Kebun Sekolah 1
Tren hidroponik di kalangan pelajar.

Tren hidroponik di kalangan pelajar.

Di atas bukit ada rumah sekolah dan asrama dengan kebun murbei. Anak-anak dan burung-burung berkicau sesuka hati di sana. Ayah mengirim saya ke sekolah itu pada 1962. Kebun murbei yang terawat rapi menutupi ladang jagung dan singkong di seberang lain sekolah kami. Itulah kenangan pertama pekarangan sekolah yang kini menjadi taman. Tak ada lagi anak berebut ubi kayu, memanjat mangga. Tidak sebatang murbei tersisa karena berubah tempat parkir.

Namun, puluhan, bahkan ratusan pot bunga dan sayuran membuat sekolah lebih hijau daripada sebelumnya. Bukan hanya di tempat saya belajar, tapi di banyak sekolah dasar lain di seluruh Indonesia. Kebun, taman dan pekarangan sekolah pun dikembangkan di mana-mana. Beberapa gedung seolah tertutup anggrek, anthurium, dan bermacam-macam sayuran. Sebuah SMA di Denpasar bahkan mengontrak lahan kosong di belakangnya untuk dijadikan ladang sekolah.

Ekopreneur
Sayur sehat adalah hasil utama kebun sekolah. Tujuan pertanian sekolah (school farming) adalah meningkatkan gairah belajar. Pertama, areal sekolah menjadi sejuk. Pasokan oksigen optimal. Kedua, kantin sekolah mendapat bahan makanan segar. Ada sawi, selada, ikan, bahkan ayam dan kambing sendiri. Ketiga, tanaman dan ternak menjadi sumber ilmu untuk belajar IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), Matematika, Lingkungan Hidup, Bahasa, dan Ilmu-ilmu Sosial.

Sekarang peran halaman sekolah sudah sangat berkembang. Ada yang membuat kebun vertikultur, apotek hidup, ladang energi matahari, dan pertanian hidroponik. Salah satu yang sukses hingga mendapat hadiah Adiwiyata—supremasi sekolah ramah lingkungan adalah SMA Negeri Depok, Jawa Barat dan SD Negeri Kedamean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Khusus untuk Sekolah Kedamean di Gresik itu termasuk luar biasa karena bisa mendapat penghasilan ekstra dari pertaniannya.

Mentimun, terung, buncis, kacang panjang, bahkan buah-buahan yang berhasil dipanen bisa dijual. Ketika bibit adenium dan anthurium marak di pasaran, mereka bisa mendapat pemasukan hingga Rp18-juta sebulan. Murid dan guru sekolah itu sangat kreatif. Sampai-sampai tembok luar sekolah digambari pohon-pohon dan disebut “hutan sekolah”. Kunjungan ke sekolah Kedamean akan terkenang lama bagi saya. Ternyata, siswa-siswi Indonesia menunjukkan cinta yang mendalam dan produktif kepada lingkungan hidupnya.

Sebuah SMA Negeri 5, Denpasar, Bali berhasil memproduksi alkohol dari buah pohon maja. Selama ini buah maja Aegle marmelos bergeletakan begitu saja. Namun, anak-anak Smanela (nama populer sekolah itu) berhasil menjadikan bahan bakar berkualitas tinggi. Tentu dengan bimbingan guru sains mereka, Dra Ni Made Nopiasih. Tidak selalu guru berperan. Dalam kasus SMA Negeri 2 Depok, justru inisiatif siswa yang menonjol.

Baca juga:  Mereka Melawan Arus

Pak Umar, kepala sekolahnya, terheran-heran melihat halaman sekolahnya dipenuhi instalasi hidroponik untuk sawi dan bayam. “Saya kaget karena halaman sekolah kami tidak luas,” katanya. Ternyata dengan pipa polivinil klorida (PVC) melingkar-lingkar, panen sayuran hasilnya lumayan. Pertanian hidroponik memang tidak menggunakan tanah. Cukup air yang dipasok dengan teratur.

Keluar kelas
Sekolah menengah atas saya, di Malang, Jawa Timur, punya kandang di atap gedung. Dalam kandang itu kita melihat burung merak beranak-pinak. Di kandang lain ada monyet yang suka berteriak. Di sebelahnya dua ular sanca yang tak pernah bersuara sedikit pun tapi cukup disegani. Di lantai bawah ada ikan diskus berenang-renang di akuarium, ikan koi di kolam. Selebihnya adalah koleksi kura-kura dan burung kenari.

Itulah yang saya ingat dari kepala sekolah kami, almarhum E. Siswanto, yang ruang kerjanya dihijaukan oleh beragam kaktus mini. Lebih dari 200 pot tersusun rapi! Nah kalau lulusan sekolah itu menjadi ekopreneur—wirausaha yang cinta lingkungan, kita maklum. Kehadiran satwa di sekolah ini membuat anak-didik lebih peka terhadap kehidupan. Kini dikenal perlunya hewan peliharaan sekolah school pet.

Ada juga istilah satwa dalam kelas—class room animal. Tujuannya untuk menggelorakan semangat belajar, merangsang rasa empati pada kehidupan. Biasanya hewan kecil termasuk kelinci, marmut, hamster, kalajengking, tokek, belalang dalam herbarium, dan insektarium. Membuat anak sayang satwa termasuk tanggung jawab sekolah. Yang lebih serius dan umum adalah peternakan sekolah school farming. Inggris memiliki asosiasi ternak sekolah dengan sekitar 120 anggota.

Itu adalah kerja sama antara sekolah yang guru dan muridnya suka bertani atau beternak. Pelindungnya adalah Pangeran Charles, putra sulung ratu Inggris. Ada seminar tahunan yang ditunggu-tunggu oleh anggota dan didukung sang pangeran. Di Amerika, program school farming mendapat dukungan dan insentif dari pemerintah. Dimulai oleh istri presisen, Michelle Obama mencangkuli pekarangan Gedung Putih dan menanam sawi. Sekarang ada program Obama school farming untuk menyemangati anak-anak agar suka kegiatan lapangan.

Kegiatan di luar kelas semakin lama semakin penting. Terutama karena semakin sulit mengajak siswa meninggalkan komputer dan gawainya. Di Jakarta, kabarnya hanya 30% anak suka belajar di luar kelas. Kenikmatan duduk dalam ruang yang sejuk, sibuk dengan internet, membuat anak kurang berminat untuk berpanas-panas di lapangan. Inilah tantangan yang dihadapi oleh provokator pertanian dan peternakan.

Baca juga:  Janji Laba Talas

Pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, 20 Oktober 1999—23 Juli 2001, rakyat cenderung turun ke lapangan. Ada lapangan golf dicangkuli untuk tanam singkong. Saya diajak menanam jagung dan ubi di seputar bandara. Dengan sponsor dari Masyarakat Eropa, saya ikut menyusun pendidikan lingkungan di Aceh dan Sumatera Utara. Intinya sederhana, bagaimana membuat guru suka membawa murid belajar di luar kelas. Pendidikan lingkungan hidup, terutama konservasi tentu lebih bermakna bila dilakukan di kebun sekolah.

Ada juga petunjuk agar membawa murid turun ke sungai, mengamati sawah, ladang, ikut belajar bertani dan merawat ternak. Namun, guru-guru justru sebaliknya. Mereka dibebani tugas yang berat dalam kelas. Jadi, anjuran untuk berkebun, beternak dan membentuk ecoclub, kelompok pemerhati alam, ditertawakan. Untungnya zaman berubah. Kurikulum 2013 (yang banyak dikritik) sebenarnya membuat pengajaran menjadi lebih aktif. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu. Ruang kelas harus dibuat dinamis. Sekolah diubah menjadi lebih hidup dengan berbagai kegiatan. Pendidikan dasar lebih mengutamakan topik ketimbang mata pelajaran yang terpisah-pisah.

Eka Budianta

Eka Budianta

Kaya berkat lingkungan
Kini terbuka kesempatan untuk membangun kebun sekolah, kandang sekolah, radio sekolah, kolam sekolah, bengkel sekolah, dan seterusnya. Ketika saya balik ke Aceh dan Sumatera Utara pada 2015, para guru muda bersemangat baru. Kita semua sadar generasi penerus perlu kembali dekat dengan tanah. Mereka harus kembali akrab dengan tumbuhan dan hewan di sekitar. Bahkan cinta pada satwa liar perlu dilipatgandakan.

Wirausaha lingkungan sudah dinyalakan. Ketahanan pangan dan energi dihadapkan sebagai tantangan utama bagi generasi mendatang. Tidak usah dihindari, anak-anak perlu berpanas-panas dan berbasah-basah. Pertanian dan peternakan sekolah membuka peluang mengenal dan membangun kehidupan nyata. Mulai dari menanam sayur untuk kebutuhan sendiri, hingga menyediakan energi untuk kepentingan bersama.

Terakhir, anak-anak sekolah juga kembali mencintai lautnya. Ada yang mengolah rumput laut, menangkarkan tukik anak penyu untuk dilepas ke samudera, menanam bakau dan mengolah buahnya, bahkan menanam terumbu karang. Maka kita mendengar Gemala – Gerakan Masuk Laut, Lomba Cinta Laut, dan seterusnya.

Anak-anak SMA tidak lagi duduk mendengarkan gurunya bicara dari pagi sampai sore, tetapi juga belajar membuat bandeng presto dan membuat puding dari rumput laut. Agrikultur, marinkultur, akuakultur, bahkan membuat selai murbei dapat dipelajari dan dikembangkan di kebun sekolah. (Eka Budianta*)

*) Budayawan, kolumnis Trubus, pengurus Trirto Utomo Foundation dan mitra utama Senior Living @ D’khayangan

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *