Kelapa Sawit Andal di Jalur Terjal 1
Fastrex CT-02 solusi pemanenan kelapa sawit di medan berat.

Fastrex CT-02 solusi pemanenan kelapa sawit di medan berat.

Sarana pengangkut tandan buah segar hingga 6 ton sehari setara 7 tenaga kerja.

Musim kemarau di pengujung masa. Sesekali gerimis turun membasahi lahan kelapa sawit di Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Hujan menjadi berkah bagi petani kelapa sawit karena dapat memenuhi kebutuhan air tanaman. Namun, bagi Rohmani Hidayat (40 tahun), hujan juga membuat beban pekerjaannya bertambah. Buruknya kondisi jalan akibat hujan menyebabkan ia sulit mengangkut tandan buah segar.

“Lahan gambut yang lunak pada musim hujan menjadi kendala dalam pengangkutan tandan buah segar. Walaupun lahan di dataran rata, jalan menuju areal tanaman akan licin akibat lumpur dan daya dukung tanahnya yang rendah menyebabkan banyak ruas jalan amblas jika dilalui kendaraan atau terinjak petugas pengangkut hasil,” ujar penanggung jawab bagian pemanenan tandan buah segar (TBS) itu.

Banyak buah sawit segar tidak terangkut di lahan berbukit.

Banyak buah sawit segar tidak terangkut di lahan berbukit.

Tunda panen
Truk pun hanya mampu melewati jalan besar tempat pengumpulan hasil panen. Petugas akan mengambil buah segar dengan pikulan ke blok penanaman seluas 1.000 m x 300 m itu. Namun, buruknya jalan akibat hujan menyebabkan pemanen menunda memetik tandan buah segar atau menunda pengangkutan. Menurut kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, Sumatera Utara, Dr Hasril Siregar, penundaan panen merugikan pengusaha.

Sebab, kualitas buah bakal turun. “Bila tandan buah segar tidak terangkut atau disebut restan adalah penurunan kualitas. Sebab, asam lemak bebas bakal meningkat dan buah mudah gugur yang akan menyulitkan pemuatan buah ke kendaraan pengangkut,” kata Hasril Siregar. Dari sisi teknis pemanenan juga terganggu, seperti menyulitkan perencanaan dan pelaksanaan pengangkutan pada hari berikutnya.

Menurut Hasril pada musim hujan kerugian ekonomi makin meningkat karena penambahan biaya penanganan restan. Tingkat kerugian tergolong tinggi, karena sekitar 20% hasil buah segar tidak terangkut dari lahan selama musim hujan setiap tahun. Pengusaha kelapa sawit di tanah yang lebih padat, tapi bergelombang seperti di Riau juga mengalami kerugian.

Baca juga:  Mamey Havana Istimewa

Untuk mengatasi permasalahan itu, pengusaha kelapa sawit memerlukan wahana pengangkut yang dapat menembus segala kondisi medan sekaligus memiliki daya angkut besar. Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor membuat terobosan dengan teknologi baru alat angkut berjuluk Fastrex CT-02.

Penggagas alat itu, Dr Ir Desrial, M.Eng, mengembangkan alat angkut yang dapat dioperasikan di lahan sawit berkontur bergelombang, berbukit, dan lahan bergambut. Ia mendesain trek berbantalan atau crawler seperti tank. Transporter dengan sistem trek mampu bermanuver dan traksi tinggi, dapat bergerak menanjak pada kemiringan sampai 60 derajat. Kelebihan lain tekanan pada tanah rendah di bawah 20 kPa, sehingga tidak terjadi pemadatan tanah.

Keistimewaan Fastrex CT-02 (kiri ke kanan), mampu bergerak stabil sampai kemiringan lahan 50O, membongkar muatan otomatis dengan hidrolik, andal menembus semak belukar.

Keistimewaan Fastrex CT-02 (kiri ke kanan), mampu bergerak stabil sampai kemiringan lahan 50O, membongkar muatan otomatis dengan hidrolik, andal menembus semak belukar.

Tangguh dan ekonomis
Desrial dan anggota tim menyelesaikan purwarupa wahana angkut kelapa sawit itu pada akhir 2012. Ia memberi nama TMB CT-01. Alat itu menggunakan tenaga penggerak motor diesel 6 hp, berkapasitas angkut 350 kg tandan buah segar. Hasil pengujian di kebun berlahan gambut dengan infrastruktur jelek menunjukkan bahwa alat itu dapat beroperasi dengan kestabilan yang prima.

Alat itu mengangkut rata-rata 5—6 ton tandan per hari dari kebun ke tempat pengumpulan hasil. Kapasitas itu setara 3—4 pekerja menggunakan angkong atau alat dorong. Operator dapat mengoperasikan alat itu sambil duduk atau berdiri. Bantalan trek masih menggunakan bahan kayu. Desrial beserta tim menyempurnakan dengan membuat wahana angkut berkapasitas lebih besar.

Prototipe kedua yang dinamakan Transporter TMB CT-02 tercipta pada 2013. Mesin penggerak mesin diesel ditingkatkan menjadi 9,5 hp. Itu terkait dengan bertambahnya kapasitas angkut hingga 650 kg. Sepatu atau bantalan trek terbuat dari bahan logam. Penggunaan sepatu trek logam agar memberikan daya traksi maksimum dan umur pakai yang lebih panjang.

Baca juga:  Siasat Silangkan Jarak

Pengujian kinerja di lahan bergelombang di kebun Institut Pertanian Bogor memperlihatkan bahwa TMB CT-02 sangat baik kinerjanya. Bahkan, dengan kemiringan lahan sampai 50 derajat. Produktivitas kerja 10—15 ton per hari atau setara dengan kapasitas kerja 6—7 orang dengan alat angkong. Alat itu sangat bermanfaat untuk mengatasi kelangkaan tenaga pemanen sekaligus mengurangi beban kerja bagi tenaga pemanen.

Bahan bakar solar rata-rata 1 liter untuk 1 jam pemakaian, tergantung beratnya medan dan beban angkutan. Dari aspek tekno-ekonomi, penggunaan transporter baru itu dapat menghemat biaya evakuasi tandan sampai 61% dibanding cara manual. Mulai 2014 wahana itu telah melewati siklus pengembangan inovasi produk yang lengkap dan mulai diproduksi massal bekerja sama dengan anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia, dengan nama Fastrex CT-02.

Dr Ir Desrial M. Eng, wahana sawit modern memperkecil kerugian petani akibat faktor alam.

Dr Ir Desrial M. Eng, wahana sawit modern memperkecil kerugian petani akibat faktor alam.

Fastrex CT-02 salah satu hasil kreasi tenaga terampil lokal dan sebagian besar menggunakan bahan lokal. Pengusaha perkebunan tertarik pada Fastrex CT-02 karena andal di berbagai medan dan mudah mengoperasikan. “Sistem kemudi menggunakan tongkat seperti pada eskavator dengan 3 tingkatan transmisi kecepatan. Keistimewaan lainnya adalah wahana itu dapat ditambah dengan gandengan tambahan bak pengangkut,” kata Desrial.

Selain itu terdapat sistem hidrolik sehingga bak pengangkut dapat terangkat miring sehingga tandan terdorong keluar dengan sendirinya. Kemanfaatan wahana angkut itu dapat juga menghemat tenaga saat memindahkan sarana pertanian lain, misalnya pupuk dalam jumlah besar ke dalam area tanam. Menurut Eddie Purwanto dari PT Global Mapindo, perusahaan konsultan perkebunan kelapa sawit di Jakarta, menanam sawit di lahan berbukit, memerlukan teknik yang baik, supaya tanaman tidak lekas tumbang akibat terkena erosi.

Selain itu keteraturan tanaman dalam posisi maupun kerapatan tiap hektare untuk memudahkan pengelolaan tanaman, terutama saat panen, pemeliharaan, dan perlakuan teknis agronomis. Pusat Penelitian Kelapa Sawit selalu menganjurkan kepada pengusaha agar perencanaan disesuaikan dengan kondisi lahan, terutama pada lahan berombak-berbukit. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments