Denih Sofiana meraup pendapatan puluhan juta rupiah dari usaha beternak lovebird.

Denih Sofiana meraup pendapatan puluhan juta rupiah dari usaha beternak lovebird.

Denih Sofiana

Semula sekadar hobi, kini Denih Sofiana menangkarkan lovebird berharga hingga ratusan juta rupiah.

Seratus juta rupiah. Itulah rekor penjualan lovebird paling fantastis bagi Denih Sofiana. Peternak lovebird di Cibogo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu sukses membidani lahirnya biola parblue euwing pada awal 2017. Puluhan pehobi baik dari dalam maupun luar negeri tertarik untuk meminang jenis lovebird baru itu. “Jenis biola parblue euwing masih sangat langka,” kata Denih.

Menurut Denih dirinya satu-satunya penangkar yang berhasil mencetak lovebird jenis itu di Indonesia, serta nomor dua di dunia. Penampilan biola parblue euwing memang istimewa. Berkepala kuning dengan punggung bergradasi warna biru. Indukan lovebird langka itu berasal dari biola jantan dan parblue betina. Nama Denih pun semakin moncer di kalangan pehobi lovebird.

Semula penggemar
Denih bertangan dingin menghasilkan lovebird berkualitas. Setiap tiga bulan pria berusia 28 tahun itu menjual sekitar 12 lovebird hasil tangkaran sendiri dan memperoleh pendapatan setidaknya Rp50 juta. Denih tidak serta-merta meraup pendapatan fantastis itu. Ia semula hanya sebatas penggemar burung elok itu pada 2007. Kebetulan lovebird sedang naik daun saat itu.

Sepasang indukan berupa violet dengan d green split biola blue koleksi Denih Sofiana.

Sepasang indukan berupa violet dengan d green split biola blue koleksi Denih Sofiana.

Kemolekan lovebird dan harganya yang relatif mahal membuat Denih tertarik. Pria yang menggemari olahraga futsal itu lantas rajin menyambangi kontes lovebird di beberapa kota. Hal itu ia lakukan untuk mengenal lebih dalam seluk beluk dunia lovebird. Ayah dua anak itu mengenali lovebird berkarakter juara dan segala macam perawatannya dari ajang kontes. Ia baru mulai serius beternak lovebird pada 2015.

“Beternak lovebird mendatangkan omzet besar sebab harga jual burung tinggi,” katanya. Boleh dibilang Denih tergolong penangkar pemula burung paruh bengkok terkecil itu. Sebelumnya ia menekuni hobi memelihara burung kicauan seperti jalak suren, murai batu, anis merah, kacer, dan kenari. Agar proses pembelajaran berlangsung cepat dan efektif, Denih lantas menjual 10 burung kicauan koleksinya.

Pada November 2015, ia menggunakan uang hasil penjualan Rp7 juta itu untuk membeli lovebird dari penangkar senior di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Denih mendapatkan sepasang indukan berupa albino jantan dan blue betina. Ia menempatkan sepasang lovebird itu di dalam kandang sederhana berukuran 60 cm x 40 cm. “Saya belum bisa memberikan kandang yang layak sebab masih awam. Modal juga sedikit,” kata Denih.

Denih Sofiana (kiri) menangkar lovebird sejak 2013.

Denih Sofiana (kiri) menangkar lovebird sejak 2013.

Suami dari Meka itu merawat lovebird perdananya dengan tekun. Setelah 7 bulan kedua indukan memasuki masa pendewasaan dan siap berpijah. Setelah induk betina mengerami selama 22 hari lima telur pun menetas. Denih lantas menjual seluruh piyik dengan harga Rp2 juta per ekor. Denih kembali menggunakan uang hasil penjualan itu untuk menambah koleksi indukan.

Baca juga:  Diet Pelangi Atasi Kanker

Tak tanggung-tanggung ia langsung membeli 10 lovebird. Padahal, saat itu ia belum mengetahui jenis kelamin lovebird yang dibeli karena masih berumur 3,5 bulan. “Saya nekat saja sebab transaksi jual beli lovebird sangat cepat,” katanya. Agar burung hidup nyaman, Denih membuat rak kayu untuk meletakkan kandang. Kandang dilengkapi dengan sebatang kayu agar burung bisa bertengger. Juga sarang berupa kotak kayu tempat betina bertelur dan mengeram.

Juara kontes

Anakan berjenis biola dark green.

Anakan berjenis biola dark green.

Setelah masing-masing indukan memasuki masa dewasa, Denih mengawinkan lovebird koleksinya itu. Ia mengawinkan pied dengan blue, green pied dengan blue, personatus parbule dengan blue, biola dengan blue, dan blue dengan d blue. Setiap pasang indukan menghasilkan 4 telur. Saat itu banyak sekali pehobi yang menawar. Beberapa pehobi bahkan sudah memberikan penawaran harga Rp4,5 juta per ekor.

Namun, Denih bergeming sebab ia tidak berniat untuk menjual, “Saya lebih senang menjual burung yang sudah makan biji dibandingkan dengan burung yang masih piyik,” katanya. Saat anakan berumur 3,5 bulan barulah Denih melepasnya. Anakan blue biasa tanpa blorok terjual Rp1,5 juta, sedangkan anakan pied dengan blue terjual Rp4,5 juta per ekor. Perniagaan itu mendatangkan pendapatan Rp18 juta.

Peternak muda itu lantas membelanjakan sebagian uang itu untuk membeli sepasang indukan yakni parblue dengan blue dari pehobi di Surabaya, Jawa Timur. Pada 2016 Denih tertarik dengan lovebird seri biola. Oleh karena itu, ia menjual indukan koleksinya, kecuali parblue dengan blue dan albino dengan blue. Dari hasil penjualan itu ia memperoleh pendapatan Rp40 juta.

Deretan kandang indukan.

Deretan kandang indukan.

Ia membelanjakan uang itu untuk membeli dua pasang biola, belanja perlengkapan kandang, dan alat transportasi. Sambil menunggu biola siap kawin, ia belajar ilmu genetika dan cara penyilangan yang baik dan benar. “Penangkar harus mengetahui kriteria indukan berkualitas, termasuk kejelasan gen, sehingga anakan yang dihasilkan pun bermutu,” kata Denih.

Baca juga:  Ramping Berkat Kemuning

Kebugaran indukan juga harus diperhatikan. Misalnya, burung jangan dikawinkan terus agar tidak cepat letih, tidak macet berproduksi, dan tidak menghasilkan telur infertil. Denih meletakkan seluruh lovebird koleksinya pada ruangan khusus yang dilengkapi dengan pangatur suhu dan kelembapan. Ia mempertahankan temperatur ruangan pada suhu 27—29° C, sedangkan kelembapan ruangan 60—70%.
Kepiawaian Denih mengamati lovebird berkualitas terbukti saat ia mengikuti kontes pertama kali pada awal 2016. Lovebird green betina klangenannya berhasil meraih juara pertama di kelas green fischeri pada kontes yang digelar di Tangerang, Provinsi Banten. Denih tidak menyangka lovebird berusia 1,5 tahun itu bisa meraih juara. Pasalnya, ia membeli burung itu dari kios biasa.

Pengontrol suhu dan kelembapan ruangan.

Pengontrol suhu dan kelembapan ruangan.

“Pemilik kios memberikan harga murah sebab ia hanya menganggap lovebird green itu seekor burung tua biasa,” kata Denih. Ia menduga klangenannya bisa merebut gelar juara lantaran berpenampilan besar dan prima. Sejak green meraih juara banyak pehobi yang menawar. Calon pembeli berani memberikan harga Rp10 juta hingga Rp15 juta. Namun, ia enggan menjual dan memilih untuk menangkarkan sang burung juara itu.

Telur menetas setelah induk mengeram selama 22 hari.

Telur menetas setelah induk mengeram selama 22 hari.

Ia mengawinkannya dengan jantan green umur setahun yang dibeli dari kios burung di Bogor, Jawa Barat. “Sejak ditangkarkan banyak pehobi yang bertanya apakah telurnya sudah menetas atau belum,” kata Denih. Pembeli bahkan ada yang rela inden. Saat indukan betina green menetaskan 4 anakan, smeua ludes dengan harga Rp4 juta per ekor. Selanjutnya pada pertengahan 2016 Denih memperoleh telur dari indukan biola.

Sepasang indukan koleksi Denih Sofiana berupa biola euwing split parblue dengan parblue.

Sepasang indukan koleksi Denih Sofiana berupa biola euwing split parblue dengan parblue.

Setiap pasang indukan menghasilkan 4 telur dan 3 telur. Ia menjual anakan yang sudah berumur 3,5 bulan pada kisaran harga Rp4 juta hingga Rp6 juta per ekor. Denih menuturkan penguasaan genetika sangat penting bagi penangkar untuk mencetak lovebird berkualitas. Misalnya perkawinan antara green dan blue akan menghasilkan anakan bervisual green, tetapi membawa genetikan split blue.

Piala koleksi Denih dari keikutsertaannya di sejumlah ajang kontes.

Piala koleksi Denih dari keikutsertaannya di sejumlah ajang kontes.

Meskipun harga anakan produksi Denih relatif mahal, pehobi lovebird banyak yang tertarik membeli. Mayoritas konsumen berasal dari kota besar seperti Surabaya (Jawa Timur), Tangerang (Banten), DKI Jakarta, dan Yogyakarta. Pemilik Gilang Bird Farm itu pun kian mengukir nama di dunia lovebird dengan meraih beragam gelar juara. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d