Beberapa pehobi mengoleksi kelaci yang bijinya dapat dikonsumsi seperti kacang.

Pohon yang tumbuh di pekarangan Bonaventura Ardi Nugroho itu tengah berbuah. Puluhan buah berukuran 5—7 cm dan berwarna merah marun tampak menggantung di antara ranting dan dedaunan. Satu tangkai rata-rata terdiri atas 2—3 buah. Beberapa buah di antaranya ada yang retak. Di balik kulit buah yang retak itu terdapat biji berukuran 2—3 cm berwarna hitam.

Menurut pehobi di Sedayu, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu pohon berumur 2,5 tahun itu bernama kacang kelaci. Ardi menyebutnya kacang karena biji kelaci dapat dikonsumsi seperti kacang-kacangan. Penangkar tanaman buah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang juga mengoleksi kelaci, Teddy Soelistyo, menyatakan bahwa sebutan kelaci berasal dari Thailand. Sebutan itu merujuk pada tanaman spesies Sterculia monosperma.

Rasa lezat

Pohon kelaci milik Teddy Soelistyo di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pohon kelaci milik Teddy Soelistyo di Kabupaten Bogor, Jawa Barat

 

Menurut Teddy warga Tiongkok kerap mengonsumsi biji chinese chestnut—sebutan kacang kelaci di mancenegara—sebagai camilan. Mereka biasanya mengonsumsi biji kelaci pada saat festival Qixi. Teddy menuturkan masyarakat mengonsumsi kelaci dengan cara merebus. Mula-mula kita harus memecahkan biji terlebih dahulu. Pada bagian dalam cangkang biji terdapat kulit halus berwarna kekuningan.

Sebelum menikmati kelezatan kelaci, kupas kulit halus itu karena dapat menimbulkan rasa pahit jika turut tersantap. Jadi, yang dikonsumsi hanya keping lembaga biji berwarna putih. “Rasa kacang kelaci enak dan gurih. Jika tanpa diolah, rasanya seperti kacang tanah,” katanya. Cara lain bisa disangrai atau digoreng dengan minyak. Tanaman kelaci berasal dari Tiongkok.

Namun, dalam basis data yang diunggah pada halaman situs Flora of China menyebutkan Sterculia monosperma juga dapat dijumpai di Taiwan, India, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Menurut ahli botani asal Belanda, Karel Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia, di Indonesia tidak dijumpai S. monosperma. Dalam buku itu hanya terdapat empat spesies bergenus Sterculia yang ditemukan di Indonesia, yaitu S. javanica, S. macrophylla, S. treubii, dan S. urceolata.

Pohon kacang kelaci milik Bonaventura Ardi Nugroho setinggi 1,5 meter di Sedayu, Yogyakarta.
Pohon kacang kelaci milik Bonaventura Ardi Nugroho setinggi 1,5 meter di Sedayu, Yogyakarta

 

Heyne menyebutkan masyarakat Jawa memanfaatkan biji S. javanica sebagai bahan baku jamu yang dikenal dengan sebutan pranajiwa. Para pengobat tradisional memafaatkan biji pranajiwa sebagai afrodisiak. Menurut Heyne, S. macrophylla juga kerap disebut pranajiwa karena bentuk buahnya yang mirip dengan javanica. Adapun tanaman bergenus Sterculia yang bijinya dapat dikonsumsi seperti kelaci adalah S. treubii dan S. urceolata.

Treubii banyak tumbuh di wilayah Maluku, sedangkan urceolata banyak tumbuh di Pulau Jawa. Heyne menyebutkan konsumsi biji treubii setelah sangrai atau mentah dalam jumlah yang sedang. Konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan kepala pening. Ardi memperoleh kelaci dari seorang kolektor tanaman buah di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kini Ardi mengoleksi tiga pohon kelaci.

Menurut Ardi untuk membudidayakan kelaci relatif mudah. Ia membudidayakan tanaman anggota famili Sterculiaceae itu dalam planter bag berisi media tanam berupa campuran sekam, tanah, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:2. Ada pun Teddy menggunakan media tanam berupa arang sekam, kompos, dan tanah merah dengan perbandingan sama.

Buah kelaci mentah berkulit hijau.
Buah kelaci mentah berkulit hijau

 

Di kebun Ardi kelaci asal biji mulai berbuah pada umur 2,5 tahun. “Bunga dan buah muncul susul-menyusul,” ujar alumnus Universitas Atmajaya Yogyakarta itu. Bunga kelaci berwarna putih kekuningan, lalu berubah kemerahan. Buah muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi merah marun menjelang matang. Saat matang, kulit buah pecah dan membuka sehingga terlihat biji berwarna hitam. “Jika buah tidak segera dipanen, maka biji akan berjatuhan ke tanah,” tutur Ardi.

Mudah diperbanyak

Pehobi lain yang juga mengoleksi kelaci adalah Adelia Anastasia. Di kebun milik kolektor asal Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, itu kelaci baru setinggi 1 meter dan baru berbuah sekali pada November 2016. Menurut Adelia selain buahnya dapat lezat untuk konsumsi, tanaman berakar tunjang dan berdaun oval itu pantas sebagai penghias pekarangan.

“Buahnya berwarna merah dan menarik dipandang mata,” katanya. Adelia menuturkan jika hendak mengonsumsi biji kelaci mesti berasal dari buah yang benar-benar matang. Adelia dan pegawainya, Kieny, pernah memetik buah kelaci saat masih hijau. Memetik buah mentah berwarna hijau dan merebus menimbulkan bau kurang sedap. Sudah begitu rasanya pun tidak enak.

Satu tangkai kacang kelaci menghasilkan 3 buah.
Satu tangkai kacang kelaci menghasilkan 3 buah

Menurut Teddy kelaci mudah diperbanyak baik itu melalui biji, cangkok, atau setek.  “Batang yang sudah berkayu dan berkulit kecokelatan dapat dicangkok. Diperkirakan usia 1,5 tahun dari cangkok sudah bisa berbuah walau jumlahnya sedikit,” ujar Teddy. Namun, Teddy belum mencoba memperbanyak dan masih merawatnya sebagai tanaman koleksi. “Saya berharap ada penelitian lebih lanjut mengenai kandungan dan khasiat kacang kelaci,” tuturnya.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d