Daging buah kelapa bido. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Daging buah kelapa bido. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Bido dan lampanah kelapa unggul, panen bido sembari jongkok.

Industri gula kelapa tergolong pekerjaan berisiko tinggi. Tidak main-main, nyawa taruhannya. Catatan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada 2016 ada 29.000 penyadap nira yang naik turun pohon kelapa setiap pagi dan sore. Dari jumlah itu, setiap tahun setidaknya 70 penderes jatuh ketika menyadap, menyebabkan mereka menderita cacat bahkan kematian.

Maklum, pekebun biasanya menanam kelapa dalam yang tingginya bisa mencapai 20 m. Risiko itu memicu penurunan minat generasi muda untuk menekuni pembuatan gula kelapa. Varietas kelapa unggul berbatang pendek menjadi solusi mengurangi risiko. Namun, tidak sekadar pendek, kelapa itu juga harus genjah dan produktif menghasilkan nira, minimal setara dengan varietas kelapa dalam yang saat ini menjadi andalan penyadap.

Mengapung di laut
Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma), Manado, Sulawesi Utara, menjawab tantangan itu dengan menghadirkan kelapa bido dan lampanah. Balitpalma menghadirkan keduanya dalam Pekan Nasional Kontak Tani dan Nelayan Andalan (Penas KTNA) 2017 di Banda Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 5—11 Mei 2017. Pemeritah merilis kelapa bido sebagai varietas unggul pada April 2017.

Kelapa dalam bido, si pendek dari Morotai, Provinsi Maluku Utara berumur 3 tahun. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Kelapa dalam bido, si pendek dari Morotai, Provinsi Maluku Utara berumur 3 tahun. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Kelapa itu berasal dari Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Meski termasuk jenis kelapa dalam, pertumbuhan tinggi bido lambat, tetap produktif, dan genjah. Kelapa itu berbuah pertama di umur 3 tahun, saat tingginya hanya 2—3 m. Buah kelapa bido tergolong besar dengan lingkar membujur buah 60—70 cm, lingkar melintang 46,9 cm dengan serabut luar berwarna hijau.

Baca juga:  Persik Berduri

Ciri bido yang paling mencolok adalah jarak antarbekas daun pada batang kelapa pendek dan rapat, kurang dari 3 cm. Bobot buah utuh rata-rata 2,5 kg, terdiri atas sabut 1,17 kg, tempurung (298 g), air (504 g). Ketebalan daging buah 1,18 cm berobot 533 g. Kopra kelapa bido mengandung lemak 58,34%. Total asam lemak bido 94,04%, dengan asam lemak rantai sedang (medium chain fatty acid, MCFA) mencapai 64,50%.

Kadar asam laurat mencapai 48,39%, setara dengan kelapa dalam mapanget (48,63% asam laurat) dan lebih tinggi daripada kelapa dalam mastutin (39,60%). Asam laurat salah satu bahan baku industri kosmetik dan bermanfaat untuk kesehatan karena tergolong asam lemak jenuh rantai sedang. Semakin tinggi kandungan asam laurat dalam kelapa, semakin menyehatkan. Produktivitas tahunan 14,12 tandan per pohon—setara 133 buah per pohon.

Daging buah kelapa lampanah. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Daging buah kelapa lampanah. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Jumlah kelapa per tandan 9,47 buah. Karakter produksi dan komponen buah kelapa bido melampaui syarat minimal pohon kelapa unggul sehingga layak dijagokan sebagai kandidat kelapa unggul. Pemuliaan kelapa bido dilakukan sejak 1940 oleh warga Desa Bido, Morotai, Bosu Labaka. Saat memancing di laut, Labaka melihat tunas kelapa mengapung di laut. Ia membawa pulang lalu menanamnya di halaman rumah.

Turunan pertama kelapa itu kini berumur 60 tahun dan baru memiliki ketinggian 8—9 m, jauh lebih pendek daripada kelapa dalam jenis lain. Sayang, kini populasi bido terbatas. Survei oleh Balitpalma pada 2016 mencatat baru ada 132 pohon yang ditanam warga untuk diambil hasilnya. Periode 2016—2017, semua buah bido dijadikan bibit lantaran tingginya permintaan dan keterbatasan benih.

Perbandingan pohon kelapa bido (kanan) dan kelapa biasa pada umur 60 tahun. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Perbandingan pohon kelapa bido (kanan) dan kelapa biasa pada umur 60 tahun. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Harga bibit di tingkat petani pada 2016 adalah Rp10.000 per buah, dan tunas Rp15.000. Pada awal 2017 harga benih meningkat menjadi Rp20.000—Rp25.000 per buah, bahkan ada yang membeli dengan harga Rp150.000 per buah. Petani yang memiliki sebatang pohon bido dengan produksi 100 buah dapat memperoleh pemasukan minimal Rp2 juta per pohon per tahun.

Baca juga:  Persiapan Ratu Daun Juara

Mapanget
Balitpalma menyeleksi 113 pohon induk terpilih (PIT) kelapa bido dengan potensi hasil sebanyak 120 bibit per pohon per tahun, setara luasan 67,80 ha. Periode 2016—2017, masyarakat Pulau Ngelengele, Kabupaten Pulau Morotai, menanam 1.400 pohon. Lainnya di Tanjung Gorango, Kecamatan Morotai Utara (300 pohon) dan Desa Daeo, Kecamatan Morotai Selatan (150 pohon).

Balitpalma menanam 950 benih kelapa bido di Kebun Percobaan Mapanget dan Kayuwatu pada 2016. Tujuannya sebagai koleksi plasma nutfah dan kebun induk. Nun di provinsi Nanggroe Aceh Daruslam—salah satu daerah penghasil kelapa di Indonesia—produksi kelapa menurun rata-rata 9% per tahun sejak 2005 akibat kerusakan oleh tsunami. Agar produksinya kembali meningkat, pemerintah daerah menganjurkan penanaman kelapa dalam lampanah.

Kebun kelapa dalam lampanah di Aceh. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Kebun kelapa dalam lampanah di Aceh. (Foto: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Kelapa lampanah tergolong varietas unggul nasional yang memiliki rata-rata 13,35 tandan per pohon per tahun—setara 138 buah. Produktivitas per tandan 9,25 buah. Bobot daging kelapa segar 449 g atau sekitar 224 g kopra per buah. Potensi produksi kopra 30,97 kg per pohon per tahun, atau 3,80 ton kopra per ha per tahun. Kadar lemak lampanah 66,40%, kadar air kopra 3,42%, dan protein 6,81%.

Adapun total asam lemak jenuh 94,27%, asam lemak jenuh rantai sedang 67,21%, dan kandungan asam laurat 46,50%. Setiap muncul satu helai daun, kelapa lampanah berpeluang menghasilkan satu tandan buah. Rata-rata jumlah daun lampanah 31 buah per mahkota dan seragam antar PIT. Karakteristik lain lampanah adalah panjang pertumbuhan batang pada 11 bekas daun (leaf scars) 91,10 cm—kurang dari semeter.

Baca juga:  Jahe Jauhkan Asam Urat

Itu lebih pendek dibandingkan dengan kelapa mapanget, yang panjang batang pada 11 bekas daun mencapai 118 cm. Untuk mengembangkan lampanah, Dinas Perkebunan Provinsi NAD menyiapkan lahan seluas minimal 5 ha. Nantinya ketersediaan bibit dari PIT di Desa Gampong Ujong Keupula, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten/Kota Aceh Besar bisa didapatkan dari kebun induk kelapa dalam lampanan. (Prof. Dr. Ir. Hengky Novarianto, Peneliti Utama di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d