Cuka buah yang pada mulanya tidak sengaja terbentuk kini diproduksi secara modern

Cuka buah yang pada mulanya tidak sengaja terbentuk kini diproduksi secara modern

Beragam cuka buah terbukti berkhasiat. Bahkan khasiatnya kian kuat jika berpadu dengan herbal.

Ketika banyak orang terkapar sakit, empat pencuri leluasa mengambil harta milik pesakitan yang tak berdaya. Para pencuri itu segar bugar dan tak tertular penyakit yang mewabah. Rahasia kesehatan mereka akhirnya terungkap ketika polisi sukses menangkap para pencuri. Mereka mandi dengan cuka—antara lain mengandung bawang putih—sebelum mencuri. Beberapa tanaman herbal yang direndam dalam cuka yang akhirnya disebut Four Thieves Vinegar itu melindungi mereka dari penyakit. Itu kisah nyata di Eropa pada abad ke-17.

Cuka tercipta tidak sengaja ketika jus anggur yang terabaikan. Pada 1865 ahli biologi berkebangsaan Perancis, Louis Pasteur, berhasil mengungkap misteri proses di balik pembentukan cuka. Bakteri Mycoderma aceti—yang diidentifikasi Pasteur sebagai cendawan—menarik oksigen di udara jatuh dalam genangan cairan mengandung etanol yang terbentuk dari jus buah dan mengubahnya menjadi asam. Lazimnya disebut asetifikasi. Sumber gula yang menjadi cikal bakal etanol dapat diperoleh dari berbagai macam buah seperti apel, kurma, jeruk, tomat, jamblang, dan pir.

Sejarah memperlihatkan cuka buah bermanfaat bagi kesehatan. Hippocrates, ahli pengobatan pada 460—377 sebelum masehi, menggunakannya untuk mengatasi radang selaput dada, demam, borok, dan konstipasi. Kini cuka buah menjadi salah satu objek penelitian menarik di bidang kesehatan.  Syed Mohd Umair dan rekan yang tertarik pada cuka buah jamblang Syzygium cumini menelusuri khasiatnya pada penelitian yang melibatkan dua kelompok pasien penderita diabetes hipoglikemia tingkat rendah dan menengah.

Selama 45 hari, kedua kelompok yang masing-masing berjumlah 10 orang itu menerima asupan cuka yang dibuat dengan metode fermentasi-lambat tradisional. Para peneliti dari Aligarh Muslim University, India, itu memeriksa gula darah pasien setiap 15 hari sekali. Hasil menunjukkan adanya aktivitas antiglikemik—penurunan gula darah—signifikan pada pasien diabetes tipe-2 dibandingkan kelompok kontrol yang hanya menerima minuman plasebo berwarna.

 

Buah-buahan banyak dikembangkan menjadi sumber etanol cuka buah

Buah-buahan banyak dikembangkan menjadi sumber etanol cuka buah

Kurangi bobot

Urusan menahan kegemukan, cuka buah ahlinya. Penelitian Ju-Hye Lee dan rekan menyebutkan cuka tomat berkhasiat sebagai makanan fungsional untuk mencegah obesitas. Seperti yang diungkap dalam jurnal “Food Chemistry” volume 141 pada 2013, cuka tomat menghambat diferensiasi adiposit—pembentukan sel lemak baru dari cikal bakal sel lemak—pada sel 3T3-L1 sekaligus menjegal akumulasi lipid yang terjadi ketika diferensiasi berlangsung.

Baca juga:  Lahir Dari Sokongan Bill Gates

Sel 3T3-L1 merupakan sel yang dikembangkan dari tikus yang kerap digunakan untuk meneliti proses pembentukan sel lemak. Pada peneliti dari Sunchon National University, Dong-A University, dan Gyeongsang National University, Korea Selatan, itu juga membuktikan penumpukan lemak perut bagian dalam—lazim disebut visceral fat—dan lipid hati pada tikus obesitas dapat ditekan dengan pemberian cuka tomat.

Empat tahun sebelumnya, duduk perkara cuka mengurangi penumpukan lemak pada manusia dipaparkan Tomoo Kondo dan rekan dari Central Research Institute, Mizkan Group Corporation. Jepang. Sebanyak 3 kelompok penderita obesitas asal Jepang diberi minuman 500 ml masing-masing mengandung 30 ml, 15 ml, dan 0 ml cuka setiap hari. Penurunan bobot yang terekam setelah 12 pekan perlakuan yakni sebesar 1,2 kg pada pemberian cuka 15 ml dan 1,7 kg pada pemberian cuka 30 ml.

Tikus yang menderita ulcerative colitis—radang usus besar—dan mengonsumsi cuka pir terbukti dapat menekan inflamasi usus besar. Cara kerjanya dengan menekan aktivasi sel inflamasi yang dimediasi enzim mieloperoksidase (MPO) dan mengurangi konsentrasi serum IL-6—mediator peradangan. Sebelum pemberian pada hewan uji, seduh cuka untuk meningkatkan kandungan asam galakturonat. Peran asam galakturonat yang diungkap dalam penelitian Takashi Wakuda dan rekan dari Tottori University itu antara lain memperbaiki jaringan usus besar yang luka.

 

Lebih kuat

Untuk memperoleh khasiat cuka buah kini terdapat dalam kemasan minuman penyegar siap saji. Bahkan, di pasaran terdapat cuka buah majemuk alias kombinasi beberapa buah. PT Tirta Sarana Sukses meluncurkan varian produk cuka apel kombinasi dengan bahan pendukung alami lain seperti bawang putih Allium sativum, jeruk lemon Citrus sp., dan jahe Zingiber officinale. Direktur eksekutif PT Tirta Sarana Sukses, Ronald Eka Putra,  meluncurkan produk baru itu pada Maret 2013. Produk itu ditargetkan untuk orang dewasa berusia 25 tahun ke atas yang rentan penyakit degeneratif seperti diabetes atau kolesterol.

Baca juga:  Jengkol untuk Padi

Menurut Wahyu Suprapto, herbalis di Malang, Jawa Timur, bawang putih mampu menurunkan kolesterol, sedangkan jeruk lemon menekan pembentukan lemak. Cuka apel bermanfaat untuk memperbaiki sistem metabolisme. Adapun rimpang jahe membantu memperlancar peredaran darah. Kombinasi keempatnya terbilang baru dalam dunia herbal. Sebagai pendatang baru, masyarakat meminati cuka apel kombinasi herbal itu. Indikasinya penjualan yang terus meningkat.

Penelitian menunjukan kombinasi cuka buah dan herbal mampu bekerja sinergis.  Salah satunya cuka apel yang terbukti mendukung kerja ekstrak bawang putih memberantas bakteri. Dr Nada Khazal Kadhim Hindi, peneliti Departemen Medis, Babylon University, Irak, menemukan cuka apel maupun bawang putih tunggal berefek lemah sebagai antibakteri bila dibandingkan kombinasi keduanya. Uji dilakukan pada 9 bakteri gram-negatif dan 5 bakteri gram-positif.

Pada konsentrasi 50%, ekstrak air bawang putih mampu menghambat semua bakteri. Penghambatan tertinggi tercatat saat melawan Salmonella typhi (penyebab tifus) yakni 50 mm, terendah melawan Proteus mirabilis (penyebab penyakit infeksi saluran kemih), Proteus vulgaris (penyebab penyakit pencernaan), dan Acinetobacter (berperan dalam infeksi meningitis dan pneumonia) sebesar 20 mm. Perlawanan maksimum cuka apel terlihat pada Staphylococcus aureus (15 mm) dan terendah pada Salmonella typhi yang tidak menunjukkan aktivitas penghambatan sama sekali.

Ketika keduanya bersatu makin kuat khasiatnya. Jika bawang putih hanya mampu menghambat Klebsiella pneumonia (penyebab infeksi saluran kemih) 25 mm, kombinasi dengan cuka apel menguatkan efek menjadi 40 mm.  Bandingkan dengan cuka apel tunggal berdaya hambat hanya 10 mm. Total dari 14 bakteri, hanya Streptococcus pyogenes (penyebab faringitis alias radang kerongkongan) dan Salmonella typhi yang memberikan efek penghambatan kombinasi bawang putih-cuka apel sama seperti penggunaan bawang putih tunggal.

Penelitian dalam “American Journal of Phytomedicine and Clinical Therapeutics” yang dirilis pada 2013 itu juga menyatakan efek sinergis bawang putih dan cuka apel mampu mencegah organisme patogen membentuk resistensi terhadap antibiotik. Cuka apel sebaiknya dikonsumsi dengan cara diencerkan dalam segelas air minum. “Untuk mengantisipasi lambung yang sensitif,” jelas Wahyu. Konsumsi pun disarankan setelah makan. Kombinasi maupun tunggal, cuka buah dalam penelitian mampu menekan keberadaan pencuri kesehatan. Wajar bila asamnya cuka yang satu ini mampu mendunia. (Kiki Rizkika)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d