Madu itama untuk konsumsi keluarga

Madu itama untuk konsumsi keluarga

Beternak lebah itama di dak rumah menjadi sumber pendapatan baru Keng Effendy.

Taman itu di pucuk rumah. Di lantai keempat rumah Keng Effendy tumbuh 100 tanaman seperti mangga, sawo, belimbing, putsa, dan lengkeng. Air mata pengantin Antigonon leptopus, bunga wedani Quisqualis indica, dan bunga pagoda Clerodendrum japonicum juga menyemarakkan taman. Keng menghadirkan tanaman-tanaman itu bukan sekadar untuk memperoleh buah segar atau melihat keelokan beragam bunga.

Ia menanam beragam tanaman itu sebagai sumber nektar yang menjadi pakan lebah Trigona itama. Di dak rumahnya yang menempati tanah seluas 100 m2 Keng menyimpan 15 koloni lebah Trigona itama. Koloni lebah itama itu menghuni potongan batang pohon atau log setinggi 50—100 cm dan berdiameter rata-rata 20 cm. Keng menempatkan rumah-rumah lebah dengan jarak 1—3 m.

Keng Effendy menyulap dak gersang menjadi pabrik madu

Keng Effendy menyulap dak gersang menjadi pabrik madu

Tanaman
Setiap pagi sampai menjelang siang, lebah-lebah sebesar semut itu beterbangan mengumpulkan nektar dan polen dari bunga segar dari beragam tanaman di taman itu. Keng praktis tak menyediakan pakan bagi lebah. Ia hanya berupaya agar tanaman tetap tumbuh sehat sehingga menghasilkan bunga—sumber pakan lebah. Itulah sebabnya Keng memasang jaringan pipa untuk menyiram tanaman pada pagi dan sore hari.

Sebulan sekali ia menambahkan media tanam, sedangkan pemupukan NPK setiap 2 bulan. Hasil budidaya lebah trigona, sarjana Ilmu Komputer alumnus Universitas Bina Nusantara itu memperoleh 8 liter madu setiap bulan. Sedikit? Volume produksi itu memang masih rendah, tetapi harga madu itama lebih mahal daripada madu asal lebah Apis sp.

Harga di tingkat peternak seliter madu itama Rp1.250.000, sedangkan madu Apis sp rata-rata Rp160.000—Rp240.000. Produksi 8 liter sebulan itu saat musim kemarau bertepatan bunga beragam tanaman bermekaran. Saat musim hujan, hanya sedikit tanaman berbunga sehingga ia tidak berani memanen madu.

Taman di dak lantai 4 sumber pakan lebah itama

Taman di dak lantai 4 sumber pakan lebah itama

Selain di lantai empat rumahnya, Keng juga membangun koloni Heterogona itama di dua tempat lain, yakni di Banten dan Indramayu—keduanya di pekarangan rumah walet. Hingga kini pria 42 tahun itu mengelola 100 log yang menghasilkan total 50 liter madu sebulan pada musim berbunga. Di dua lokasi itu, ia tidak membangun taman terlebih dahulu. “Di sekitarnya banyak kebun penduduk,” tutur Keng.

Baca juga:  Nektar sedikit

Ia hanya menambahkan beberapa tanaman bunga seperti air mata pengantin, wedani, dan Xanthostemon. Sebelum memelihara Heterogona itama, dak rumah itu terbuka tanpa atap maupun tanaman peneduh. Ide memelihara lebah nirsengat itu datang dari rekan-rekan Keng sesama pembudidaya sarang walet. Beberapa rekan Keng sukses memanen madu hanya beberapa bulan sejak mendatangkan itama.

Mereka menyatakan bahwa konsumsi madu kelulut meningkatkan stamina dan ketahanan tubuh. Keruan saja Keng penasaran. Ia lantas mempelajari cara memelihara lebah anggota suku Meliponini itu. Ia mendatangkan 3 koloni terdiri atas 2 koloni jenis Heterogona itama dan 1 koloni Lepidotrigona terminata dari Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Madu hasil peternakan lebah di lantai keempat rumah Keng Effendy

Madu hasil peternakan lebah di lantai keempat rumah Keng Effendy

Uang sekolah
Keng tak serta-merta menguasai budidaya Heterogona itama. Itulah sebabnya ia beberapa kali membuat kesalahan. “Hal paling sederhana, yaitu menentukan sisi atas log pun harus dipahami. Jika log terbalik, proses pengisian madu lebih lama,” ujar Keng. Risiko lebih besar, peletakan log yang salah menyebabkan madu tumpah dan menenggelamkan koloni di dalamnya.

Pada awal memelihara, ia juga belum bisa memperkirakan letak bilik pengasuhan larva alias brood cell. Akibat salah perkiraan, pria berusia 42 tahun itu memotong bilik pengasuhan larva ketika dalam proses pemasangan penutup. Meski tidak mengenai ratu, larva dalam sel tewas sebelum menetas. Saat umur pekerja dan prajurit uzur, generasi baru belum muncul.

Tatakan berisi air mencegah invasi semut

Tatakan berisi air mencegah invasi semut

Efeknya, koloni menjadi lemah dan rentan serangan pengganggu. “Produktivitas madu pun berkurang karena tidak ada yang mengumpulkan bunga,” ungkap Keng. Akhirnya beberapa bulan kemudian, koloni itu habis dan hanya menyisakan log kosong. Salah satu pengalaman pahit tak terlupakan adalah ketika sekoloni itama ludes oleh semut gula.

Baca juga:  Cordova Pewaris Idola

“Padahal paginya saya duduk di sana tidak tampak ada semut. Begitu sore saya pulang, tampak barisan semut menuju sarang,” tutur Keng. Saat ia amati, sarang itu tidak lagi menampakkan tanda-tanda kehidupan. Tidak ada klanceng yang terbang keluar masuk, bahkan prajurit yang berjaga di mulut jalan masuk pun lenyap. Sarang menjadi batang kayu mati. Sejak itu, semua log ia letakkan di atas meja yang kakinya diberi wadah berisi air.

Total nilai log yang gagal bertahan ia anggap sebagai “uang sekolah”. Sementara biaya pembelian log, tanaman, dan pembuatan kanopi ia golongkan sebagai investasi. Namun, dak lantai 4 yang semula gersang itu kini sejuk dan teduh. Sudah begitu, ada makhluk mini yang beterbangan menambang minuman kesehatan.

Saat produksi stabil, Keng bakal memproduksi madu kelulut itu dan memasarkannya. “Meskipun harganya terbilang tinggi dibandingkan madu yang ada di pasaran, tapi kalau khasiatnya langsung terasa pasti dicari orang,” ujar Keng. Manfaat itu juga yang membuat Keng terdorong membangun pabrik mini di dak rumah. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d