Kenaf Segala Musim 1
Kenaf KR-11 dapat ditanam kapan saja karena tak peka fotoperiodesitas

Kenaf KR-11 dapat ditanam kapan saja karena tak peka fotoperiodesitas

Baru kali ini Samadji memanen hingga 2,5 ton kenaf di lahan 1 ha. Itu hasil panen terakhir pada Januari 2014. Dalam setahun ia sekali menanam Hibiscus cannabinus yang dipanen pada umur 4 bulan. Pengalaman tiga windu menanam kenaf, pekebun di lahan bonorowo, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, itu hanya menuai paling banter 2,2 ton. Selisih 300 kg itu amat berarti bagi Samadji.

Artinya ia mendapat tambahan omzet Rp1.600.000. Harga serat kenaf kering di tingkat pekebun kini mencapai Rp6.000 per kg. Dengan produksi 2,5 ton serat kering, omzet Samadji Rp15-juta per hektar dengan keuntungan bersih Rp2-juta per bulan. Hasil itu lebih tinggi ketimbang saat ia memanen 2,2 ton dengan omzet Rp13,8-juta dan laba bersih Rp1,7-juta per bulan. Sementara biaya produksi budidaya kenaf mencapai Rp7-juta per hektar.

Marjani meneliti kenaf sejak 1984

Marjani meneliti kenaf sejak 1984

Vietnam-Guatemala
Samadji menerapkan teknik budidaya yang sama. Bedanya ia menggunakan varietas baru, KR-11 hasil pemuliaan Drs Marjani MP dan rekan dari Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas). Nama varietas baru itu singkatan dari Karangploso—nama kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, lokasi Balittas. Adapun angka 11 merupakan kenaf ke-11 yang dihasilkan Balittas.

Menurut Marjani, KR-11 adalah turunan kenaf varietas G-4 dan varietas Hc-48. “G4 merupakan plasma nutfah kenaf yang didatangkan dari Guatemala,” ujar peneliti kelahiran Blitar, 18 Agustus 1962 itu. G-4 memiliki beragam sifat unggul di antaranya produksi serat tinggi, tahan genangan air, tahan kering, dan kurang peka terhadap fotoperiodesitas atau panjang hari.

Menurut Marjani salah satu kendala membudidayakan kenaf saat ini adalah belum ada varietas produktif, genjah, dan kurang peka terhadap fotoperiodesitas. Alumnus Pemuliaan Tanaman, Universitas Brawijaya, itu mengungkapkan, kenaf yang peka terhadap fotoperiodesitas kurang disukai karena menyebabkan tanaman cepat berbunga dan berbatang pendek.

Baca juga:  Laba Naik 20%

“Padahal kenaf dibudidayakan untuk diambil serat batangnya sehingga dibutuhkan kenaf berbatang panjang yang banyak seratnya,” ujarnya. Menurut Marjani Hc-48 lebih adaptif di berbagai kondisi lahan, memiliki produksi serat tinggi, produksi benih tinggi, pertumbuhan cepat, dan tahan genangan. Kombinasi sifat G-4 dan Hc-48 dari Vietnam menghasilkan varietas KR-11 yang unggul dari segi produktivitas dan dapat dibudidayakan setiap waktu.

Olahan serat kenaf menjadi beragam produk multiguna seperti pintu mobil

Olahan serat kenaf menjadi beragam produk multiguna seperti pintu mobil

Lahan kritis
Dengan hadirnya kenaf-kenaf baru yang kurang peka terhadap fotoperiodesitas, petani leluasa menanam kenaf sepanjang tahun. “Sebelum hadir KR-11, petani hanya membudidayakan pada Agustus,” ujar Marjani. Secara umum KR-11 berbunga pada umur 87—95 hari setelah tanam (hst) dan panen 130—140 hst. Tinggi tanaman 278—420 cm dengan diameter batang 1,6—3,2 cm.

Potensi hasil 2,75—4,2 ton per hektar. Selain itu, kekuatan serat KR-11 mencapai 24,46—29,6 g/tex dan persentase serat 5,5—6,5%. Selain KR-11, Balittas juga memiliki kenaf baru lain, yakni KR-14 dan KR-15. Keduanya cocok dikembangkan di lahan podsolik merah kuning (PMK) dan gambut dengan kesuburan rendah di Kalimantan Timur. “Tetuanya sama dengan KR-11,” ujar Marjani.

Untuk menghasilkan varietas yang cocok di lahan PMK, Marjani melakukan uji multilokasi di 4 tempat yaitu di Lempake, Kecamatan Makroman, Kota Samarinda, Samboja (Kabupaten Kutaikartanegara), dan Empas, (Kabupaten Kutai Barat). “Penelitian di Lempake, Makroman, dan Samboja selama 3 musim tanam pada 2003, 2004, dan 2005,” ujar peneliti yang hobi membaca itu.

Uji coba di Empas, Kabupaten Kutai Barat, hanya satu musim yaitu pada 2004. Pada masing-masing musim, penelitian sejak Mei sampai Juni dan selesai September sampai November. “Pada Juli dan Agusutus tanaman kenaf akan mengalami kekeringan,” ujarnya. Selain uji multilokasi, Marjani juga menguji varietas barunya itu dari segi ketahanan terhadap kekeringan, ketahanan terhadap keracunan aluminium, dan uji ketahanan terhadap nematoda puru akar.

Baca juga:  Panen Besar Padi Harum

Hasilnya, dari 24 galur yang diuji Marjani dan rekan, muncul dua galur unggul yang cocok untuk lahan kering dan lahan podsolik merah kuning. Dua galur itu adalah p85-9-66-2 yang kemudian dilepas dengan nama KR-14 dan galur 85-9-66-1BB yang dirilis menggunakan nama KR-15. “Dua-duanya tahan kekeringan dan cocok untuk lahan podsolik merah kuning,” ujarnya.

Serat kenaf kering bahan baku beragam produk

Serat kenaf kering bahan baku beragam produk

Kapan saja
Secara umum, KR-14 berbatang tinggi mencapai 425 cm dan umur panen 120—140 hari setelah tanam. KR-14 memiliki potensi hasil mencapai 4,5 ton per hektar dengan kekuatan serat 22,19—28,89 g/tex. Sementara KR-15 memiliki umur panen 120—130 hari setelah tanam. Rendemen serat mencapai 7% dengan potensi hasil 2,5—4,5 ton per hektar. “KR-14 dan KR-15 juga kurang peka terhadap fotoperiodesitas, sehingga bisa ditanam kapan saja,” ujar Marjani.

Menurut Dr Ir Sudjindro MS, peneliti kenaf dari Balittas, pengembangan kenaf di Kalimantan Timur memiliki beragam keunggulan yaitu mampu beradaptasi di lahan masam, setelah 2 bulan mampu hidup dengan baik meski tergenang air selama beberapa bulan, umur panen relatif pendek dibandingkan dengan tanaman perkebunan lain yang hanya 4—5 bulan.

Saat ini pengembangan kenaf terbesar di Indonesia baru di lahan bonorowo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban dan Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Setiap tahun, penanaman kenaf di sana berkisar 1.500—2.000 hektar. Pengembangan itu masih jauh dari kebutuhan kenaf dalam negeri. Menurut Marjani kebutuhan serat kenaf dalam negeri mencapai 3.000—5.000 ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 2.500 ton.

“Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, pemerintah melakukan impor,” ujarnya. Jika dahulu kenaf hanya dimanfaatkan sebagai bahan karung goni, kini seratnya juga bisa dibuat papan serat, papan partikel, pulp, kertas, penyekat ruang, tekstil, dan doortrim mobil. Tanaman kerabat rosela itu terbukti multiguna. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *