Kebun Jeruk 120 Ha 1
Produktivitas jeruk Thanathon mencapai 80 kg per pohon per musim

Produktivitas jeruk Thanathon mencapai 80 kg per pohon per musim

Thanathon mengelola kebun jeruk 120 ha secara intensif.

Perjalanan panjang Jakarta-Bangkok-Chiangray itu berakhir di sebuah lahan jeruk yang terhampar luas hingga 120 ha. Itulah kebun Thanathon di Provinsi Chiangray, Thailand bagian utara yang mengelola budidaya jeruk secara intensif. Pengelola kebun menyuguhkan jus jeruk yang amat segar sebagai minuman selamat datang. “Rasanya sangat segar dan asli,” ujar Jeffry AS, peserta kunjungan asal Jakarta.

Harap mafhum jus itu berasal dari buah segar yang baru saja dipetik di lahan. Pengelola kebun membuat jus dalam hitungan detik dengan peranti khusus. Alat pengejus itu dilengkapi tuas berbentuk leher angsa. Petugas memasukkan jeruk utuh berkulit melalui leher angsa itu. Kemudian ia menarik leher angka ke bawah, jeruk paling bawah pun terbelah dan masuk ke kotak juicer. Di dalam kotak, potongan jeruk melewati dua roda pemeras berputar yang akan menjepit buah. Air jeruk pun mengucur ke dalam termos plastik di bawahnya.

Thanathon berkualitas A menembus pasar ekspor dengan harga fantastis

Thanathon berkualitas A menembus pasar ekspor dengan harga fantastis

Ekspor
Kulit jeruk menjadi limbah dan keluar dari lubang di sisi kotak juicer, lalu ditampung dalam boks plastik. Petugas itu kemudian memasukkan jus jeruk dalam botol bulat untuk dijual. Harga satu botol bervolume 500 ml mencapai 20 baht setara Rp80.000. Namun, peserta yang sudah merasakan nikmatnya jus jeruk thanathon, tetap rela merogoh kocek untuk botol ekstra.

Lahan jeruk yang dikunjungi rombongan Trubus itu merupakan kebun ke-8 dari 12 kebun jeruk Thanathon. Menurut Kun Narong, manajer kebun Thanathon, total luas kebun mencapai 120 ha. Thanathon mulai mengembangkan buah anggota famili Rutaceae itu sejak 1992. Semula kebun itu tertutup bagi pengunjung dan baru “membuka diri” pada 2010.

Baca juga:  Berbuah Sepanjang Tahun

Rombongan kemudian mengelilingi kebun dengan mengendarai mobil khusus. Laju kendaraan juga sangat rendah, acap kali berhenti atas permintaan peserta ketika melihat objek yang menarik perhatian. Kun Narong yang menyertai rombongan memberikan penjelasan sepanjang perjalanan pada sebuah siang yang cerah itu.

Jeruk siem special honey tanpa biji

Jeruk siem special honey tanpa biji

Thanathon mengembangkan 5 varietas jeruk, yakni thanathon 1, sainampheng, ocean honey, special honey, dan golden kip. Ada pula jeruk freemong dan kimquat, tetapi hanya skala kecil. Kebun terlihat rapi dengan jarak tanam teratur 6 m x 2 m. Special honey merupakan jenis baru tanpa biji bersosok mirip ocean honey, buah berair banyak dan bercitarasa manis menyegarkan. Buah berukuran besar berkulit jingga seronok menggelayuti setiap pohon. Tampak kontras karena hijau daun berpadu dengan warna buah yang jingga.

Sepintas penampilan thanathon 1 mirip keprok batu 55, unggulan nasional asal Kotamadya Batu, Provinsi Jawa Timur. Buahnya besar dan berwarna kuning. Namun, produktivitas keprok Thailand itu jauh lebih tinggi, mencapai 80 kg per pohon per musim. Bandingkan dengan keprok batu 55, hanya 60—65 kg per pohon per musim. Keprok unggulan Thailand itu juga berbuah 2 kali setahun, Desember—Februari musim utama dan Juni—Agustus sebagai selingan.

Hamparan kebun jeruk 120 ha di Provinsi Chiangrai, Thailand. Produksi untuk memasok 6 negara

Hamparan kebun jeruk 120 ha di Provinsi Chiangrai, Thailand. Produksi untuk memasok 6 negara

Intensif
Dengan produktivitas tinggi, Thanathon bisa mengekspor buah ke Tiongkok, Hongkong, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Produktivitas tinggi itu ditopang oleh cara budidaya intensif. Pada awal tanam pengelola memberikan 1 karung berbobot 20 kg pupuk kandang per lubang tanam. Pemberian pupuk kandang pada musim hujan, yakni Juni.

Pemberian pupuk kandang berikutnya hanya sekali dalam setahun dengan volume sama, 20 kg per pohon. Pengelola kebun juga memberikan pupuk kimia berupa NPK dengan kandungan 12:24:12 setiap 3 bulan. Saat tanaman remaja atau berumur 2 tahun setelah tanam, Thanathon memberikan NPK dengan kandungan rata 16:16:16. Menjelang, berbunga atau berumur 3 tahun, pengelola kembali memberikan NPK 13:7:35 untuk membesarkan ukuran buah.

Pencinta buah Indonesia berkesempatan mengunjungi kebun jeruk nomor satu di Thailand

Pencinta buah Indonesia berkesempatan mengunjungi kebun jeruk nomor satu di Thailand

Setelah berbunga dan berbuah, pekerja memupuk NPK dengan kandungan 0:10:30. Frekuensinya 3 kali hingga panen. Selain itu diberikan pula pupuk yang mengandung magnesium dan seng untuk meningkatkan kadar kemanisan buah. Menurut, Rubiyanto, pekebun buah di Jambi, komposisi pupuk itu tidak ada di Indonesia, sehingga bila ingin menirunya, harus menambahkan lagi dosis fosfor dan kalium, serta unsur seng dan magnesium.

Baca juga:  Jeruk Eksotis Seukuran Jari

Untuk menyiram lahan seluas itu, Thanathon membangun jaringan irigasi. Tiang sprayer menjulang tinggi melewati pohon dengan jangkauan semprotan mencapai 35 m. Kebutuhan air dipasok dari penampungan air di area paling tinggi. Buah dipanen saat tingkat kematangan mencapai 80—90% untuk konsumsi lokal. Adapun untuk ekspor, buah dipanen dengan tingkat kematangan 60—70%.

Jus jeruk segar, langsung dari kebun

Jus jeruk segar, langsung dari kebun

Meski dipanen lebih muda, tetapi rasa jeruk tetap manis menyegarkan. Pengelola kebun memilah buah berdasarkan kualitas A, B, dan C. Kualitas A dikemas dalam kardus dengan isi 10—12 buah dijual 700 baht atau Rp280.000 per 3 kg. Sementara harga mutu B 450 baht setara Rp180.000 per 3 kg, sedangkan harga kelas C hanya 150—200 baht atau Rp80.000 per 3 kg. (Syah Angkasa/Peliput: Suci Puji Suryani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *