Koleksi: Roy Kurniawan Setiono

Olaf kelinci jenis holland lop bersifat pendiam cocok untuk teman bermain. (Koleksi: Roy Kurniawan Setiono)

Pengelola menghadirkan kelinci hias di kafe.

Sehari dalam sepekan Isabel Tanadi mesti bekerja di luar kantor sambil menemani kedua anaknya. Meski begitu Isabel tetap fokus bekerja tanpa “gangguan” sang anak. Harap mafhum Akira Wonoto dan Tristan Wonoto—keduanya anak Isabel—asyik bermain dengan kelinci hias. Aktivitas Isabel dan kedua anaknya itu bukan di rumah mereka, tetapi di kafe kelinci bernama Mybunbun Rabbit Cafe.

Tempat makan sekaligus arena bermain kelinci itu menjadi kunjungan “wajib” Akira dan Tristan sehari dalam sepekan. Apalagi lokasi Rabbit Cafe hanya sekitar 5 menit bermobil dari kediaman Isabel di Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan, Jakarta Utara. Anggota staf marketing showroom furnitur di Kemang, Jakarta Selatan, itu juga mengajak kawan dan anaknya untuk mengunjungi kafe kelinci itu. “Minimal kami datang berempat,” kata Isabel.

Berkualitas

Kafe kelinci pertama di Indonesia, Mybunbun Rabbit Cafe.

Kafe kelinci pertama di Indonesia, Mybunbun Rabbit Cafe.

Isabel menyukai tempat itu karena bersih meskipun di dalamnya ada hewan seperti kelinci. Kelinci penghuni kafe pun istimewa. Bukan kelinci lokal yang lazim ditemui di Lembang, Jawa Barat. Yang paling penting kedua anak Isabel mengetahui cara merawat satwa anggota famili Leporidae itu. Menurut ibu dua anak itu Mybunbun Rabbit Cafe tempat ideal untuk anak-anak.

Apalagi pengelola pun menyajikan beragam makanan dan minuman lezat sehingga bermain kelinci pun makin seru. Sejatinya Isabel memelihara herbivora nonruminansia itu sejak pengujung 2015. Sayangnya banyak kelinci mati. Kehadiran kafe itu menjadi pengobat rindu bagi Isabel dan kedua anaknya. Mereka bisa bermain dengan kelinci tanpa harus memiliki.

Menurut pemilik Mybunbun Rabbit Cafe, Roy Kurniawan Setiono, konsep kafenya mengadopsi kafe kelinci di Jepang dan Thailand. Satu meja berisi satu kelinci, jadi tidak diumbar. Jika dibiarkan berkeliaran bebas kelinci bertengkar jika sesama jantan bertemu dan berkopulasi jika kelinci berbeda jenis kelamin berjumpa. Musbababnya kelinci kafe itu berusia lebih dari 6 bulan dan sudah matang berahi.

Baca juga:  Perisai Peternak Sapi

Roy menyeleksi betul kelinci penghuni kafe. Ia tidak menggunakan kelinci yang penakut, mudah stres, dan sakit-sakitan. Ia juga menghindari kelinci yang “nakal” seperti kerap menggigit kabel. “Hanya kelinci sehat, mudah beradaptasi, dan tidak gampang stres yang menemani pengunjung kafe,” kata Roy. Terdapat enam kelinci berjenis holland lop, netherland dwarf , lionhead, dan fuzzy lop di kafe.

Roy Kurniawan Setiono berharap Mybunbun Rabbit Cafe menjadi sarana edukasi kelinci.

Roy Kurniawan Setiono berharap Mybunbun Rabbit Cafe menjadi sarana edukasi kelinci.

Pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itu memilih holland lop karena lebih jinak dan mudah beradaptasi oleh banyak orang. Sosoknya yang mungil daripada kelinci lain alasan terpilihnya netherland dwarf menjadi penghuni kafe. Di Indonesia belum ada kafe kelinci. Yang ada hanyalah tempat berkonsep memberi pakan kelinci atau rabbit feeding seperti di Jakarta dan Bandung.

Roy merawat kelinci-kelinci itu dengan sangat baik sehingga kesehatannya terjaga. Ia memberikan 30 gram pelet pada pagi dan sore. Rumput timothy sebagai sumber serat dan air minum pun selalu tersedia dalam kandang. Roy melapisi kandang menggunakan serbuk kayu dan menggantinya setiap hari. Itulah sebabnya kafe kelinci seluas 12 m x 5 m itu bebas bau tak sedap.

Antusias
Selain itu karyawan segera membersihkan kotoran kelinci di lantai menggunakan penyedot debu. Jumlah kelinci yang hanya enam pun mengontrol kebersihan ruangan. Kelinci yang terlalu banyak juga membikin semrawut kafe. Kelinci makin nyaman karena tempat itu berpendingin udara. Roy menyarankan agar pengunjung menghubungi petugas jika ingin memindahkan kelinci.

Konsep Mybunbun Rabbit Cafe mengadopsi kafe kelinci di Jepang yang menghadirkan satu kelinci di satu meja.

Konsep Mybunbun Rabbit Cafe mengadopsi kafe kelinci di Jepang yang menghadirkan satu kelinci di satu meja.

Alasannya agar kelinci tidak cedera dan yang menggendong tidak tercakar atau tergigit. Lazimnya anak-anak atau orang tidak berpengalaman yang ingin memindahkan kelinci. Roy mengatakan respons konsumen sangat bagus. Apalagi Mybunbun Rabbit Cafe adalah kafe kelinci pertama di tanah air. Bahkan negara jiran seperti Singapura pun belum memiliki kafe sejenis. Sebelumnya kafe kelinci sangat populer di Jepang.

Baca juga:  Bikin Elok di Balik Kaca

Sebetulnya keinginan membuat kafe kelinci muncul pada medio 2016, tapi baru terealisasi pada September 2017. “Saya tertarik membikin kafe kelinci karena belum ada tempat sejenis di Indonesia,” kata pria yang juga fotografer pernikahan itu. Semua pernak pernik kafe seperti bangku dan beberapa penganan berbentuk kelinci. Sekitar 80—90% pelanggan kafe milik Roy adalah keluarga yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Bahkan pernah ada pengunjung dari Surakarta, Jawa Tengah. Belum banyak orang mengetahui Mybunbun Rabbit Cafe lantaran baru dibuka pada September 2017. Promosi pun hanya melalui sosial media. Meski begitu cara itu efektif karena sebagian besar masyarakat melek teknologi dan familiar dengan gawai seperti Samuel Jordy.

Kandang umbaran kelinci di dalam kafe.

Kandang umbaran kelinci di dalam kafe.

“Saya penasaran dengan kafe ini setelah melihatnya di Instagram,” kata Samuel. Kafe itu buka setiap hari, kecuali Senin karena untuk pemeliharaan kafe dan kelinci. Jam buka pada Selasa—Jumat yaitu 09.00—21.00, sedangkan pada Sabtu dan Ahad pukul 09.00—22.00. Roy berharap Mybunbun Rabbit Cafe menjadi sarana edukasi tentang perawatan dan pemeliharaan kelinci hias sehingga menjadi hewan peliharaan yang lucu dan menyenangkan.

Terdapat sekitar 6 kelinci yang “bertugas” menemani tamu kafe.

Terdapat sekitar 6 kelinci yang “bertugas” menemani tamu kafe.

Selain itu kehadrian kafe dapat meningkatkan animo baru pengunjung terhadap kelinci. Sejatinya Roy tidak hanya memanjakan pengunjung dengan kafe kelinci yang berada di lantai ketiga rumah kantor (ruko) berlantai 4. Pelanggan pun bisa membeli kelinci kesukaan di lantai kedua. Di tempat itu aneka kelinci menggemaskan siap diadopsi. Sementara lantai pertama berupa pet shop yang menjual pakan kelinci dan kandang. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d