Lavendel Plus BV spesialis produksi lavender dalam pot.

Lahan lavender 10 hektare milik Lavendel Plus BV.

Lahan lavender 10 hektare milik Lavendel Plus BV.

Ewa Owsianik-Łuczak terpukau melihat hamparan lavender Lavandula angustifolia di Ulvenhout, Belanda, pada sebuah siang nan cerah. Marketing and Domestic Relations Manager PT Agencja Promocji Zieleni Sp z o.o., perusahaan penyelenggara acara Polandia, itu mengunjungi Ulvenhout pada pengujung musim gugur Oktober 2016. “Senang sekali berada di kebun lavender ini,” kata Ewa dengan wajah berbinar.

Bunga ungu tampil serentak di pucuk tanaman setinggi 40 cm itu. Aroma lavender yang khas dan menenangkan menguar hingga 50 m dari kebun. Tanaman anggota famili Lamiaceae pun mengundang serangga penyerbuk seperti kumbang atau kupu-kupu. Kunjungan ke Ulvenhout bagian dari pameran tanaman hias dan taman, GrootGroenPlus 2016, di Zundert, Belanda. GrootGroenPlus 2016 menyajikan semua inovasi dan teknologi terkini serta tanaman taman dan hias baru.

Ramah lingkungan
Sekitar 300 peserta menghadirkan produk unggulan dalam pameran tahunan itu. Pada bulan Oktober itu, cuaca cerah lantaran sedang musim gugur. Ulvenhout yang berjarak 30 menit perjalanan darat dari Zundert itu berada di ketinggian 4 m di atas permukaan laut (dpl). Suhu harian 9—17°C pada musim gugur itu cocok untuk pembungaan lavender. Bunga berwarna dominan ungu itu muncul hanya pada bulan Juni—Oktober.

Lavender beraroma khas sehingga mengundang lebah dan kupu-kupu.

Lavender beraroma khas sehingga mengundang lebah dan kupu-kupu. (foto: Koleksi Lavender Plus BV)

Itu sebabnya pada Oktober 2016, panitia GrootGroenPlus 2016 mengundang Trubus untuk meliput dan mengikuti tur, salah satunya mengunjungi kebun lavender. Kebun seluas 10 hektare itu milik Lavendel Plus BV, salah satu produsen lavender terbesar di Belanda. Jac-Jan van den Wijngaart—pengelola Lavendel Plus BV—membudidayakan lavender di lahan. Jac-Jan tidak membibitkan sendiri.

Baca juga:  Hidroponik dalam Ruang

Ia memperoleh bibit tanaman kerabat selasih itu dari nurseri lain. Penanaman pada April setiap tahun. Pekerja 5 kali memangkas daun dan bunga tähklavendel—sebutan lavender di Estonia—itu saban tahun. “Tujuannya menghasilkan tanaman bersosok kompak dan berbunga lebat,” kata Jac-Jan. Pemangkasan secara manual dengan tangan dan juga menggunakan mesin. Lavendel Plus BV mengutamakan sosok tanaman lavender berukuran besar, kompak, harum, dan cocok ditanam dalam pot.

Oleh karena itu pekerja sangat memperhatikan kebersihan pot dan budidaya ramah lingkungan. Nurseri itu menggunakan air resirkulasi untuk penyiraman. Penggunaan pestisida pun diminimalisir. Upaya menjaga mutu itu mendapat pengakuan dari lembaga sertifikasi di Belanda, MPS Foundation, yang memberikan sertifikasi keberlanjutan (sustainability) dan lingkungan (environment) untuk Lavendel Plus BV pada 2013.

Produsen lavender itu juga menerima sertifikat dari Badan Inspeksi Umum atau Nederlandse Algemene Keuringsdienst (NAK). NAK memastikan semua tanaman kerabat jati Tectona grandis itu sehat dan bebas penyakit. Lembaga sertifikasi itu juga memonitor penggunaan pupuk, pestisida, gas, dan listrik. Artinya produk kreasi Lavendel Plus BV aman untuk konsumen dan ramah lingkungan.

Harum

Jac-Jan van den Wijngaart, pengelola Lavendelplus BV.

Jac-Jan van den Wijngaart, pengelola Lavendelplus BV.

Setelah 2 tahun di lahan, pekerja memindahkan lavender ke pot berukuran 23 cm, 26 cm, 29 cm, 32 cm, dan 35 cm. Tähkälaventeli—sebutan lavender di Finlandia—menghuni pot 8 pekan. Tiga bulan berselang lavender berbunga. Penjualan secara langsung ke konsumen atau melalui tempat pelelangan seperti FloraHolland pada Mei—Juni. Negara konsumen antara lain Belgia, Jerman, Perancis, Denmark, Spanyol, dan Inggris.

Lavendel Plus BV mengatur jadwal pemindahan lavender ke pot sehingga pelanggan bisa membeli produk itu pada April—Juli. Pada 2012, tim riset Lavendel Plus membuat rancangan pot anyar berdesain modern untuk memudahkan transportasi lavender ke konsumen. Menurut Jac-Jan pot baru itu juga mengoptimalkan penyiraman sehingga hemat air. “Pot itu akan selalu bersih di luar dan dalam,” kata Jan.

Baca juga:  Kelor Dongkrak Kualitas Sperma Kambing

Oleh karena itu Jan membeli lahan 3 hektare untuk menampung 350.000 pot anyar itu. Lavendel Plus BV mengembangkan 4 jenis lavender yaitu little lady, hidcote, essence purple, dan munstead. Semua jenis itu harum sehingga disukai kumbang dan kupu-kupu. Keempat lavanda—sebutan lavender di Italia—itu pun tahan diletakkan di bawah sinar matahari langsung. Bunga little lady berwarna violet muda dan mekar pada Mei—Juli.

Essence purple bersosok kompak dengan tinggi sekitar 30 cm sehingga cocok ditanam di dalam pot.

Essence purple bersosok kompak dengan tinggi sekitar 30 cm sehingga cocok ditanam di dalam pot. (foto: Koleksi Lavender Plus BV)

Hidcote berbunga ungu gelap dan mekar pada Juli—Agustus, sedangkan bunga ungu essence purple muncul pada Juni—Juli. Sementara munstead memamerkan bunga ungu gelap pada Juni—Agustus. Panjang tangkai bunga little lady 50 cm, hidcote (60 cm), essence purple (50 cm), dan munstead 60 cm.

Agar tampil maksimal di pot, Jac-Jan menyarankan konsumen memangkas daun lavender dua kali setahun pada musim semi dan panas. Pada Maret pangkas tanaman kerabat rosemary Rosmarinus officinalis itu sehingga bersosok kompak. Pastikan ada daun hijau di ujung cabang karena tunas lavender sulit tumbuh dari ranting yang tidak berdaun. “Pemangkasan kedua pada Agustus. Konsumen membuang daun dan cabang yang mati,” kata Jac-Jan.

Lebih lanjut ia menuturkan lavender sangat terkenal karena digunakan sejak zaman dahulu. Masyarakat Mesir kuno kali pertama yang memperdagangkan tanaman aromatik itu. Sementara masyarakat Roma kuno pelopor penanaman dan pemrosesan lavender. Menurut anggota staf perusahaan peregistrasi tanaman baru di Belanda, Plantipp BV, Diantha Slingerland, lavender sangat cocok ditempatkan di teras, balkon, atau taman. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d