Laju konversi lahan pertanian produktif ke nonproduktif antara lain untuk perumahan 80% terjadi di Pulau Jawa

Laju konversi lahan pertanian produktif ke nonproduktif antara lain untuk perumahan 80% terjadi di Pulau Jawa

Pemilihan bibit unggul, mengendalikan hama, dan penggunaan mekanisasi strategi mengamankan produksi padi nasional.

Produksi padi nasional naik dalam beberapa tahun terakhir. Menurut Badan Pusat Statistik produksi padi Indonesia pada 2014 mencapai 70 juta ton. Setahun berselang produksi meningkat menjadi 75 juta ton. Produksi kembali melonjak pada 2016, yakni 79 juta ton. Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional makin meningkat, yakni 80,08 juta ton pada 2018.

Meningkatnya produksi padi menjadi kabar baik bagi pertanian tanah air. Maklum, padi menjadi komoditas pangan andalan. Guna mendukung peningkatan produksi Oryza sativa itu pemerintah mengembangkan berbagai teknik dan inovasi seperti peluncuran varietas padi baru yang berproduksi menjulang atau tahan organisme pengganggu tanaman. Selain itu penggunaan pupuk, penanganan organisme pengganggu ataupun mekanisasi pertanian juga turut berperan.

Produksi padi nasional 79 juta ton pada 2016.

Produksi padi nasional 79 juta ton pada 2016.

Produksi tinggi
Dari sisi varietas baru contohnya, ada varietas Inpari 43 Agritan GSR. Varietas padi yang dilepas pada 2016 itu berpotensi produksi hingga 9,02 ton per hektare dengan rata-rata hasil 6,96 ton per hektare gabah kering giling (GKG). Inpari 43 Agritan GSR memiliki tekstur nasi pulen. Kelebihan lain pada fase generatif varietas itu tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII.

Varietas baru itu juga tahan serangan blas daun ras 073 dan 0133. Varietas itu cocok dikembangkan di lahan berketinggian 0—600 meter di atas permukaan laut (dpl). Faktor lain yang berpengaruh dalam produksi padi adalah penanganan organisme pengganggu tanaman seperti serangan wereng cokelat. Maklum wereng menjadi salah satu hama penting dalam budidaya padi.

Menurut ahli hama dan penyakit tanaman, Prof. Dr. Ir. I Djatnika, M.S., penanaman padi 3 kali dalam setahun tanpa pergantian komoditas lain menyebabkan hama wereng semakin mewabah. Penyebab lain, kebiasaan petani dalam mengaplikasikan pestisida. “Petani kerap memilih satu pestisida yang dirasa paling ampuh tanpa mengganti dengan pestisida lain,” kata Djatnika.

Baca juga:  Kelinci Tampil Prima

Efeknya, hama yang mampu bertahan saat penyemprotan pestisida akan semakin resisten terhadap pestisida itu. Sebab itu petani sebaiknya mengaplikasikan pestisida bervariasi secara bergantian. Itu juga dengan memperhatikan indikator berdasarkan bahan aktif dan cara kerja pestisida. Untuk mengatasi serangan hama, pilihan lain adalah penggunaan agen hayati yang lebih ramah lingkungan.

Menurut ahli penyakit hama dari Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor, Dr. Widodo MS, sebaiknya petani menggunakan agen hayati dan musuh alami terlebih dahulu untuk mengendalikan serangan wereng cokelat. Beberapa agen hayati untuk mengontrol wereng cokelat seperti kelompok fungi Beauveria basiana, Metarhizium anisopliae, dan Hersutela citriformis. Ketika agen hayati belum mampu mengendalikan hama itu, barulah mengaplikasikan pestisida.

Mekanisasi

Panen menggunakan mesin lebih menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya operasional.

Panen menggunakan mesin lebih menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya operasional.

Aplikasi mekanisasi pertanian turut mendorong peningkatan produksi padi. Penggunaan mesin panen misalnya, tingkat kehilangan hasil hanya 1%. Bandingkan dengan panen manual, tingkat kehilangan hasilnya lebih tinggi. Riset Valentinus I.W. Tandi Pondan dan Lady C. Ch. E. Lengkey dari Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi menyebutkan tingkat kehilangan hasil panen konvensional mencapai 12%.

Jika petani memetik 5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare, gabah yang hilang sebanyak 600 kg. Selain mengurangi tingkat kehilangan hasil, panen dengan mesin lebih menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya operasional. Itu persis pengalaman Ferry Setiawan di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ferry memanen padi di lahan seluas 5 hektare menggunakan mesin. Ia hanya membutuhkan 2—3 jam untuk memanen satu hektar padi.

“Panen padi di lahan seluas 5 hektar selesai dalam 14 jam,” kata Ferry. Tenaga kerja yang digunakan hanya 3 orang, satu orang sebagai pengendali kemudi, dua lainnya bertugas memasukkan gabah ke karung. Mesin pemanen padi itu memiliki kemampuan mengunduh gabah dari lahan seluas 0,3—0,62 hektar dalam waktu satu jam. Padahal sebelum menggunakan mesin itu Ferry membutuhkan 18—20 tenaga kerja selama 8 jam untuk memanen satu hektar lahan.

Baca juga:  Hitung Laba Lele

Tantangan

Tingkat kehilangan hasil panen manual mencapai 12%

Tingkat kehilangan hasil panen manual mencapai 12%

Meski produksi padi Indonesia mengalami peningkatan, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Menurut Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Pending Dadih Permana, yang disampaikan pada Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Expo 2017 ada beberapa hal yang menjadi tantangan menuju swasembada dan ketahanan pangan nasional.

Beberapa di antaranya jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pada 2016 jumlah penduduk Indonesia 255 juta jiwa. Rata-rata pertumbuhan penduduk Indonesia 1,5% per tahun. Jumlah penduduk yang makin besar membutuhkan bahan pangan yang mencukupi dan berkualitas. Rata-rata konsumsi beras 124 kilogram per orang per tahun. Jumlah itu setara 31,6 juta ton per tahun.

Sementara laju konversi lahan pertanian produktif ke nonproduktif di Indonesia tinggi, yaitu sekitar 100.000 hektare per tahun. Laju konversi lahan pertanian produktif ke nonproduktif itu 80% terjadi di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi padi. Sementara realisasi perluasan sawah baru hanya mencapai 273.000 hektare selama 2006—2013. Lalu bertambah 174.763 hektare pada 2014—2016.

Tantangan lain, ketersediaan tenaga kerja di bidang pertanian juga semakin terbatas. Minat generasi muda untuk berusaha tani masih rendah dan cenderung menurun. Hasil sensus pertanian 2013 mencatat jumlah rumah tangga pertanian di dominasi usia 35—64 tahun. Sebanyak 6,5 juta rumah tangga pertanian berada di usia 45—54 tahun. Sebanyak 6,3 juta rumah tangga pertanian dikelola usia 35—44 tahun.

Selain itu umur 55—64 tahun yang mengelola usaha tani sebesar 4,4 juta rumah tangga. Sementara pada usia 25—34 tahun hanya 2,9 juta rumah tangga. Meski beragam tantangan menghadang, bukan tidak mungkin Indonesia bakal berswasembada pangan. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d