Benih kentang G-0 hasil aeroponik lebih steril dari hama dan penyakit.

Benih kentang G-0 hasil aeroponik lebih steril dari hama dan penyakit.

Teknologi aeroponik menghasilkan benih kentang lebih banyak, bebas hama dan penyakit. Di dataran rendah pun bisa.

Rumah tanam di Desa Leuwikopo, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berketinggian 250 meter di atas permukaan laut itu sekilas biasa saja. Namun, di dalam rumah tanam itu Eni Sumarni STP, MSi bukan menanam selada atau tomat. Ia mengembangkan kentang secara aeroponik. Selama ini para pekebun lazim membudidayakan kentang di dataran berketinggian 800—1.800 meter di atas permukaan laut.

Selain itu aeroponik lazim untuk membudidayakan sayuran daun seperti selada. Eni Sumarni berhasil memanen 14—15 umbi per tanaman. Dengan populasi 45 tanaman dalam 1 meja ukuran 1 m x 1,5 m, periset dari Universitas Jenderal Soedirman itu memanen total 579 umbi. Bobot sebuah umbi rata-rata 409 mg. Bandingkan dengan produktivitas kentang hasil budidaya konvensional menggunakan media tanam hanya 4—7 umbi per tanaman. Artinya produktivitas kentang aeroponik bisa empat kali lipat.

Tetap ekonomis
Eni Sumarni memanfaatkan teknik root zone cooling atau sistem pendinginan di zona perakaran. Sistem buatannya membuat suhu di area perakaran hanya 10,1—10,8°C pada pagi, siang, hingga malam. Bandingkan dengan suhu kontrol yang mencapai 23,8—32,6°C. Ia dan rekan menggunakan mesin refrigerasi yang berfungsi mendinginkan nutrisi. Nutrisi itu yang mengontrol suhu area perakaran saat memancar ke akar tanaman melalui nozel.

Dr Eni Sumarni STP, MSi meneliti aeroponik kentang di dataran rendah.

Dr Eni Sumarni STP, MSi meneliti aeroponik kentang di dataran rendah.

Tanpa sarana itu suhu di perakaran 23,8°C sehingga tanaman gagal menghasilkan umbi sama sekali. Menurut Eni laju dan lama pengisian umbi mempengaruhi produksi umbi. Laju pengisian umbi akan semakin rendah seiring dengan meningkatnya suhu siang hari. Setiap kenaikan suhu 5°C di atas 20°C terjadi penurunan laju fotosintesis sebanyak 25%. “Suhu tinggi menghambat translokasi asimilat ke umbi, sehingga pembentukan umbi pun menjadi terhambat,” ujarnya.

“Dengan memproduksi di dataran rendah, otomatis area pengembangan teknologi aeroponik pun semakin luas sehingga ketersediaan benih akan ikut terdongkrak,” ujar pengajar Teknik Pertanian itu. Menurut Eni produksi kentang aeroponik di dataran rendah masih ekonomis meski memerlukan pendingin nutrisi. M Hariyadi Setiawan yang memproduksi kentang aeroponik di ketinggian 1.170 m di atas permukaan laut (m dpl) tentu tak memerlukannya.

Di dalam rumah tanam 300 m2 yang ia kelola terdapat 3.560 tanaman kentang berbaris rapi di atas 8 meja memanjang. Lebar dan tinggi meja 120 cm x 100 cm. Adapun jarak antartanaman 20 cm x 20 cm. Di atas meja itulah manajer proyek PT East West Seed Indonesia (EWSI), M Hariyadi Setiawan, membudidayakan kentang tanpa tanah.

Pembenihan G0-G1 dapat menggunakan media sekam.

Pembenihan G0-G1 dapat menggunakan media sekam.

Ia mengadopsi teknik aeroponik untuk memperoleh benih kentang. Tanaman tumbuh di atas papan stirofoam setebal 2 cm. Ketika kita menyingkap papan putih itu tampak ratusan umbi kuning bersih sebesar telur puyuh menggantung. Tanaman anggota famili Solanaceae itu mulai berumbi sejak berumur 30 hari dan siap panen 40 hari kemudian. PT EWSI menggunakan bibit hasil kultur jaringan setinggi 7—10 cm.

Baca juga:  Aneka Macam Model Akuaponik / Aquaponics

Produktivitas menjulang
Hariyadi mampu memanen 53.400 umbi kentang G-0 dari sebuah rumah tanam 300 m2. Produktivitas per tanaman mencapai 15 umbi. Potensi produksi bahkan mencapai 20—50 umbi per tanaman. Artinya produktivitas kentang aeroponik bisa empat kali lipat. Ciri-ciri umbi siap panen berdiameter 2—2,6 cm atau berbobot 6 g. “Pemanenan secara bertahap selama 5 kali dalam 2 bulan,” ujar Hariyadi. PT EWSI memproduksi 14 varietas benih kentang unggul sejak dari plantlet atau tanaman hasil kultur jaringan. Namun, proporsi terbesar masih kentang granola.

Rudy Madiyanto mengembangkan aeroponik benih kentang G0 sejak 2001.

Rudy Madiyanto mengembangkan aeroponik benih kentang G0 sejak 2001.

“Kentang granola 60%, sisanya atlantik dan varietas baru yang masih tahap ujicoba,” kata Hari. Untuk membuat modul-modul aeroponik, PT EWSI bermitra dengan Syngenta Foundation for Sustainable Agriculture. “Sementara sistem teknologinya kami mendatangkan ahli dari Center for Potato Research yang berpusat di Peru,” tuturnya. Aeroponik kentang di Indonesia terbilang baru. Lazimnya teknologi budidaya tanpa tanah itu untuk mengembangkan sayuran daun seperti selada.

Menurut mantan peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Eri Sofiari PhD, introduksi teknologi aeroponik kentang dimulai sejak 1997. “Penggunaan teknologi aeroponik kentang berawal dari NASA (National Aeronautics and Space Administration, red) yang membawanya ke luar angkasa,” kata Eri. Umbi lezat itu menjadi makanan utama para astronot.

Park Jong Sub mengembangkan kentang aeroponik di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada 2005. Dua tahun terakhir kian banyak produsen yang mengembangkan kentang dengan teknologi aeroponik. Nun di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur, Rudy Madiyanto memproduksi benih kentang secara aeroponik di sebuah greenhouse seluas 50 m2. Populasinya 2.000 tanaman.

549_ 21

Ia mengeluarkan biaya sekitar Rp50-juta untuk membuat greenhouse aeroponik seluas 50 m2. “Itu sudah semuanya termasuk peralatan, bangunan, sewa lahan, dan bahan tanam,” katanya. Namun hanya dalam dua kali produksi, menurut Rudy modal investasi sudah kembali. Rudy menuai rata-rata 15—17 benih G-0 per tanaman.

Dengan harga Rp1.500—Rp2.000 per umbi, omzet Rudy Rp30-juta per siklus atau 4 bulan masa tanam. Praktis pada penanaman selanjutnya nilai investasi pun kembali karena meraup omzet Rp60-juta. Pelaku lain, Slamet Rahman di Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Ketua Asosiasi Penangkar Benih Kentang Banjarnegara itu mulai membudidayakan benih kentang G-0 secara aeroponik sejak 2,5 tahun silam. Ia menggunakan greenhouse berukuran 6 m x 12 m.

Mantan peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Eri Sofiari PhD.

Mantan peneliti kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Eri Sofiari PhD.

Benih berkualitas
Apa alasan mereka memproduksi benih kentang G-0 dengan aeroponik? Hariyadi menuturkan setiap tahun Indonesia memanen 80.000—100.000 hektar tanaman kentang, sementara benih yang berkualitas masih sedikit. “Selama 5 tahun terakhir Indonesia selalu kekurangan benih berkualitas,” ujar alumnus Institut Teknologi Bandung itu. Data impor benih kentang tiap tahun meningkat lantaran kebutuhan lebih banyak dibanding ketersediaannya.

Baca juga:  Sosok Aduhai Cyphostemma

Pada 2011, misalnya, Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat kebutuhan benih kentang dalam negeri mencapai 103.582 ton, sementara ketersediaannya hanya 15.537 ton (lihat tabel). Harganya pun mahal. Menurut Rudy harga benih G-0 di luar negeri seperti Australia mencapai Rp7.000 per umbi. Bandingkan jika produksi dalam negeri yang hanya Rp2.000 per umbi. Indonesia praktis masih mengimpor benih itu dari berbagai negara seperti Jerman dan Australia.

Itulah sebabnya PT EWSI mulai mengembangkan benih Solanum tuberosum sejak 2014. “Panah Merah (merek yang diusung PT EWSI, red) ingin membantu petani kentang menyediakan benih berkualitas, terjangkau, dan menambah pilihan varietasnya,” kata Hariyadi. Menurutnya benih berkualitas tak hanya soal bersertifikat, tetapi juga bagaimana proses perakitan dan perbanyakannya.

Benih kentang G-0 siap panen berdiameter 2—2,6 cm atau berbobot 6 gram.

Benih kentang G-0 siap panen berdiameter 2—2,6 cm atau berbobot 6 gram.

Menurut Hariyadi untuk menghasilkan benih G-0 sejatinya ada dua cara yaitu dengan hidroponik substrat menggunakan media sekam atau melalui teknologi aeroponik tanpa media tanam (lihat ilustrasi). “PT EWSI memilih aeroponik lantaran produksi tinggi dan lebih steril hama dan penyakit dibanding menggunakan media tanam,” ujar lelaki kelahiran 19 November 1971 itu.

Peneliti aeroponik kentang dari Universitas Hasanuddin, Prof Baharuddin, mengungkapkan hal senada. “Dengan menggunakan teknologi aeroponik, penangkar bisa memperoleh 15—70 umbi kentang G-0 sekali produksi, sementara budidaya dengan tanah atau arang sekam hanya 6—8 umbi,” ujar alumnus Universitas Goettingen, Jerman, itu. Menurut Eri Sofiari PhD, aeroponik membuat penyediaan dan penyerapan nutrisi untuk tanaman kentang lebih maksimal lantaran sangat terkontrol.

Perangkat teknologi itu juga menjaga kesterilan benih dari hama dan penyakit tanaman hingga selesai produksi. “Pengontrolan budidaya lebih mudah lantaran dijalankan dengan sistem,” kata alumnus bioteknologi Universitas Landbouw, Wageningen, Belanda itu. Penangkar benih kentang di Desa Margamukti, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Ir Wildan Mustofa MM, menuturkan hal senada. Benih kentang G-0 dari aeroponik lebih steril.

M Hariyadi Setiawan (kiri) dan Andri Hamzah di dalam greenhouse PT EWSI di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

M Hariyadi Setiawan (kiri) dan Andri Hamzah di dalam greenhouse PT EWSI di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Namun, jika perawatannya salah sedikit saja maka proses penyebaran hama dan penyakit bisa sangat cepat. “Dengan media air penyebaran sangat cepat, sehingga resikonya sangat tinggi,” ujar Wildan. Saat ini penangkaran benih kentang dengan teknik aeroponik di Nusantara berkembang luas. “Perbandingannya dengan penangkar benih nonaeroponik 50 : 50,” ujar Wildan. Meski teknologi itu susah, para penangkar tetap berupaya mengatasinya.

Menurut Hariyadi teknologi aeroponik kentang tinggi investasi dan tinggi risiko. Penangkar benih kentang Indonesia banyak yang menerapkan teknologi itu tetapi tingkat kontaminasi masih tinggi. “Dengan teknologi yang semakin maju ditambah kebutuhan benih kentang yang selalu kurang, prospek budidaya kentang secara aeroponik untuk menghasilkan benih G-0 akan terus berkembang,” kata Hari.

Melihat peluang itu, PT EWSI menyiapkan dua greenhouse lagi untuk aeroponik kentang. Sementara Rudy Madiyanto tengah menyelesaikan greenhouse seluas 400 m2 yang baru ramping 60%. Eni Sumarni meneliti lagi teknologi aeroponik di dataran yang lebih rendah yaitu 125 m dpl. Terbukti meski teknologi aeroponik sarat ilmu, mahal investasi, dan tinggi risiko, penangkar maupun peneliti benih di Indonesia tetap antusias mengembangkannya. (Bondan Setyawan/Peliput: Desi Sayidati Rahimah dan Imam Wiguna)

Produksi Benih Berkualitas

549_ 22

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d