rp500.000—Rp700.000 per pasang. Namun, harga tinggi tak menyurutkan penggila guppy menambah koleksi.

Pehobii pemula di Makassar, Sulawesi Selatan, Rafly, kepincut membeli sepasang german yellow albino big dorsal lantaran kemolekan siripnya. “Baru pertama kali beli sirip dorsal, bagus,” kata pria pemilik 30 guppy itu. Setidaknya ia mengeluarkan Rp2-juta untuk membawa 2 pasang ikan berwarna paduan perak dan kuning ke kota Angin Mamiri itu.

Kolektor lain, Hermanto di Cirebon, Jawa Barat, rela membayar hingga Rp5-juta demi menambah koleksi si dorsal lebar. Charlie memilih ikan big dorsal jenis snake skin, full red, dan blue grass sebagai pelengkap koleksi 8 jenis guppy penghuni akuariumnya. “Anggun dan menarik,” katanya. Para pehobi gandrung guppy meski kontes di tanahair jarang. “Untuk 2014, baru kontes-kontes lokal seperti di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Februari 2014 dan Maret 2014 di Pekalongan,” kata Eddy yang juga menjabat sebagai pengurus Guppy Club Indonesia.

Baca juga:  Terbaik di Kota Pahlawan

Menurut pehobi di Bogor, Jawa Barat, Andree Gunawan, dalam lima tahun terakhir pehobi atau kolektor ikan mendominasi pasar guppy. Jumlah mereka lebih banyak daripada para penangkar. Hanya penangkar lama yang setia membiakkan jenis-jenis baru. Meski demikian hal itu tidak menyurutkan pehobi guppy untuk memburu jenis baru yang kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pehobi dan penangkar guppy mancanegara.

Pasalnya, International Fancy Guppy Association (IFGA), perkumpulan pehobi dan penangkar guppy dunia—memiliki pedoman standar guppy yang dipakai dalam ajang kontes internasional. Namun, guppy sirip dorsal lebar belum termasuk dalam 12 jenis ikan yang tercantum pada standar IFGA. Kontroversi atau bukan, toh keindahan liukannya menyihir para pehobi guppy di tanahair. (Kiki Rizkika)

Endler, kerabat guppy yang lebih mini

Endler, kerabat guppy yang lebih mini

Untuk pencinta ikan mungil, endler bisa jadi pilihan. Harga ikan koleksi Hermanus itu Rp250.000 per pasang. Ukurannya hanya 2 cm. Berbeda dengan guppy Poecilia reticulata yang dapat mencapai 4—5 cm. Nama endler berasal dari sang penemu Dr John Endler. John menemukan ikan yang populer disebut endler’s livebearer atau endler’s guppy itu pada 1975 di Laguna de Patos, timur laut Venezuela, Amerika selatan. Pada saat ditemukan pertama kali oleh Franklyn F. Bond pada 1937, spesies Poecilia wingei itu tidak begitu populer.

Betinanya hanya berwarna abu-abu atau hijau zaitun polos. Namun, sang jantan bisa memiliki double sword maupun bottom sword tail atau top sword tail yang indah dengan perpaduan warna tubuh jingga, hitam, dan kuning. Jenis ikan itu mudah berkembang biak terutama dalam kondisi air hangat sekitar 24—27C. Pakan endler antara lain cacing sutra, daphnia Daphnia sp, maupun baby brine shrimp. Sifatnya yang kerap melompat mengharuskan pemilik menutup akuariumnya bila tak ingin si kecil lolos. (Kiki Rizkika)

 

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d