Kelapa Dalam Semeter Panen

Kelapa Dalam Semeter Panen 1

Kadar minyak tinggi, daging buah tebal, dan tahan simpan. Itu keunggulan kelapa bojongbulat asal Kulonprogo, Yogyakarta.

Enam tahun silam, tanah bengkok (tanah kas desa, red) Desa Bojong, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo, Provinsi Yogyakarta, itu sekadar sawah yang ditanami padi. Namun, pada Februari 2014, ratusan pohon kelapa di lahan 4 ha berumur 6 tahun mulai berbuah. Warna kulit buah kuning dan hijau.

“Ini kelapa unggul bojongbulat,” ujar Kepala Bagian Pembangunan Desa Bojong, Suyatno. Bojongbulat mulai berbunga pada umur 5 tahun. Setahun berselang, pekebun mulai panen. Meski tergolong kelapa dalam, tinggi pohon bojongbulat ketika berbuah hanya semeter. Suyatno pun bisa memetik buah dengan mudah.

Panen semeter

Menurut Elsje Tenda, peneliti Balai Penelitian Tanaman Palma (Balitpalma), Manado, Sulawesi Utara.  perawatan intensif memungkinkan kelapa bisa dipanen meski tingginya baru 1—1,5 m. Namun, semakin tua umur tanaman, pohon semakin tinggi. Kelapa bojongbulat termasuk kelapa dalam yang tingginya bisa mencapai 10 m.

Bojongbulat istimewa lantaran berdaging tebal, mencapai 1,6 cm. Kelapa dalam lain rata-rata hanya setebal 1,2—1,4 cm. Kandungan minyak tinggi, mencapai 68,7%. Itu hampir dua kali lipat kadar minyak kelapa jenis lain. Efek lain, rasa kelapa lebih gurih dibanding kelapa jenis lain. “Sebuah restoran padang pelanggan saya mengklaim santan kelapa bojongbulat lebih kental dan gurih,” kata Suyatno.

Bobot buah utuh mencapai 1,602 kg. Ketika diolah menjadi daging buah kelapa kering atau kopra, bobotnya menyusut hingga 253 gram per buah. Dalam setahun, sehektar kelapa bojongbulat dengan populasi 143 tanaman menghasilkan           2,5 ton kopra. Keunggulan lain: buah kupas kulit tahan lama. Warna sabut setelah kupas tetap kuning kecokelatan meski disimpan hingga 3 hari. Bandingkan dengan warna sabut kelapa lain yang langsung menghitam dan kering beberapa jam pascapengupasan. Itu menjadikan kelapa bisa dikirim lebih jauh tanpa mengalami penurunan kualitas tampilan fisik.

Baca juga:  Bukti Khasiat Pelawan

Setiap tanaman menghasilkan 148 butir kelapa per tahun dengan jumlah buah per tandan 10 butir. Angka itu lebih tinggi dibanding kelapa dalam tenga yang hanya menghasilkan 75 butir per pohon per tahun. Produktivitas bojongbulat mencapai 8.800 butir per ha per tahun. Kelapa dalam bojongbulat cocok tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian 0—450 m di atas permukaan laut. Bojongbulat menyukai lahan kering beriklim basah. Kerabat palem itu memerlukan hujan 1.000—1.500 mm per tahun dan periode kering kurang dari 6 bulan.

Kelapa bojongbulat dikembangkan sejak 1928 oleh penduduk Desa Bojong. “Kelapa ini sudah ada turun-temurun ditanam nenek moyang,” ujar Suyatno. Pada 1940, penduduk desa mulai mengembangkan kelapa itu secara intensif hingga menyebar ke penjuru desa. Hengky Novarianto dan Meity A. Tulalo, peneliti dari Balai Penelitian Kelapa dan Palma Lain (Balitpalma) mengobservasi dan menyeleksi kelapa itu pada 1993. Kelapa bojongbulat dilepas sebagai varietas unggul nasional melalui SK Menteri Pertanian RI Nomor: 1690/Kpts/SR.120/12/2008 tanggal 12 Desember 2008. Selanjutnya seperti disebutkan  dalam laman resmi Balitpalma, pada 2013 telah dilakukan observasi dan identifikasi serta penilaian ulang Blok Penghasil Tinggi (BPT) kelapa di Kulonprogo untuk mengetahui ketersediaan benih kelapa bojongbulat di Desa Bojong.

Unggulan

Suyatno menanam 45 pohon kelapa bojongbulat. Sebelum tanam, Suyatno membenamkan pupuk kandang 5 kg per lubang tanam. Ia lalu menanam bibit kelapa sepekan pascapemupukan. Antarpohon membentuk segitiga sama sisi dengan panjang setiap sisi 9 m. Ketua Kelompok Tani Tunas Karya itu memupuk pohon dengan Phonska 0,5 kg per pohon. Pemupukan dua kali setahun, pada awal dan akhir musim hujan.

Suyatno memanen kelapa 35 hari sekali atau 10 kali dalam setahun. Ia memetik 2—3 tandan sekaligus. Kelapa segar ia jual ke pengepul dengan harga berkisar Rp2.500—Rp3.000 per butir. Untuk benih, ayah 2 anak itu memilih kelapa tua yang sudah kemerahan. Harga jual benih kelapa bojong bulat mencapai Rp3.500 per butir.

Baca juga:  Umbi Peluruh Batu Ginjal

Masyarakat Desa Bojong hidup dari kelapa. Menurut Suyatno, luas tanam kelapa lebih dari separuh luas Desa Bojong. Setiap sore, 2 truk berkapasitas 8 ton mengangkut 6.000—8.000 kelapa keluar desa. Jumlah itu untuk memasok kebutuhan Yogyakarta dan Surakarta. Pembeli berasal dari kalangan produsen minyak kelapa, rumah makan, dan pedagang es kelapa. “Kelapa menjadi urat nadi desa,” ujar Suyatno.

Menurut Haryoto MMA, Kepala Seksi Produksi dan Perlindungan Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kulonprogo, Desa Bojong merupakan salah satu sentra penghasil kelapa di Yogyakarta. Pohon kelapa setinggi 7—15 m mudah ditemukan di seluruh penjuru desa seluas 173,4 ha itu. Pada 2008, terdapat 10.800 pohon kelapa yang ada di 4 dukuh. Jumlah itu meningkat menjadi 12.000 pohon pada 2013. Dari jumlah itu, populasi bojongbulat mencapai 80%.

Kelapa bojongbulat memang menjadi kelapa unggulan Yogyakarta. Untuk memenuhi kebutuhan benih, terpilih 375 tanaman induk bojongbulat. Dalam setahun, produksi benih kelapa mencapai 20.000—27.000 butir. “Setiap ada peremajaan atau penanaman kelapa, kami merekomendasikan bojongbulat,” ujar Haryoto. Permintaan bibit datang dari daerah lain di Yogyakarta, tapi belum terlayani. Para pekebun masih lebih banyak menjual buah sebagai kelapa muda dan kelapa tua. (Kartika Restu Susilo)

 

  1. Kelapa bojongbulat berkadar minyak tinggi
  2. Produktivitas 148 butir per tahun per pohon
  3. Hamparan kebun kelapa bojongbulat berumur 6 tahun yang belajar panen
  4. Suyatno, pekebun kelapa bojongbulat
  5. Ketebalan daging buah mencapai 1,6 cm

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x