Dr. Ir. Sigit A P Dwiono membantu memasyarakatkan teknologi budidaya kerang mutiara.

Dr. Ir. Sigit A P Dwiono membantu memasyarakatkan teknologi budidaya kerang mutiara.

Sejatinya mutiara berasal dari kerang di lautan. Konsultan di Balai Bio Industri Laut (BBIL), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Ir. Sigit A. P. Dwiono, mengatakan, semua kerang menghasilkan sejenis zat (campuran bahan organik dan anorganik) yang menjadi bagian dalam kulit. Jika lapisan itu indah berkilau, maka disebut lapisan mutiara (nacre atau mother of pearls). Jika tidak indah hanya disebut kulit dalam kerang.

“Untuk dapat disebut mutiara, bentuk lapisan itu mesti mendekati bulat,” kata Sigit. Di dunia banyak jenis kerang yang menghasilkan mutiara beraneka warna dan ukuran. Habitat kerang meliputi air laut, payau, dan kolam. Jenis kerang penghasil mutiara indah berukuran besar di perairan laut Indonesia antara lain kerang mutiara Pinctada maxima dan kerang japing P. margaritifera.

Lazimnya kerang mutiara menghasilkan butiran berwarna keperakan hingga keemasan serta campuran emas dan perak. Sementara mutiara berwarna hijau tua hingga hitam berasal dari kerang japing. Kerang mutiara menghendaki habitat berupa perairan berkarang berkedalaman 10—40 m. Satwa anggota famili Pteriidae itu ditemukan di dasar perairan berpasir dengan tubuh sedikit terbenam dan hanya bagian tepi cangkang yang terbuka di atas dasar perairan.

Di alam kerang mengonsumsi beragam jenis tumbuhan renik (fitoplankton) dan beraneka bahan organik yang terbawa air. Kerang memperoleh makanan dengan menyaring fitoplankton. Predator alami hewan moluska itu antara lain ikan karnivora seperti barakuda, bintang laut, dan berbagai jenis kepiting. Kerang berperan penting menjaga keseimbangan populasi fitoplankton dan mengurangi kekeruhan air.

Menurut Sigit sentra kerang mutiara di Indonesia meliputi Sumatera Barat, Lampung, Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat. “Daerah penghasil utama mutiara adalah NTB dan Maluku,” kata alumnus Universite de Bretagne Occidentale (University of West Brittany), Brest, Perancis, itu.

Baca juga:  Sirsak Pelangsing

Populasi kerang mutiara di Indonesia menurun dan hasil tangkap nelayan makin sedikit. Namun tidak ada data sahih sehingga sulit menentukan apakah hewan laut itu terancam punah atau tidak. Dahulu orang mengandalkan kerang tangkapan alam untuk memperoleh mutiara. Kini mayoritas mutiara berasal dari kerang hasil budidaya yang meliputi tahap pembenihan, pembesaran, dan produksi mutiara.

Tahap pembenihan memerlukan infrastruktur berupa panti benih yang cukup mahal dan keahlian pelaksana pembenihan yang relatif masih jarang. Produksi mutiara juga membutuhkan investasi besar dan keahlian tenaga pengisi inti. “Oleh karena itu tahap pertama dan ketiga lazimnya dilakukan perusahaan bermodal besar,” kata pria berumur 59 tahun itu. Nelayan dapat melaksanakan kegiatan pembesaran benih hingga mencapai ukuran siap diisi inti dan menjualnya ke perusahaan produsen mutiara.

Pelaksanaan pembesaran menggunakan sistem rakit dan jalur memanjang (longline) di laut. Sigit mengatakan budidaya kerang mutiara berkembang pesat di tanahair sejak 1990-an. Saat itu pemerintah mengizinkan perusahaan asing berinvestasi di Indonesia. Atlas Pearls and Perfumes Ltd adalah salah satu perusahaan produsen kerang mutiara asal Australia yang beroperasi di nusantara melalui anak perusahaan bernama PT Cendana Indopearls. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d