Seperangkat rangkaian apik menyambu hari suci karya Pipin Rayastuti.

Seperangkat rangkaian apik menyambu hari suci karya Pipin Rayastuti.

Rangkaian bunga semarakkan hari Lebaran.

Jakarta ibarat rumah kedua bagi para perantau. Kota seluas 740,3 km2 itu bak magnet raksasa yang menyedot jutaan warga di seluruh tanahair. Semua suku dan etnis tinggal di Jakarta. Keramahan penduduk asli membuat pendatang merasa nyaman. Budaya asli Jakarta tetap mewarnai kehidupan penduduknya, meski sang kota menyandang predikat kota metropolitan. Gambang kromong, lenong, ondel-ondel, dan tari topeng menjadi bagian kekayan seni dan budaya Betawi.

Hantaran untuk Lebaran tampil lebih atraktif di tangan Feta Prafidya Soewondo.

Hantaran untuk Lebaran tampil lebih atraktif di tangan Feta Prafidya Soewondo.

Bagi Feta Prafidya Soewondo, warga Jakarta Selatan, segala atribut Betawi terkesan sangat atraktif. Feta berdarah campuran Jawa dan Palembang, tetapi lahir dan tumbuh di Jakarta. Itu sebabnya, ia lebih akrab dengan budaya di tanah Sunda Kelapa dibanding daerah asal orang tuanya. Pemilik toko bunga, Nalini Flowers, itu pun mengungkapkan kecintaannya pada budaya Betawi lewat rangkaian bunga. “Rangkaian ini cocok dipersembahkan sebagai hantaran saat Lebaran,” ujarnya.

Semarak
Master Keuangan dari Sekolah Bisnis Prasetya Mulya itu membuat rangkaian dari gerbera, mawar, jengger ayam, kordilin, ruscus, solidago, Dracaena surculosa ‘florida beauty’, Dracaena reflexa ‘song of jamaica’, dan ketupat mini sebagai aksesori. Feta menggunakan seluruh materi flora itu untuk menghias rantang yang akan digunakan untuk hantaran saat Idul Fitri. Ia meletakkan gerbera merah muda di 4 titik utama rangkaian yakni atas, bawah, tengah, dan samping kiri untuk menarik perhatian. “Ukuran bunga relatif besar dan berwarna cantik sehingga cocok sebagai fokus rangkaian,” ujarnya.

Rangkaian penghias ruangan karya Ratna Sandhi Heru semakin menarik dengan tambahan asesori berupa kembang goyang.

Rangkaian penghias ruangan karya Ratna Sandhi Heru semakin menarik dengan tambahan asesori berupa kembang goyang.

Wanita berusia 34 tahun itu tak butuh banyak waktu untuk menghadirkan rangkaian hantaran itu. “Tekniknya sangat sederhana, hanya gunting, gulung, dan tancap,” ujarnya. Ia melekatkan rantang menggunakan lem di sebuah nampan besi yang sudah berisi floral foam. Selanjutnya, Feta menata rapi setiap materi flora di atas permukaan floral foam. Ia juga meletakkan floral foam di atas rantang lalu menutupnya dengan mawar salem, mawar kuning, krisan putih, daun florida beauty, dan hiasan kembang kelapa mini. Kembang kelapa merupakan hiasan kepala ondel-ondel yang menjadi ikon Kota Jakarta. Feta membuat kembang kelapa dari bilah bambu yang dililit kertas krep warna-warni. Hantaran lebaran ala betawi pun siap diberikan pada sanak keluarga. Dengan kreasinya, Feta
membuat hantaran di hari nan suci lebih semarak.

Baca juga:  Amor dan Taman Bunga

Merayakan Idul Fitri bersama rangkaian berkesan Betawi juga dipilih Ratna Sandhi Heru di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Povinsi Betawi.Ratna menghias sudut rumah dengan gentong tembikar raksasa berisi aneka mawar. Ia memilih mawar berwarna merah, pink, salem, dan ungu. Warna-warna kalem si ratu bunga itu menambah teduh ruangan. “Keberadaan mawar yang berbeda warna itu juga menggambarkan kehidupan masyarakat ibu kota yang multibudaya, agama, dan etnis,” ujar Ratna.

Wanita penyuka gado-gado itu menancapkan tangkai-tangkai mawar pada floral foam yang diletakkan di bibir gentong. Sebelumnya ia membasahi floral foam agar kesegaran bunga tahan lama. Ratna menambahkan dedaunan seperti kadaka dan pakis di belakang susunan bunga untuk memberikan kesan segar. Ia juga meletakkan sejumlah kembang goyang untuk mempertegas kesan Betawi.

Pipin Rayastuti, Feta Prafidya Soewondo, Ratna Sandhi Heru, dan Naniek Indrajid (kiri ke kanan) suka cita menyambut Idul Fitri.

Pipin Rayastuti, Feta Prafidya Soewondo, Ratna Sandhi Heru, dan Naniek Indrajid (kiri ke kanan) suka cita menyambut Idul Fitri.

Inspirasi
Rangkaian ala Betawi tak melulu kembang goyang. Naniek Indrajid Subardjo di Ciputat, Tangerang Selatan, membuat rangkaian yang terinspirasi dari topi milik para penari topeng. Naniek membuat topi tiruan itu dari kertas karton berbentuk lingkaran berdiameter 40 cm lantas menutupnya dengan kertas krep warna kuning, jingga, hijau, dan biru. “Kombinasi warna-warna cerah menghidupkan suasana sehingga cocok diletakkan di
tengah ruangan,” ujar Naniek.

Wanita asal Surabaya itu meletakkan cepol rambut palsu yang terbuat dari lipatan daun florida beauty dan roncean mote bunga, masing-masing di tengah dan tepi karton. Topi itu lantas diletakkan di atas vas bunga kaca. Naniek menghias kaki vas dengan gerbera salem, mawar merah muda, hydrangea, daun leather leaf, dan ketupat. Rangkaian itu pun siap menemani keluarga menghabiskan waktu kala lebaran.

Hiasan meja yang terinspirasi dari topi penari topeng karya Naniek Indrajid Subardjo.

Hiasan meja yang terinspirasi dari topi penari topeng karya Naniek Indrajid Subardjo.

Pipin Rayastuti di Bintaro Jaya, juga tak mau kalah. Pipin membuat seperangkat rangkaian menawan yang terinspirasi falsafah Nusantara. Pada rangkaian pertama, ia memadukan apik aneka rupa flora seperti bambu wulung, kelapa gading, manggar, melati, mawar, dan anggrek menjadi rangkaian pemanis meja. Semua materi yang digunakan berasal dari halaman belakang kediamannya.

Baca juga:  Tersihir Karya Kariyazaki

Pipin menuturkan bambu wulung merupakan lambang kesuburan, sedangkan air yang terkandung di dalam kelapa mengandung arti bersih dan suci. Ia mengumpulkan 7 potong bambu wulung di atas lumut-lumutan lalu menghias pucuknya dengan anggrek tanah merah, mawar merah, dan kadaka keriting. Berikutnya, ia meletakkan kelapa gading, manggar kelapa, mawar merah, dan kordilin merah di sekeliling potongan bambu.

Pada rangkaian kedua yang berukuran lebih kecil, Pipin menyusun futoi di sebuah tripleks berbentuk persegi panjang berhias roncean melati di bagian tepi. Lalu, ia menempatkan dua potong bambu, mawar merah, ruscus, dan daun marbel di bagian tengahnya. Pipin menyempurnakan rangkaiannya dengan meletakkan aksesori air terjun mini dan panganan tempo dulu seperti telur cecak, cokelat mini, dan onde-onde kering. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d