Kendala Berkebun Lada 1

Faktor krusial berkebun si raja rempah: penggunaan naungan, penentuan umur efektif mulai berbuah, drainase lahan yang baik, pemangkasan rumpun tua, dan atasi serangan nematoda. Jangan lengah, atau kegagalan siap menghadang.

Lada sehat dan produktif dengan penanganan tepat untuk atasi berbagai kendala.

Lada sehat dan produktif dengan penanganan tepat untuk atasi berbagai kendala.

Gomos Nainggolan jatuh hati pada lada perdu dan menanam 200 bibit di halaman rumahnya di Meruya, Jakarta Barat. Sayang, satu per satu lada di halaman rumahnya menguning dan mati. Hanya dalam 2 bulan, 196 bibit mati. Gomos menanam lada perdu tanpa naungan sama sekali. Ia menduga hal itulah pemicu kematian bibit. Kini hanya tersisa 4 tanaman.

Aryoto menghadapi persoalan sama. Sebanyak 200 bibit lada perdu di halaman rumahnya akhirnya tak satu pun yang selamat. Ketika bibit tumbuh subur dan kemudian berbuah pun, lada yang berjuluk raja rempah itu tak bebas ancaman. Lihat saja lada perdu di depan rumah Ir Joko Sagastono tumbuh subur dan mulai berbuah. Keruan saja warga Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah, itu senang bukan main.

Percikan air
Joko Sugastono tak pernah bosan mengamati sosok elok itu setiap pagi sebelum berangkat dan sore sepulang kerja. Dari ketiak daun sebelum ujung muncul tangkai yang mulai berisi butir-butir mungil calon buah Piper nigrum itu. Selain itu ia menaburkan pupuk setiap kali tanaman memunculkan tunas baru.

Gulma mengganggu ketersediaan hara sekaligus bisa menjadi inang hama atau penyakit.

Gulma mengganggu ketersediaan hara sekaligus bisa menjadi inang hama atau penyakit.

Sayang, kesenangan Joko tidak berlangsung lama. Beberapa pekan berselang, buah justru mengering lalu rontok. Selanjutnya tanaman berumur hampir 8 bulan itu seakan berhenti tumbuh. Celakanya lada yang tumbuh di pekarangan Joko itu menguning. Suatu sore, sepulang kantor Joko menjumpai tanaman itu layu.

Hari berikutnya lada perdu di polibag yang ia peroleh dari seorang teman itu mengering dan akhirnya mati. Sejatinya Joko Sagastono bukan orang yang awam tanaman. Pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian itu belajar pertanian secara formal. Ia sangat paham risiko membiarkan tanaman berbuah pada umur yang sangat belia. Menurut Joko akar, pembuluh, dan daun tanaman muda menghasilkan nutrisi yang terbatas untuk perkembangan vegetatif.

Baca juga:  Atasi Bulu Rontok

Jika tanaman muda itu berbuah, prioritas aliran nutrisi mengalir ke buah. Begitu akar atau daun rusak, tanaman tidak mampu mengganti dengan yang baru. Joko “sengaja” membiarkan tanaman ladanya berbuah lantaran ia ingin mengamati perkembangan lada perdu yang kini tengah marak di wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara, Jawa Tengah.

Pasalnya, “Banyak orang tergiur keuntungan tanpa mempelajari sifat tanaman dan risikonya,” kata pria 55 tahun itu. Belajar dari pengalaman, ia menyarankan merompes buah yang muncul sebelum tanaman berumur setahun—minimal 9 bulan—sampai tanaman benar-benar kuat mengisi buah.

Sungkup dan naungan meningkatkan kelulusan hidup bibit.

Sungkup dan naungan meningkatkan kelulusan hidup bibit.

Ciri lain tanaman sehat yang siap berbuah antara lain berdaun subur, mengeluarkan banyak anakan, dan bebas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengalaman Joko yang lain, tanaman mati setelah malam hari terkena hujan sementara hari berikutnya panas terik. “Daun menghitam seperti terbakar lalu seluruh tanaman layu dan mati,” ujar Pelaksana Teknis Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Purbalingga itu.

Menurut Ir Rudi Purwadi, konsultan penanaman lada dan tanaman hortikultura di Bogor, Jawa Barat, lada perdu memerlukan perhatian khusus lantaran karakter tanaman yang merumpun dan rendah dekat permukaan tanah. “Bumbun rumpun tanaman dan pastikan drainase lahan baik,” ujar Rudi. Maklum, tanaman lada—baik rambat maupun perdu—rentan kelembapan berlebih.

Agen hayati
Genangan air atau percikan tanah akibat hujan saja bisa berakibat fatal. Proses kondensasi uap di awan mengikat unsur nitrogen dari udara dan membuat air hujan kadang bersifat asam. Begitu terpapar hujan asam, tanaman menjadi lemah sehingga cendawan tular tanah, tular air, maupun tular angin akan berebutan menyerang. Saat sinar matahari menghangatkan tajuk, cendawan pun langsung menyebar dan mengakibatkan serangan fatal.

Untuk mencegahnya, Joko menyarankan pekebun menyempatkan untuk menyiram tanaman kalau hujan malam sebelumnya. Tujuannya sekadar membilas sisa air hujan sekaligus menghilangkan percikan tanah yang menempel di daun sehingga tidak perlu terlalu banyak. “Hentikan penyiraman begitu daun kelihatan basah,” ungkap Joko. Tidak selamanya tanaman mesti diperlakukan seperti itu.

Ir Joko Sagastono tengah mengamati sifat lada perdu sebelum menganjurkannya kepada masyarakat.

Ir Joko Sagastono tengah mengamati sifat lada perdu sebelum menganjurkannya kepada masyarakat.

Setelah dewasa atau berumur lebih dari setahun, tanaman benar-benar kuat dan tahan cuaca. Untuk mengurangi kelembapan tajuk yang berpotensi mengundang penyakit, Rudi menyarankan pemangkasan bagian tengah rumpun alias tanaman tua. “Pastikan sinar matahari bisa mencapai pangkal batang agar spora cendawan mati,” kata alumnus Universitas Jenderal Soedirman itu.

Baca juga:  Dari Sawit ke Sayuran

Cara itu juga mengurangi kerusakan akibat penyakit yang paling menjadi momok pekebun lada, yaitu penyakit kuning. Pemicu utamanya adalah nematoda parasit jenis Meloidogyne sp yang memakan akar sehingga pasokan air terganggu. Nematoda menyusup ke dalam akar dan membentuk puru—semacam bintil—di akar. Petani mampu mencegah dengan agensi hayati dan penanaman tanaman penutup lahan (legume cover crop, LCC).

Tanaman penutup lahan antara lain kacang pinto Arachis pintoi. Amiruddin, Muhammad Taufik, dan Andi Khaeruni dari Program Studi Agronomi Pascasarjana Universitas Halu Oleo, Kendari, membuktikan keandalan kacang pinto. Amiruddin dan rekan membandingkan kinerja cendawan protagonis Trichoderma, bakteri pemacu pertumbuhan alias Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), dan fungisida.

Perlakuan itu ditambah penanaman kacang pinto. Setelah 30 pekan, hanya 1,67% populasi sampel bibit lada asal setek yang diberi kombinasi perlakuan PGPR dan terserang penyakit kuning. Populasi kontrol (tanpa perlakuan) terserang 28,33%; yang diberi aplikasi fungisida, 11,67%. Itu 10 kali lipat serangan terhadap populasi yang diberi perlakuan kombinasi PGPR dan Trichoderma.

Kacang pinto mampu menghambat nematoda.

Kacang pinto mampu menghambat nematoda.

Pembuatan PGPR dan Trichoderma pun sederhana dan murah. Petani di Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat, Ahmad Jaelani membuat Trichoderma dari nasi basi dan PGPR dari akar bambu, akar tanaman legum, serta air kelapa (baca “Rahasia Tentara Tanam Padi”, Trubus Juni 2015). Nun di Banyumas, Jawa Tengah, Supartoto mengatasi serangan cendawan Phytophthora capsici penyebab busuk pangkal batang dengan aplikasi cendawan protagonis jenis Mikoriza.

“Mikoriza menghasilkan hormon sidrofor yang menghambat Phytophthora,” kata Supartono. Dalam sebulan, 10 gram mikoriza mampu membungkus seluruh akar bibit lada. Manfaat lain, bibit yang diberi mikoriza mempunyai tingkat kelulusan hidup lebih tinggi. Menurut Joko Sagastono, fase bibit memerlukan perhatian ekstra karena sangat rentan penyakit. Salah satunya dengan memberikan naungan jaring maupun sungkup di pembibitan. Dengan berbagai solusi itu, calon pekebun lada perdu pun tidak perlu risau. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Andari Titisari & Muhammad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *