Kentang Baru: Laba Besar Karena Sipiwan 1
580-H056-1

Kentang sipiwan (CP 1) buatan IPB, Bogor, produksi mencapai 25 ton per hektare.

Kentang industri baru berproduksi menjulang, 25 ton per hektare.

Diki Indra Wibawa memanen 24 ton kentang dari lahan 1 hektare pada April 2017. Hasil panen itu jauh lebih tinggi ketimbang produksi sebelumnya yang hanya 15 ton dari luasan sama. Artinya panen kentang di kebun Diki meningkat 9 ton per hektare. Ia menjual umbi kentang Solanum tuberosum itu kepada pengepul Rp6.000–Rp6.500 per kg.  Pekebun itu meraih total omzet Rp144 juta—Rp156 juta.

Setelah dikurangi biaya produksi Rp80 juta, laba Diki Rp64 juta—Rp76 juta per hektare. Pada panen berikutnya hasil panen kentang lebih rendah, yakni hanya 17 ton per hektare. “Hasil panen turun akibat musim hujan sejak Februari 2017,” ujar pekebun kentang di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, itu. Meski demikian hasil panen itu tetap lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

580-H056-2

Keripik dari kentang sipiwan.

Sipiwan

Pada panen berikutnya, Diki  kembali menuai 20 ton per hektare. Diki mampu meningkatkan produksi  setelah beralih menggunakan varietas CP1 atau sipiwan. CP1 adalah singkatan dari chip potato satu atau keripik kentang nomor satu. “Kami memberi nama sipiwan agar lebih mudah diingat para petani. Nama CP1 terlalu ilmiah,” kata peneliti di Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Suharsono, DEA.

Menurut Suharsono di tanah air terdapat dua jenis kentang yang dibudidayakan pekebun, yaitu kentang sayur dan bahan baku  industri.  Kentang CP1 adalah varietas kentang yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri, seperti industri keripik, tepung, dan kentang goreng. Suharsono menuturkan sipiwan  hasil penelitian bersama antara Prof. Dr. G.A. Wattimena, M.Sc., Diki Indra Wibawa, Nia Dahniar, dan peneliti IPB lain.

580-H058-1

Dari kiri ke kanan: Umbi kentang paus, granola, sipiwan, dan paus. Selain sipiwan, kedua kentang itu merupakan jenis kentang sayur.

Varietas baru itu lahir melalui teknik radiasi pada varietas kentang keripik impor. Radiasi itu menyebabkan mutasi. Para peneliti lalu menyeleksi tanaman mutasi yang memiliki sifat unggul. Kentang hasil seleksi itu kemudian diberi nama CP1. Menurut Suharsono, doktor alumnus University of Bordeaux, Perancis, produksi kentang  untuk olahan keripik saat ini masih terbatas. Itulah sebabnya beberapa perusahaan terpaksa mengimpor kentang untuk bahan baku keripik.

Selama ini kentang varietas atlantik menjadi primadona industri lantaran tingkat kepadatan total umbi mencapai 22—25% sehingga sangat renyah setelah digoreng. Kandungan gula kentang atlantik juga cukup rendah sehingga tidak gosong saat digoreng. Menurut Suharsono karakter CP1 mirip dengan atlantik. Itu terlihat dari daging kentang berwarna putih kekuningan. Warna putih menandakan kandungan pati tinggi dan gula rendah.

580-H058-2

Bibit kentang sipiwan hasil perbanyakan kultur jaringan.

Dataran tinggi

Baca juga:  Cara Mengatur Suhu Air Pada Hidroponik

Ciri khas sipiwan dapat dikenali dari bentuk umbi yang cenderung bulat. Menurut Suharsono sipiwan sengaja dibuat berbentuk bulat agar lebih mudah saat mengirisnya menjadi keripik. Suharsono mengatakan sipiwan adaptif di dataran berketinggian 1.200—1.400 m di atas permukaan laut (dpl) dan lebih tahan penyakit. Menurut Diki untuk membudidayakan CP1 sama dengan teknik budidaya pada varietas sebelumnya.

Saya tidak mengubah teknik budidaya. Semua prosedur penanaman disesuaikan dengan kebiasaan pekebun setempat,” ujar alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran itu. Sebagai sumber nutrisi, Diki memberikan pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 20 ton per hektare sepekan sebelum tanam. Dalam satu musim tanam Diki menghabiskan 300 kg pupuk ZA, 300 kg SP-36, dan 300 kg Phonska per hektare.

580-H058-3

Peneliti kentang sipiwan (CP 1) di Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Suharsono DEA.

Diki memanen sipiwan pada umur 90—110 hari setelah tanam (HST). Menurut Suharsono para pekebun bisa menghasilkan 25 ton kentang per hektare jika setiap tanaman menghasilkan 7 umbi atau bobot hasil panen 800 gram per tanaman. Berbagai keunggulan itulah yang membuat para pekebun kentang kini mulai melirik sipiwan. Contohnya para pekebun di daerah Pangalengan,  Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Lembang (Kabupaten Bandung Barat), dan Dago (Kota Bandung).

Industri keripik pun berkali-kali datang ke IPB untuk membeli bibit sipiwan. Dengan berbagai keunggulan itu  pantas bila CP1 berhasil meraih peringkat pertama dalam Anugerah Komersialisasi Inovasi IPB 2017. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *