Kentang di Dataran Tinggi Dieng

Kentang di Dataran Tinggi Dieng 1

Pegunungan Dieng hilang tanaman keras penyimpan air hujan lantaran ditebang untuk lahan budidaya sayuran

Sejatinya kentang bukanlah tanaman “asli” dataran tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, keduanya di Jawa Tengah. Menurut pakar sosial ekonomi pertanian dari Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Subejo, Ph.D., semula masyarakat Dieng membudidayakan jagung dan tembakau.

Kentang mulai masuk Dieng sekitar 1980 ketika Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat, meletus. Petani kentang yang lahannya terdampak letusan mencari lahan baru dan sampailah di Dieng. Perlahan kentang menjadi primadona baru di Dieng dan menggantikan dua komoditas sebelumnya.

Alasannya waktu budidaya Solanum tuberosum lebih singkat dan bernilai ekonomis tinggi. Petani memanen kentang 3—4 bulan pascatanam dengan omzet minimal sekitar Rp60 juta per hektare. Setelah dikurangi ongkos produksi sekitar Rp17 juta maka petani mendulang laba Rp43 juta (th 2017).

Bandingkan dengan tembakau yang baru dipanen 6 bulan setelah tanam dan berlaba sekitar Rp33juta per hektare. Oleh karena itulah, banyak masyarakat Dieng yang beralih profesi menjadi petani kentang.

“Menurut para ahli pertanian kentang salah satu tanaman bernilai ekonomis tinggi,” kata pembibit kentang di Dieng, Miftahul Huda. Selain memberikan keuntungan bagi petani, ternyata budidaya kentang berdampak negatif karena merusak lahan.

Efek jangka panjang penanaman kentang secara besar-besaran di dataran tinggi Dieng, memunculkan kekhawatiran dari penggiat kelestarian lingkungan. Menurut Huda yang juga pelestari lingkungan hidup di Dieng, kentang tidak bisa hidup di bawah naungan tanaman lain sehingga petani menebang pohon-pohon di lahan.

Dampaknya tidak ada tanaman berakar kuat yang bisa menahan air hujan sehingga lapisan tanah yang subur tergerus dan jadilah lahan kritis.

Baca juga:  Cara Agar Lemon Melimpah

Buntutnya pendapatan petani menurun lantaran produksi kentang tidak maksimal. Sudah begitu penambahan pupuk kimia makin meracuni tanah. Lebih lanjut Huda mengatakan budidaya kentang sesuai standar operasional prosedur memperlambat efek negatif itu.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x