Eka Budianta

Eka Budianta

Eka Budianta*

Berapa nama pohon yang Anda kenal? Pertanyaan itu dapat terjawab kalau Anda membuka buku fotografi karya Deniek Sukarya.  Selama dua puluh bulan, setiap hari, dia memotret tumbuh-tumbuhan di empat Kebun Raya Indonesia: Bogor, Cibodas, Purwodadi, dan Bedugul. Maka terkumpullah 4.000 macam, yang ternyata 10% di antaranya belum dapat dijelaskan dengan rinci. Selebihnya dapat diuraikan, mulai dari nama lokal, nama ilmiah, habitat, karakteristik, cara menanam, dan manfaatnya.

Hasilnya telah terbit buku “3.500 Plant Species of the Botanic Gardens of Indonesia”. Siapa yang memungkinkan buku itu terbit  dan pemotretan berlangsung lancar? Pelindungnya adalah Presiden Republik Indonesia Dr Susilo Bambang Yudhoyono. Di sampul depan buku setebal 1.216 halaman ini tertera: Initiator and Mentor  Ani Yudhoyono.  Maka, sudah jelas, inilah rujukan untuk umum yang paling kaya yang pernah terbit sebagai buku dalam sejarah Ilmu Botani di negeri ini.

Bibliografinya mengacu ke lebih dari 300 judul yang pernah terbit sebelumnya. Buku itu disunting oleh Deniek Sukarya dengan dukungan berpuluh tenaga ahli dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kalau tidak ada karangan lain, atau karya fisik yang lebih tervisualkan, buku itu harus dicatat sebagai monumen terbesar dari seorang presiden Indonesia untuk dunia ilmu pengetahuan. Khususnya untuk ilmu tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan yang merupakan kekayaan hayati penting bagi manusia. Tentu, kita juga mengharapkan ada inventarisasi serupa di bidang kelautan, fauna, geologi, pusaka alam lain, maupun budaya.

 

Air mata pengantin

Air mata pengantin

Sebelas jenis

Tampilan buku 3.500 spesies itu perlu diakui luar biasa. Paling sedikit setiap spesies dilukiskan dengan dua foto, profil batang dan daun. Namun, kebanyakan tiga dan empat foto, yaitu ditambah bunga dan buah.  Total lebih dari 10.000 foto dengan kualitas prima. Susunan informasinya juga memadai. Kita disadarkan, paling sedikit ada sebelas macam tanaman.  Mulai dari pohon, perdu, bambu, palem, pakis, tumbuhan air, tumbuhan merambat, sukulen, herba, dan anggrek. Lihatlah warga sukulen—misalnya—mata kita dimanjakan dengan foto-foto aneka macam kaktus, agave, dan aloe yang indah-indah.

Sebelum sebelas jenis tumbuhan yang bila dirata-rata mendapat jatah 100 halaman itu, kita diberi bonus foto-foto tanaman karya Ani Yudhoyono.  Sejak kecil, ia memang suka memotret tumbuhan.  Bahkan ia membuat buku fotografi tersendiri: The Colors of Harmony. Dalam koleksi tanaman itu, Ani memamerkan kecantikan Allamanda blancetti warna merah marun, kembang sempur Dillenia philipinensis, dan airmata pengantin Antigonon leptopus.  Oh ya, ada satu bunga pusaka yang jarang disebut yaitu Couroupita guianensis, alias kembang sala, yang menjadi nama kota Solo atau Sala, dan Salatiga, di Jawa Tengah.

Baca juga:  Asap Cair Usir Kumbang

Sayang, nuansa-nuansa historis dan kultural tidak dapat dimunculkan dalam buku yang padat informasi itu.  Mungkin untuk itu semua diperlukan ensiklopedia yang lebih kaya dan komplet. Untunglah dengan foto dan keterangan berbahasa Inggris berikut nama-nama ilmiah, kita dibukakan pintu agar masuk ke dunia botani lebih intens. Sering kita mendengar, di Bumi ini terdapat lebih dari 27.000 tumbuhan.  Mengapa yang sehari-hari dikenali terbatas pada tumbuhan tertentu? Bahkan yang didayagunakan lebih sedikit lagi?  Tanaman berbiji, jenis rumputan hanya mengenal padi, gandum, barli, jawawut, jagung, dan sorgum.

Padahal, sesungguhnya terdapat banyak sekali makanan. Benarkah untuk sedikit jenis yang dibudidayakan telah mengakibatkan punahnya beraneka ragam tanaman lain? Filantropis seperti Bill Gates pernah menyayangkan, mengapa demi membuka ladang gandum, bermacam jenis tanaman di ribuan hektar padang rumput dikorbankan.  Kita juga melihat sendiri, berjuta-juta hektar hutan diratakan menjadi kebun kelapa sawit maupun tanaman monokultur lainnya seperti teh, kakao, kopi, dan karet.

Pangan dan energi

Untuk membangun hutan produksi (jati, akasia, pinus, eukaliptus) sering kali pohon lain tidak boleh tumbuh. Padahal, yang kelihatannya tidak membawa keuntungan ekonomis, ternyata memberikan manfaat lain yang juga besar.  Sedikit banyak, kumpulan 3.500 tanaman yang terhimpun dalam buku itu mengisyaratkan hal itu.  Kita disadarkan bahwa aneka bunga kamboja, yang dulu dianggap tidak berguna, ternyata sekarang laku dijual mahal untuk bahan parfum. Ani Yudhoyono mengharapkan buku itu, “Memudahkan proses belajar” supaya anak-anak Indonesia dapat “mengoptimalkan potensi” dan “rakyat Indonesia semakin mencintai negerinya.”

Dengan menyoroti bermacam tumbuhan—lebih dari yang dikenal umum, manfaat yang masih akan ditemukan pun lebih terbuka.  Itu sebabnya, kita diharapkan ikut memberi masukan, koreksi, dan partisipasi dalam melengkapi informasinya. Seperti selayaknya kita pahami, tugas untuk lebih mengenali alam semesta tugas kita bersama.  Bukan hanya para ahli – spesialis di bidang masing-masing, tetapi pengamat lain pun terbuka untuk berkontribusi. Jadi bukan hanya ahli botani, seorang fotografer pun dapat memberikan pencerahan tentang tanam-tanaman.

Baca juga:  Panen Cengkih Melonjak 63%

Manfaatnya pun tidak terbatas bagi para penuntut ilmu, tetapi juga bagi para pegiat agribisnis, pejuang konservasi dan bioprospektor, peneliti yang senantiasa menggali manfaat baru dari setiap tanaman. Fungsi paling menonjol dari setiap tumbuhan adalah  prospeknya sebagai bahan makanan dan energi.  Konsumsi manusia semakin lama semakin banyak.  Demikian pula kebutuhannya untuk energi.  Oleh karena itu, hal paling mendesak adalah meningkatkan pengetahuan dan menemukan bahan-bahan untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup, termasuk bahan obat, baik bagi manusia maupun makhluk lainnya.

Pohon nyamplung dan kepuh dibuktikan menjadi sumber energi.  Pandan pudak Pandanus tectorius menjadi bahan makanan, selain daunnya dimanfaatkan untuk kerajinan.  Bermacam buah dari pohon bakau juga diolah menjadi makanan. Tanam-tanaman merambat, bermacam sirih dan lada juga mendapatkan apresiasi yang baik.  Ada lada jamaika yang bermanfaat sebagai tanaman obat. Ada juga merica Piper nigrum yang membuat Nusantara terkenal ke seantero Eropa karena menghasilkan rempah-rempah.  Tentu, selain cengkih dan pala.

Berbagai jenis gaharu Aquilaria sp ternyata bukan hanya bagus sebagai penghasil kayu yang kuat, tetapi juga minyak esensial yang mahal. Contohnya gaharu intan Aquilaria filaria yang dalam bahasa Inggris disebut diamond agarwood tree.   Setelah secara tradisional diburu sampai ke tengah hutan, belakangan mulai diusahakan pembibitannya melalui biji dan setek. Yang tidak kurang menariknya adalah profil keempat kebun raya dengan kekayaan tanaman langka.  Contohnya bunga Titan arum yang secara khusus disajikan potret besar di depan dan di bagian herba. Kalau kita mengunjungi kebun raya pada saat yang tepat, kelopak kuncup bunga setinggi tiga meter itu terbentang di depan mata dengan aroma yang sangat tidak biasa.

Semuanya itu perlu dijadikan pusaka alam, natural heritage yang tidak terperi nilainya.  Memang belum ada uraian sistematis terkait dengan eksploitasi dan budidaya setiap tanaman.  Justru di sanalah tugas para penerus untuk menunjukkan secara teknis, ekonomis, dan praktis bermacam manfaat tumbuh-tumbuhan. Tanpa memahami aspek budidaya pun kita patut bersyukur mendapat pencerahan, betapa banyak ilmu yang masih belum digali. Betapa besar manfaat dan harapan yang dilimpahkan pencipta alam semesta melalui tumbuh-tumbuhan. ***

*) Kolumnis Trubus sejak 2001, lulusan LEAD International, dan pemenang hadiah Ashoka, innovator for the public.

 

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d