Ketika Tentara Bertani Organik 1
Danrem 032/Wirabraja, Brigjen TNI Widagdo HS, panen padi organik perdana bersama Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko dan Pangdam I/Bukitbarisan Mayjen TNI Edy Rahmayadi.

Danrem 032/Wirabraja, Brigjen TNI Widagdo HS, panen padi organik perdana bersama Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko dan Pangdam I/Bukitbarisan Mayjen TNI Edy Rahmayadi.

Korem 032/Wirabraja sukses mengembangkan budidaya pertanian organik.

Hamparan sawah di Kanagarian Kasang, Kecamatan Batanganai, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, itu menguning. Malai-malai padi merunduk pertanda bernas. Itu hasil budidaya para anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) di lingkungan Komando Rayon Militer (Koramil) 09/Batanganai, Kodim 0308/Pariaman. “Saya juga turun ke sawah untuk membajak lahan,” ujar Kapten Inf Syamsul Rizal, Danramil 09/Batanganai.

Brigjen TNI Widagdo HS mulai memperkenalkan pertanian organik pada Oktober 2014.

Brigjen TNI Widagdo HS mulai memperkenalkan pertanian organik pada Oktober 2014.

Mereka membudidayakan padi varietas kartika 1-82 di lahan 1 hektar secara organik. Pada 7 Mei 2015 Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0308/Pariaman, Letkol Inf Persada Alam memanen padi itu pada umur 97 hari setelah tanam. Waktu panen itu lebih singkat daripada masa panen varietas lokal lain yang banyak ditanam petani padi di Sumatera Barat, seperti bunda sri madrim, anak daro, mandoliang, dan logawa—panen pada umur 100 hari.

Lebih tinggi
Yang menggembirakan hasil panen dari sehektar lahan mencapai 7,8 ton. Jumlah panen itu jauh lebih tinggi daripada hasil panen para petani padi setempat yang rata-rata hanya 4,4 ton per hektar. Padahal, padi itu dibudidayakan secara organik. “Sumber nutrisi hanya berupa jerami yang difermentasi, pupuk kandang, dan aneka ramuan pupuk hayati,” ujar Syamsul (baca: halaman 38 dan 40)

Percontohan budidaya nila organik Kodim 0304/Agam.

Percontohan budidaya nila organik Kodim 0304/Agam.

Kabar gembira juga datang dari Kodim 0312/Padang. Komandan Korem 032/Wirabraja, Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Widagdo Hendro Sukoco, memanen padi Kartika 1-82 organik yang ditanam di Kelurahan Suraugadang, Kecamatan Naggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, pada umur 95 hari setelah tanam. Hasil panen dari sehektar lahan mencapai 6,8 ton gabah. Jumlah itu lebih tinggi daripada produksi petani setempat yang hanya 4,2 ton per hektar.

Baca juga:  Penghargaan untuk Kaum Muda

Pada 20 Mei 2015, Brigjen Widagdo bersama Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko dan Panglima Kodam I/Bukitbarisan Mayor Jenderal TNI Edy Rahmayadi juga memanen padi organik dari lahan percontohan Kodim 0319/Mentawai di Kanagarian Kasang. Hasil panen perdana itu mencapai 7 ton per hektar. Jumlah itu juga melampui jumlah hasil panen petani setempat yang rata-rata hanya 4,2 ton per ha.

Laboratorium pembuatan pupuk organik milik Korem 032/Wirabraja

Laboratorium pembuatan pupuk organik milik Korem 032/Wirabraja

Hasil panen itu menjadi bukti bahwa jerih payah Brigjen Widagdo memperkenalkan budidaya pertanian secara organik kepada para petani di Sumatera Barat mulai menampakkan hasil. Komandan Korem 032/Wirabraja mulai memperkenalkan pertanian organik pada Oktober 2014. Ketika itu Brigjen Widagdo menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk serta pakan ikan dan ternak organik kepada perwakilan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten/Kota, kelompok tani, dan jajaran kesatuan TNI di Sumatera Barat.

Ia mengundang Dr Nurzaman, pakar pertanian organik dari Tasikmalaya, Jawa Barat, sebagai pembicara. “Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha pertanian yang berwawasan lingkungan,” katanya. Langkah itu sejalan dengan instruksi Presiden Joko Widodo agar TNI mendukung program Kementerian Pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan pada tiga tahun mendatang.

Percontohan budidaya jagung organik Kodim 0306/50 Kota di Payakumbuh.

Percontohan budidaya jagung organik Kodim 0306/50 Kota di Payakumbuh.

Presiden menginstruksikan hal itu pada apel Danrem Dandim Terpusat 2014 di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, 2 Desember 2014. Brigjen Widagdo kemudian melatih para Babinsa (Bintara Pembina Desa) untuk mempraktikkan teknik budidaya padi organik dengan System Rice Intensification (SRI) serta teknik budidaya jagung, cabai, dan kedelai organik. Brigjen Widagdo menginstruksikan seluruh Kodim di lingkungan Korem 032/Wirabraja untuk membuat demplot padi organik.

Tertarik organik
Menurut Widagdo, “Padi komoditas yang wajib ditanam di seluruh Kodim karena merupakan makanan pokok.” Komoditas lainnya yang wajib ditanam adalah jagung, cabai, dan kedelai organik. Hingga saat ini total luas demplot padi mencapai 54,41 hektar yang tersebar di 115 lokasi, jagung (25,5 ha di 63 tempat), cabai (6 hektar di 40 tempat), dan kedelai (1,6 ha di 12 tempat).

Baca juga:  Tomat Cepat Tumbuh

Widagdo menjelaskan produksi beragam komoditas seperti padi akan dijajakan di sebuah gerai bernama Green Market di Kota Padang. Masyarakat umum bisa membeli produk organik hasil budidaya para tentara. Selain itu beberapa Kodim juga membuat percontohan peternakan organik. Contohnya Kodim 0307/Tanahdatar dan Kodim 0304/Agam yang mengembangkan sapi secara organik. Kodim 0304/Agam juga mengembangkan budidaya lele dan nila organik.

“Setiap Kodim dapat mengembangkan komoditas lain sesuai potensi dan kreativitas masing-masing,” ujar Widagdo. Kesuksesan Widagdo mengembangkan padi organik itu menjawab keraguan para petani padi konvensional. “Banyak petani tidak percaya kalau budidaya organik akan meningkatkan produksi. Apalagi yang menanam tentara,” kata Widagdo. Mengubah cara pandang petani itulah yang menjadi tugas berat Widagdo.

Percontohan budidaya cabai organik Kodim 0304/Agam.

Percontohan budidaya cabai organik Kodim 0304/Agam.

Widagdo mengatakan, “Daripada memberi penjelasan dengan kata-kata, lebih baik menjawabnya dengan contoh di lapangan.” Itulah sebabnya Korem 032/Wirabraja menganggarkan biaya untuk mendorong pengembangan budidaya organik. Beberapa petani kini mulai tertarik mengikuti jejak Widagdo membudidayakan padi organik. Salah satunya Marsilan yang memiliki 2 hektar sawah.

Pria paruh baya itu berencana menerapkan teknik budidaya organik pada musim tanam berikutnya. Devi Triani, petani padi di Kanagarian Kasang, menuturkan teknik budidaya yang diterapkan Korem 032/Wirabraja juga lebih mudah. Contohnya dalam penanaman padi. Sebelumnya Devi menanam padi dengan cara mundur, sementara cara yang diterapkan Widagdo maju.

“Cara itu ternyata lebih cepat. Satu hari kerja biasanya hanya mampu menanam padi seluas 0,7 ha, kini bisa 1,5 ha,” kata Devi. Dengan berbagai keunggulan itu, Widagdo berharap area tanam padi organik terus meningkat di Sumatera Barat. Itu setelah para tentara mahir mengangkat cangkul untuk menanam beragam komoditas. Mereka bukan hanya piawai mengangkat senjata. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *