German giant, giant angora, dan belgian hare, meramaikan dunia kelinci Indonesia.

Ifan berhasil memperbanyak Belgian hare dengan cara membuat lingkungan kandang semirip mungkin dengan iklim habitat asal kelinci.

Ifan berhasil memperbanyak Belgian hare dengan cara membuat lingkungan kandang semirip mungkin dengan iklim habitat asal kelinci.

Penampilan kelinci bertubuh dan bertelinga besar di laman situs dunia maya menyedot perhatian Fransiskus Gunawan. “Namanya German Giant,” kata Gunawan. Di Jerman satwa anggota famili Leporidae itu dikembangkan sebagai hewan peliharaan. Menurut pehobi kelinci di Bekasi, Jawa Barat, itu German Giant cocok sebagai kelinci hias. Namun, kelinci itu pun berpeluang menjadi satwa penghasil rambut dan daging. Ia berhasrat mengembangbiakkan kelinci ras besar itu di Indonesia, memperbanyak populasi, dan dikembangkan menjadi produk unggulan tanahair.

Oleh karena itu pada Mei 2014 ia mendatangkan 6 German Giant seharga Rp6-juta—Rp7,5-juta per ekor. Total jenderal ia merogoh kocek sekitar Rp40,5-juta. Kelinci baru itu menghendaki lingkungan sejuk cenderung dingin bersuhu 21°—25°C. Jadi Gunawan memilih peternakan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, sebagai lokasi budidaya. Di tempat itu ia berharap pertumbuhan kelinci lebih bagus. Gunawan menggunakan alas kandang berbahan bambu karena aman untuk telapak kaki German Giant yang besar.

Giant Angora
Selain itu, penggunaan bambu meminimalkan penyakit sore hock. Lazimnya gejala serangan berupa hilangnya rambut di bagian bawah kaki belakang hingga siku. Kondisi itu menyebabkan kulit kemerahan karena luka dan berpotensi infeksi. Penyakit lainnya yang mesti diwaspadai yakni gangguan pernapasan dan  kembung. Untuk mencegahnya yaitu menjaga kebersihan kandang dan alas kaki. Kebersihan dan nutrisi makanan pun harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan kelinci bongsor itu.

German giant, kelinci subtropis yang sudah berhasil dibudidayakan Gunawan di daerah Lembang, Bandung.

German giant, kelinci subtropis yang sudah berhasil dibudidayakan Gunawan di daerah Lembang, Bandung.

Untuk pakan Gunawan mengandalkan pakan khusus kelinci kaya serat dan sisa tongkol gandum dan serealia lain (hay). Hindari pemberian rumput segar saat musim hujan karena memicu gangguan pencernaan. Agar budidaya berhasil, bobot kelinci mesti diperhatikan. Gunawan mengawinkan German Giant berumur 10—12 bulan dan berbobot 7 kg—8,5 kg. “Perkawinan menjadi sulit jika bobot kelinci lebih dari 8,5 kg,” kata Gunawan. Lazimnya setiap indukan melahirkan 6—12 anakan.

Baca juga:  Nilai Plus Sengon Plus

Kini ia memiliki 20 German Giant sepanjang 60—75 cm dengan bobot maksimal 8,5 kg. Hasil anakan kelinci itu tersebar dan menjadi koleksi rekan peternak di Balikpapan (Kalimantan Timur), Bandung (Jawa Barat), serta Klaten dan Boja (Jawa Tengah). Ia memperkirakan di Indonesia terdapat 30 German Giant. Tidak hanya Gunawan yang kepincut kelinci berukuran jumbo. Amelia Trisna Irsan pun kesengsem kelinci besar, tapi bukan German Giant. Pehobi di Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu memiliki Giant Angora.

Kelinci berbobot 4 kg itu istimewa karena tubuhnya tertutup rambut lebat sehingga menyerupai bola berbulu. Amelia mengenal Giant Angora sejak 2014. Sebelumnya ia mempunyai English Angora. Sayang kelinci itu mati sehingga ia mencari penggantinya. Pilihan jatuh pada Giant Angora yang berukuran lebih besar dari English Angora. Oleh karena itu ia memboyong 2 pasang kelinci itu dari Amerika Serikat. Supaya penampilan Giant Angora maksimal Amel-sapaan akrab Amelia Trisna Irsan—melakukan grooming sepekan sekali.

Penyisiran berfungsi menghindari rambut lepek dan gimbal. Dengan demikian klangenan terhindar dari kutu dan penyakit kulit. Giant Angora termasuk kelinci aktif sehingga memerlukan nutrisi cukup. Amel memberikan buah dan sayuran segar sebagai pakan harian terutama untuk kelinci berumur 4 bulan. Saat itu saluran pencernaan kelinci sudah kuat untuk menerima bermacam bahan makanan. Sementara pakan berupa pelet diberikan untuk kelinci berumur kurang dari 4 bulan.

Belgian Hare

Amelia Trisna Irsan, rajin melakukan grooming dan menyisir sangat membantu mencegah gangguan kesehatan bulu dan kulit kelinci.

Amelia Trisna Irsan, rajin melakukan grooming dan menyisir sangat membantu mencegah gangguan kesehatan bulu dan kulit kelinci.

Musababnya, “Ada jenis sayur yang tidak boleh diberikan kepada kelinci karena menghasilkan gas seperti kol atau kubis,” kata perempuan yang hobi menyanyi itu. Gas dalam saluran pencernaan menyebabkan kembung bahkan kematian. Semula Amelia berencana memperbanyak kelinci itu melalui perkawinan. Sayang usaha itu belum berhasil. Bahkan kini hanya sepasang kelinci yang hidup, sepasang lainnya mati.

Baca juga:  Aligator Avokad Istimewa

Kelinci anyar lainnya yaitu Belgian Hare yang panjang tubuhnya berkisar 40 cm dan berbobot 4 kg. Belgian Hare berambut halus panjang dengan kenampakan otot jelas. Bentuk badan melengkung dan berpinggang belakang membulat. Kepala kelinci itu panjang dan berekor lurus sejalan dengan tulang punggung. Lazimnya kaki depan Belgian Hare panjang, halus, dan lurus sempurna. Sementara kaki belakang datar sama seperti kelinci lainnya. Warna Belgian Hare antara lain merah tua, cokelat, dan hitam.

Sosok itulah yang membuat Mohammad Ade Trifantastian tertarik mengoleksi kelinci asal Belgia itu. Pada 2013 Ifan—sapaan akrab Mohammad Ade Trifantastian—mendatangkan 2 pasang Belgian Hare dari Presiden American Belgian Hare Club, Jeanne Walton di Illinois, Amerika Serikat. Kurangnya pengetahuan seputar budidaya kelinci menyebabkan kelinci betina mati. Oleh karena itu pada 2014 ia membeli 2 betina. Setelah beberapa kali mencoba Ifan berhasil membudidayakan Belgian Hare. Kini ia memiliki 2 pasang induk dan 8 anakan.

Giant Angora, jenis kelinci berbulu panjang yang lazim dimanfaatkan bulunya sebagai bahan ppembuat pakaian musim dingin di Eropa.

Giant Angora, jenis kelinci berbulu panjang yang lazim dimanfaatkan bulunya sebagai bahan ppembuat pakaian musim dingin di Eropa.

Kunci sukses budidaya yaitu membuat kondisi kandang sesuai habitat asli. Belgian Hare berasal dari negara empat musim alias subtropis. Untuk menyiasatinya Ifan melengkapi bangunan berukuran 4 m x 10 m yang berisi 15 kandang dengan beberapa kipas angin. Tujuannya agar sirkulasi udara lancar. Dampaknya suhu udara dalam kandang tetap sejuk meski kondisi di luar terik. Kebersihan kandang juga wajib diperhatikan.

Untuk pakan ia memanfaatkan pelet pabrikan yang diperoleh di toko pakan satwa. Hay impor juga termasuk menu pakan kelinci sebagai sumber serat. Lantaran berasal dari negara 4 musim, Belgian Hare memerlukan banyak minum supaya tidak kepanasan dan dehidrasi. “Kelinci itu meminum 500 ml air sehari,” ujar pria berkaca mata itu. Kini Ifan tengah memperbanyak Belgian Hare dengan tetap mempertahankan galur murni dan tidak disilang dengan jenis lain. (Muhammad hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d