Satu provinsi di Indonesia yang memiliki keunggulan pertanian dan perkebunan adalah Bali. Wilayah yang berada di timur Jawa tersebut mempunyai komoditi pertanian dan perkebunan yang potensial. Salah satunya salak gula pasir.

Banyak pelaku budidaya salak gula pasir di sana. Salah satunya I Ketut Latra, pertani yang bermukim di Desa Jungutan, Kecamatan Babandem, Kabupaten Karangasem, Bali.

Sejak 2006 ia mengembangkan usaha perkebunan salak gula pasir di atas lahan 3 hektar dengan 1.000 batang pohon induk.

Usahanya sukses. Salak gula pasir menjadi usaha utama yang ia tekuni untuk menghidupi keluarga dan anak-anak. Apalagi ia juga aktif melaksanakan penyuluhan dan pendampingan terhadap petani di lingkungannya.

Atas dasar itu tidak heran jika ia mendapat penghargaan dari pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pertanian. Ia ditetapkan sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya Berprestasi tingkat nasional tahun 2015.

Apa saja yang dilakukan I Ketut Latra sampai ia bisa mendapat penghargaan seperti itu?

Selain mengembangkan budidaya salak gula pasir dan mengadakan penyuluhan, I Ketut Latra juga sukses meningkatkan modal para kelompok tani di Karangasem.

Infrastruktur yang terbatas seperti jalan dan lahan pertanian juga coba diatasi I Ketut Latra bersama petani lain dengan cara gotong royong.

Hasilnya jalan desa dapat dibangun. Kendaraan roda dua dan empat dapat melalui Desa Jungutan kini. Tentu itu menambah keunggulan budidaya salak gula pasir yang dikembangkannya. Aksesnya tidak lagi terhambat.

Selain itu, ia juga sering meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) petani di sekitarnya dengan cara berdiskusi, pertemuan kelompok, dan studi banding ke daerah lain. I Ketut Latra pun rajin menulis menyiapkan materi pelatihan bagi petani binaannya.

Materinya macam-macam. Mulai dari cara pembuatan kripik buah salak, teknologi pembuatan pasta salak, dan teknik budidaya salak gula pasir lainnya.

Baca juga:  Dokter di Kebun Buah

Selain sebagai penyuluh pertanian, I Ketut Latra juga menjabat sebagai Ketua Forum Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Kabupaten Karangasem. Dengan begitu ia juga sering diminta menjadi narasumber berbagai pelatihan.

Pengembangan dirinya pun berlanjut pada berbagai jenis pelatihan dengan aneka tema, seperti pelatihan pengelolaan P4S (2014), penangkar benih (2012), budidaya hortikultura (2013), dan pembudidayaan jamur tiram serta pengolahannya (2011).

Namun, di balik itu semua, I Ketut Latra juga mengembangkan sayapnya ke usaha peternakan. Ia mempunyai peternakan sapi dan babi yang diintegrasikan dengan dua unit pengolahan pupuk organik.

Kiprahnya yang luas di bidang pertanian tersebut membuat I Ketut Latra semakin dikenal sebagai penyuluh pertanian yang sukses di Bali.

Banyak warga sekitar yang menanyakan permasalahan pertanian padanya. Ia pun tidak pelit ilmu. Ia konsisten mengikuti permasalahan petani di sekitarnya dan mencoba menawarkan solusi terbaik. Tak heran jika ia mendapat penghargaan bergengsi dari pemerintah tersebut.

I Ketut Latra patut menjadi contoh terbaik penyuluh yang sukses mengembangkan pertanian Indonesia. Dengan usaha terus menerus dan mencoba memberikan solusi, penyuluh pertanian Indonesia senantiasa mendampingi petani maju dan sukses mengejar impiannya.

Sumber : t r i b u n n e w s . c o m