Kumis kucing Orthosipon aristatus berbunga ungu banyak ditemukan di Kalimantan.

Kumis kucing Orthosipon aristatus berbunga ungu banyak ditemukan di Kalimantan.

Beragam tanaman anggota famili Lamiaceae terbukti kaya manfaat. Beberapa mulai tersingkir.

Leluhur etnis Jawa menyajikan daun kumis kucing sebagai teh karena bermanfaat memperlancar urine. Itu muasal julukan kumis kucing sebagai java tea. Masyarakat mengenal kumis kucing Orthosipon aristatus sebagai tanaman herbal. Genus Orthosipon memiliki ciri khas, tangkai sarinya mirip kumis pada kucing rumahan. Kemiripan itu begitu melekat sehingga masyarakat menyebutnya kumis kucing.

Kumis kucing juga mendapat sebutan herbal penggempur batu ginjal lantaran andal melarutkan endapan di dalam saluran kemih. Khasiat lain kumis kucing antara lain menghalau asam urat, diabetes mellitus, hipertensi, alergi, bakteri, albuminuria, sifilis, masuk angin, encok, dan sembelit. Kehebatan itu berkat kandungan senyawa kimia yang bermanfaat seperti senyawa turunan terpen dan fenolat, garam kalium, minyak asiri, dan ortosiponin glikosida.

Spesies beragam
Kumis kucing tumbuh di seluruh kawasan Asia Tenggara dan sebagian benua Australia yang beriklim tropis. Masyarakat Malaysia menyebut kumis kucing dengan nama misai kucing, sedangkan warga Thailand menyebut yaa nuat maeo. Di India daun kumis kucing digunakan untuk mengatasi reumatik. Di Indonesia, daun tanaman anggota keluarga Lamiaceae atau mentol-mentolan itu menjadi bahan jamu.

Keragaman tanaman kumis kucing di Indonesia.

Keragaman tanaman kumis kucing di Indonesia.

Tanaman kumis kucing berupa semak dengan tinggi sekitar 1,5 m. Daun tanaman hijau, berpasangan, dan saling berhadapan. Bunga tersusun memutar dari bawah ke atas dengan warna putih, ungu, atau kebiruan. Bunganya cantik sehingga kumis kucing kerap menjadi penghias pekarangan. Tanaman adaptif iklim tropis sehingga mudah ditanam dan diperbanyak dengan setek maupun biji.

Selain O. aristatus, di Indonesia ada O. thymiflorus, O. rajaampatensis sp. nov, dan O. endanghidayatae sp. nov. Aristatus bersinonim dengan stamineus dan banyak tumbuh di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di Sumatera kumis kucing dikenal dengan nama giri-giri marah. Mahkota bunga kumis kucing yang tumbuh di Sumatera dan Jawa berwarna ungu pucat atau putih.

Kumis kucing albino O. endanghidayatae sp. nov bersosok pendek dengan tinggi 0,3—0,5 m.

Kumis kucing albino O. endanghidayatae sp. nov bersosok pendek dengan tinggi 0,3—0,5 m.

Tangkai sari lebih panjang daripada mahkota bunga, bahkan melebihi bibir bunga bagian atas. Kelopak bunga berkelenjar. Di urat dan pangkal kelopak tumbuh bulu-bulu pendek dan jarang, sedangkan pada bagian yang paling atas gundul. Sementara itu, mahkota bunga, tangkai sari, dan tangkai putik kumis kucing dari Kalimantan berwarna ungu gelap. Batang hingga tangkai daun juga berwarna ungu.

Kumis kucing asal Kalimantan jarang menghasilkan biji sehingga perbanyakannya dengan setek. Walapun warna bunga berbeda, tetapi kedua kumis kucing itu memiliki daun serupa. Daun bundar atau lonjong dengan ujung runcing atau tumpul dan bergerigi di tepi. Panjang daun antara 1—10 cm dan lebar 0,75—1,5 cm. Permukaan daun berbintik-bitik, menandakan terdapat kelenjar yang sangat banyak.

Baca juga:  Halal Bihalal Maniak Durian

Jenis baru
Varietas kumis kucing di Jawa dan Sumatera mungkin berbeda dengan kumis kucing yang hidup di Kalimantan. Pembuktiannya masih menanti kesimpulan peneliti yang sedang menguji asam deoksiribonukleat (DNA) kedua tanaman itu. Adapun O. rajaampatensis sp. nov merupakan spesies baru yang ditemukan di Sungai Waisoos, Pulau Waigeo, Kabupaten Rajaampat, Papua Barat.

Kumis kucing O. rajaampatensis sp. nov merupakan spesies baru yang ditemukan di Sungai Waisoos, Pulau Waegeo, Papua Barat.

Kumis kucing O. rajaampatensis sp. nov merupakan spesies baru yang ditemukan di Sungai Waisoos, Pulau Waegeo, Papua Barat.

Itu sebabnya peneliti menyematkan rajaampatensis sebagai nama spesies. Habitatnya di sekitar endapan sungai dan tepi sungai, jauh dari pemukiman penduduk. Sebagian lain tumbuh di tanah berpasir dan berkerikil di ketinggian 0—50 meter di atas permukaan laut (m dpl). Mahkota bunga rajaampatensis tertutup tapi mampu membentuk biji yang mudah tumbuh.

Rajaampatensis bisa dikenali dengan batang tanaman yang tegak, persegi empat, dan keras. Daun tanaman berhadapan saling silang. Bentuk daun ada yang bundar adapula yang lonjong agak sempit. Tanaman berbunga majemuk dengan mahkota putih dan kelopak bunga hijau. Di permukaan luar kelopak terdapat bulu dan kelenjar. Potensi lanjut rajaampatensis belum diketahui, masih memerlukan penelitian dan diskusi lebih dalam dengan ahli tumbuhan keluarga Lamiaceae.

Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, juga terdapat kumis kucing jenis lain bernama O. endanghidayatae sp. nov. Endanghidayatae istimewa sebab seluruh bagian tanaman mulai dari batang, daun, hingga bunga, berwarna putih alias albino. Kumis kucing albino itu ditemukan oleh Endang Hidayat, pegawai taman di Kebun Raya Bogor. Itu sebabnya tersemat nama endanghidayatae sebagai penghormatan kepada sang penemu. Tanaman cenderung pendek hanya setinggi 0,3—0,5 m.

Kerabat mentol

Kemangi O. basilicum, kerabat kumis kucing memiliki daun beraroma khas.

Kemangi O. basilicum, kerabat kumis kucing memiliki daun beraroma khas.

Sejatinya ada banyak tanaman keluarga mentol yang juga berfaedah herbal seperti kumis kucing. Boleh dibilang pusat keanekaragaman keluarga mentol berada di Pulau Jawa. Sebut saja hamru lemah (Scutellaria discolor, S. slametensis, dan S. javanica), jawer kotok (Plectranthus galeatus, P. javanicus, dan P. coleus spp.), lukas (Leucas javanica), basil atau kemangi (Ocimum basilicum dan O. canum), dan daun poko (Mentha arvensis.)

Genus Scutellaria dan Plecranthus paling mudah dikenali. Scutellaria memiliki zat bioaktif berupa flavonoid, krisin, iridoids, neoklerodans, scutapins dan isoskutelarein. Senyawa antibakteri dan antivirus itu terkumpul di akar tanaman. Uji praklinis membuktikan senyawa itu menghambat tumor kulit. Mewakili genus Scutellaria adalah hamru lemah S. discolor.

Sosok tanaman semak pendek dengan batang jarang bercabang. Daun berselaput, berbentuk elips agak bundar, dan tepinya kasar beringgitan. Permukaannya ada yang berbulu ada pula yang polos. Mahkota bunga berbentuk terompet dengan warna biru, biru pucat atau lembayung jingga.

Sementara itu tanaman genus Plecranthus yang sohor adalah jawer kotok P. javanicus. Tanamannya berbentuk semak pendek dengan batang persegi empat dan mudah patah. Daun tanaman berselaput membundar atau bundar memanjang, dan bertepi meruncing. Bunga berbentuk untaian bersusun tumbuh di pucuk tangkai batang. Warna bunga ungu kebiruan atau biru pucat dengan mahkota berbibir 2.

Jawer kotok mengandung beragam senyawa bermanfaat antara lain alkaloid, etil salisitas, metil eugenol, eugenol, timol, karvakrol, dan mineral.

Jawer kotok mengandung beragam senyawa bermanfaat antara lain alkaloid, etil salisitas, metil eugenol, eugenol, timol, karvakrol, dan mineral.

Jawer kotok menjadi tanaman obat penting lantaran mengandung banyak zat berkhasiat. Kandungannya antara lain alkaloid, etil salisilat, metil eugenol, eugenol, timol, karvakrol, dan mineral. Jawer kotok meredakan penyakit antara lain ambeien, diabetes mellitus, demam, sembelit, sakit perut, bisul, atau datang bulan terlambat. Seperti kumis kucing, penampilan jawer kotok menarik sehingga layak dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Baca juga:  Bayu Ari Sidi: Laba Manis Jambu Madu

Selain jawer kotok adapula kentang hitam P. rotundifolius. Kentang hitam tumbuh tegak agak menjalar setinggi 20—75 cm. Batang tanaman berwarna hijau, persegi empat, berair, dan lunak. Tanaman berdaun tunggal, berbulu, berujung tumpul, dan beringgit di bagian tepi. Bunga kecil ungu dengan mahkota menyerupai bibir dan kelopak berbentuk bintang. Akar tanaman serabut membentuk umbi yang berwarna coklat atau hitam dengan daging umbi berwarna putih.

Tumbuhan lain yang berkerabat dengan kumis kucing adalah kemangi O. basilicum. Masyarakat Jawa Barat mengonsumsi daun kemangi sebagai lalapan, sedangkan masyarakat Papua Barat memasak kemangi sebagai campuran papeda. Kemangi juga sohor sebagai obat tradisional. Minyak kemangi menjadi bahan industri farmasi dan parfum. Batang kemangi berkayu, berbentuk segi empat, beralur, bercabang, dan berbulu hijau.

Daun hijau tunggal berbentuk bulat telur dengan ujung runcing dan beringgit di bagian tepi. Bunga majemuk berbentuk tandan dan berbulu pendek hijau. Mahkota bunga membundar dengan warna keunguan. Bunga menghasilkan buah berbentuk kotak dan berwarna cokelat tua. Bijinya berukuran kecil. Tiap buah terdiri atas empat biji berukuran kecil dan hitam.

Perbanyakan

Sosok bunga scutellaria memiliki mahkota bunga berbentuk terompet dengan warna biru, biru pucat atau lembayung jingga.

Sosok bunga scutellaria memiliki mahkota bunga berbentuk terompet dengan warna biru, biru pucat atau lembayung jingga.

Dahulu tanaman kerabat mentol-mentolan lazim menjadi penghias pekarangan. Sayang pekarangan yang semakin sempit dan naiknya popularitas tanaman lain menyingkirkan mereka. Sudah begitu, perubahan iklim drastis mengancam kelestarian sejumlah tanaman, termasuk keluarga mentol-mentolan. Padahal, tanaman keluarga mentol berpotensi menyembuhkan beragam masalah kesehatan.

Perlu upaya bersama mempopulerkan kembali tanaman keluarga mentol itu sehingga tanaman terhindar dari kepunahan. Upaya perbanyakan harus terus dilakukan baik di lingkup konservasi in situ maupun eks situ. Dalam area in situ berupa pelarangan ketat pengambilan tanaman di taman nasional, cagar alam, dan hutan lindung Begitu juga pelestarian eks situ di kebun atau pekarangan milik masyarakat.

Perbanyakan bisa dengan penanaman biji, setek batang, maupun pemisahan tunas anakan. Perawatannya tidak repot karena tanaman keluarga mentol mudah tumbuh dan adaptif. Kebun Raya Bogor juga memperbanyak tanaman di rumah kaca dan rumah jaring untuk menambah koleksi dan bahan penelitian. Perbanyakan tanaman secara vegetatif dilakukan dengan setek pucuk, batang, dan daun.

Bahan setek batang dan pucuk berasal dari tanaman muda. Pangkal potongan batang sepanjang 10 cm diolesi zat pengatur tumbuh. Selain itu juga dilakukan perbanyakan generatif dengan biji dari bunga tanaman koleksi. Upaya-upaya diharapkan melestarikan tanaman keluarga mentol dan menghindarkan dari kepunahan. (Dr. Ir. Sudarmono, M.Sc., Peneliti Madya Pusat Konservasi Tanaman Kebun Raya Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d