Kelor Dongkrak Kualitas Sperma Kambing 1

Tanaman kelor tingkatkan daya hidup sperma pejantan boer.

Tanaman kelor tingkatkan daya hidup sperma pejantan boer.

Pemberian tepung kelor 0,05% dari bobot badan tingkatkan viabilitas sperma 51,32%.

Loka Penelitian Kambing Potong (Lolit Kambing) di Seiputih, Sumatera Utara, kini tengah gencar melakukan program pengembangan kambing boerka di berbagai daerah. Kambing boerka adalah hasil perkawinan silang antara pejantan boer dan betina kacang. Berdasarkan hasil penelitian Loka Penelitian Kambing Potong, kambing hasil silangan itu lebih unggul dibandingkan dengan kambing lokal. Pertumbuhannya cepat dan bobot tubuhnya lebih besar. Daya adaptasi terhadap lingkungan tropis basah pun sangat baik.

Kambing Boerka rata-rata berbobot lahir 42% lebih berat ketimbang kambing kacang. Bobot lahir anak jantan cenderung lebih tinggi dibanding anak betina. Pada umur 12—18 bulan, boerka jantan mencapai bobot tubuh 26—36 kg. Bobot itu memenuhi persyaratan ekspor. Oleh sebab itu Lolit Kambing menggadang-gadang boerka sebagai kambing potong yang berpotensi menjadi komoditas ekspor. Kini lembaga yang bernaung di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian itu tengah gencar menggenjot produksi dan penyebarluasan boerka.

Vitalitas kambing jantan meningkat dengan kelor.

Vitalitas kambing jantan meningkat dengan kelor.

Namun, lokasi Lolit Kambing di Sei Putih yang jauh menjadi kendala bila lembaga itu mengirimkan pejantan boerka ke berbagai daerah sebagai sumber sperma. Satu-satunya jalan adalah dengan mengirimkan sperma boerka beku. Setelah sperma diambil dari pejantan, sperma segar diproses dengan menambahkan bahan-bahan tertentu, lalu dibekukan pada suhu -196oC. Saat akan digunakan untuk inseminasi buatan, sperma beku itu diaktifkan kembali dengan cara dihangatkan. Selanjutnya sperma diinseminasikan ke induk-induk betina di berbagai daerah.

Namun, kondisi sperma beku yang dibekukan harus berkualitas baik. Pasalnya, sperma akan melalui banyak proses yang sangat ekstrem seperti kejutan suhu. Sperma akan tetap aktif dan berhasil membuahi bila mampu bertahan pada kondisi perubahan suhu yang ekstrem. Salah satu upaya untuk menghasilkan sperma berkualitas prima adalah dengan memperbaiki kondisi kesehatan dan vitalitas kambing pejantan. Salah satunya dengan memberikan pakan tambahan daun kelor Moringa oleifera.

Daun tanaman anggota famili Moringaceae itu telah lama digunakan manusia sebagai bahan pangan kaya gizi. Kandungan protein kelor paling tinggi dibandingkan dengan tanaman lain, yakni mencapai 36,55%. Kadar protein itu lebih tinggi daripada indigofera yang hanya 25%. Kandungan vitamin C kelor segar 7 kali lebih tinggi ketimbang jeruk segar. Kandungan mineral kelor juga tinggi. Kandungan besi (Fe) daun kelor yang telah dikeringkan dan diolah menjadi tepung 25 kali lebih tinggi daripada bayam.

Semen pejantan boerka biasanya dikirim ke berbagai daerah dalam bentuk beku.

Semen pejantan boerka biasanya dikirim ke berbagai daerah dalam bentuk beku.

Ada tiga nutrisi penting dalam kelor yang berperan penting pada proses pembentukan spermatozoa, yaitu vitamin E, vitamin C, dan mineral seng (Zn). Vitamin E sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya disfungsi organ reproduksi dan meningkatkan perkembangan organ seperti bobot dan diameter epididymis. Adapun vitamin C berperan sebagai sumber antioksidan. Kambing juga membutuhkan mineral Zn karena berfungsi mirip enzim. Seng terlibat dalam beberapa reaksi enzimatis yang berhubungan dengan metabolisme karbohidrat, sintesis protein, dan metabolisme asam nukleat.

Baca juga:  Peluncuran Buku Maitake

Cara pemberian
Efek daun kelor terhadap kualitas sperma telah teruji secara ilmiah. Lolit Kambing Potong melakukan penelitian dengan memberikan tepung daun kelor sebagai pakan tambahan. Untuk membuat tepung daun kelor sangat mudah. Kering anginkan daun kelor segar di ruang terbuka selama 2—3 hari, lalu giling hingga berbentuk tepung. Kemas tepung dalam plastik 1 kg. Tepung daun kelor itu kemudian diujicobakan kepada 20 ekor pejantan kambing boerka berumur 2 tahun dengan bobot sekitar 30 kg. Untuk pemeliharaan, setiap hari boerka diberi pakan berupa rumput lapangan 3 kg dan pakan komplit yang terdiri atas pelepah kelapa sawit, Indigofera zollingeriana, dan 850 gram konsentrat, berdosis 1,3% dari bobot badan.

Adapun pakan daun kelor diberikan dengan cara memasukkan tepung daun kelor ke dalam botol yang telah diisi air, lalu kocok agar bercampur. Selanjutnya cekokkan larutan daun kelor itu ke mulut kambing. Dalam penelitian itu kambing dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan. Kelompok I adalah kontrol. Kambing hanya diberi pakan biasa tanpa tambahan suplemen daun kelor. Adapun kambing pada Kelompok II—IV diberi pakan biasa plus suplemen daun kelor berdosis masing-masing 0,025%, 0,05%, dan 0,1% bobot badan (BB) kambing.

Hasil

Kualitas sperma pejantan boerka yang diberi asupan daun kelor tetap terjaga meski dikirim ke berbagai daerah untuk inseminasi buatan.

Kualitas sperma pejantan boerka yang diberi asupan daun kelor tetap terjaga meski dikirim ke berbagai daerah untuk inseminasi buatan.

Pemberian suplemen daun kelor dilakukan selama sebulan. Setelah itu sperma masing-masing pejantan boerka diambil untuk dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan, efek pemberian tepung daun kelor terbaik adalah kelompok pejantan yang diberi asupan daun kelor berdosis 0,05% BB. Pemberian tepung daun kelor dengan dosis 0,05% BB mampu meningkatkan motilitas dan viabiltas spermatozoa masing-masing 16,36% dan 51,32%. Hasil itu lebih tinggi daripada pejantan yang tidak diberi daun kelor.

Baca juga:  Ampas Tahu Pakan Kelinci

Yang menarik, pemberian kelor juga berpengaruh baik pada pertumbuhan bobot badan. Pertambahan bobot hidup harian dari setiap perlakuan rata-rata meningkat sebesar 50%, lebih tinggi dibandingkan dengan pejantan tidak diberi daun kelor. Bobot badan meningkat diduga karena kandungan asam amino esensial, Zn, dan sejumlah mineral lain pada daun kelor. Pemberian daun kelor juga mempengaruhi aktifitas mikroba dalam rumen. Kandungan vitaminnya juga banyak sehingga kondisi kesehatan boerka cukup fit untuk tumbuh dengan baik. (Antonius, S.Pt, M.Si dan Arie Febretrisiana, S.Pt., M.Si, Peneliti di Loka Penelitian Kambing Potong, Seiputih, Sumatera Utara)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments