Kian Cantik Dalam Rangkaian 1
Rangkaian berelemen utama lidi karya Rohidin, perangkai bunga di Jakarta Selatan

Rangkaian berelemen utama lidi karya Rohidin, perangkai bunga di Jakarta Selatan

Rangkaian cantik sapu lidi.

Masyarakat mengenal kumpulan lidi untuk menyapu sampah. Karena kerap digunakan untuk membersihkan berbagai macam sampah, sapu lidi identik dengan kesan kotor. Namun, di tangan Rohidin, sapu lidi tampil apik. Musababnya, perangkai bunga di Jakarta Selatan itu mampu menyulap lidi menjadi sebuah rangkaian bunga nan cantik. Pria berusia 32 tahun itu menggunakan lidi sebagai elemen utama rangkaian. Ia mengubah potongan-potongan lidi menjadi sebuah rangkaian bergaya kontemporer.

Perangkai bunga itu menggunakan teknik rakit untuk menampilkan rangkaian itu. Mula-mula, ia menata puluhan lidi menjadi sebuah bentuk mirip rakit. Selanjutnya, ia menancapkan rakit itu pada floral foam berbentuk parabola. Elemen pendukung terkesan hangat seperti bunga anthurium merah, oncidium kuning, gerbera jingga, anyelir putih, dan puring. Untuk menimbullkan kesan segar ia menambahkan daun ruscus dan asparagus bintang. Rangkaian menjadi semakin manis dengan hadirnya amaranthus yang menjuntai di tengah rangkaian.

Menampilkan elemen-elemen tak biasa merupakan tantangan bagi para perangkai bunga (Andy Djati Utomo, Rohidin, Sindhunata, Aris Sindu, dari depan searah jarum jam )

Menampilkan elemen-elemen tak biasa merupakan tantangan bagi para perangkai bunga (Andy Djati Utomo, Rohidin, Sindhunata, Aris Sindu, dari depan searah jarum jam)

Awet

Rohidin berhasil menghadirkan sebuah rangkaian penghias dinding nan artistik. Cara membuatnya cukup mudah. Ia mengerat sejumlah lidi menggunakan kawat tembaga hingga menyerupai cambuk. Dalam rangkaian itu, ia membuat 4 buah cambuk. Selanjutnya, ia melengkungkan setiap ujung cambuk itu beberapa kali hingga membentuk gelombang. Ia lantas menancapkan cambuk itu di sebuah floral foam lalu menghiasi dengan mawar putih, oncidium kuning, phalaenopsis jingga, puring merah, gerbera jingga, dan aglaonema hijau.

Menurut ketua Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (DPP IPBI) Andy Djati Utomo, S.sn, AIFD, CFD, rangkaian berelemen utama lidi itu menunjukkan betapa banyaknya bahan yang dapat dimanfaatkan untuk merangkai bunga. “Banyak ide kreatif justru muncul saat merangkai menggunakan elemen-elemen tak biasa,” katanya. Sayang, rangkaian seperti itu sepi peminat. Selama ini masyarakat awam masih menganggap rangkaian bunga identik dengan kumpulan bunga saja.

Baca juga:  Membina Petani Membalas Guna

Lidi dapat diubah menjadi aneka bentuk menggunakan teknik ikat, tempel, kerat, dan ronce. Lidi dari tulang daun janur merupakan lidi terbaik yang bisa digunakan untuk merangkai sebab lentur. Perangkai bunga di Cina biasanya memanfaatkan ranting bambu muda. Sementara perangkai bunga di Eropa menggunakan mikadustik. “Ranting bambu dan mikadustik gampang patah sehingga sulit untuk diubah menjadi aneka bentuk,” kata Andy.

Rangkaian lidi karya Sindhunata ini terinspirasi dari gaya struktur bangunan khas Jerman

Rangkaian lidi karya Sindhunata ini terinspirasi dari gaya struktur bangunan khas Jerman

Pengajar di sekolah merangkai bunga Intuition Floral Art Studio itu menuturkan rangkaian lidi sangat awet sehingga cocok digunakan sebagai pemanis ruangan. Keuntungan lain, aksesori penunjang seperti bunga dan daun yang digunakan dapat diganti bila sudah layu tanpa merusak bentuk rangkaian. Namun, Andy mengingatkan lidi yang digunakan untuk merangkai harus benar-benar kering. “Lidi yang basah lama-lama akan mengering sehingga mengakibatkan rangkaian menyusut,” ujarnya. Selain itu, warna lidi akan berubah sehingga merusak keindahan rangkaian.

Buket

Sindhunata di Jakarta Barat juga berhasil menampilkan rangkaian atraktif dari lidi. Sindhu membuat rangkaian bergaya arsitektur Jerman. Ia menyusun tiang bangunan dari lidi sepanjang 80 cm. Setiap tiang terdiri atas 30 lidi yang diikat dengan kawat kertas. Tiang-tiang itu ditancapkan pada wadah akrilik berisi floral foam. Sindhu menghias puncak tiang dengan cara menyelipkan sejumlah lidi secara acak membentuk pola abstrak. Sementara di bagian dasar rangkaian, ia menaburkan pasir laut agar senada dengan warna lidi.

Alumnus Dutch Floral Design, Boerma Institute, itu meletakkan anyelir ungu dan phalaenopsis jingga sebagai hiasan, serta daun sirih gading untuk menimbulkan efek tiga dimensi pada rangkaian. Ia sengaja tidak menggunakan floral foam sebagai media bunga. “Biasanya para perangkai bunga menggunakan floral foam agar bunga tidak cepat layu,” katanya. Absennya floral foam itu justru membuat rangkaian terkesan melayang. Sindhu menggunakan tabung kaca mini berisi air sebagai gantinya.

Buket bunga menawan karya Aris Sindu

Buket bunga menawan karya Aris Sindu

Menurut Andy Djati Utomo merangkai bunga tanpa bantuan floral foam memang kini sedang tren. “Perangkai bunga selalu berinovasi untuk menciptakan teknik-teknik baru di dunia merangkai bunga, salah satunya menggunakan media selain floral foam,” katanya. Di tanahair, floral foam marak digunakan pada 1960’an. Awalnya, para perangkai bunga memanfaatkan pelepah pisang. Sayang, kandungan air yang tinggi pada pelepah pisang menambah bobot rangkaian sehingga sulit untuk dipindahkan.

Baca juga:  Hepatitis B

Rangkaian menawan dari lidi juga diperlihatkan oleh Aris Sindu. Ia menyusun patahan-patahan lidi menjadi sebuah buket bunga unik. Mula-mula, ia membuat dua rangka berbentuk segitiga dari kawat ayam lalu menempelkan patahan lidi yang sudah dilumuri lem di atas rangka. Perangkai bunga di Jakarta Selatan itu lalu menyatukan dua rangka itu menggunakan sebatang besi, masing-masing di bagian atas dan bawah sehingga ada ruang kosong di tengah.

Selanjutnya, ia meletakkan bunga balon, gerbera kuning gading, mawar kuning, bunga pinus, anthurium hijau, dan ruscus untuk mengisi ruang kosong itu. Roncean lidi di bagian bawah rangkaian membuat buket semakin menarik. Di tangan para perangkai bunga, lidi yang identik dengan kotor kini berubah menjadi rangkaian menawan. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *