Ke Jiran Buru Durian Macan

Ke Jiran Buru Durian Macan 1
Daging buah kenyal dengan aroma amonia

Daging buah kenyal dengan aroma amonia

Durian macan yang amat langka itu ternyata lezat.

Tak perlu tangga atau memanjat pokok jika hendak memetik buah durian. Harap mafhum pohon anggota famili Bombacaceae itu berbuah di pangkal batang, bahkan di atas permukaan tanah. Itulah durian macan Durio testudinarum. Buah langka itu dijajakan oleh para pedagang di Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam. Mereka mengikat 5 durian macan dengan tali plastik menjadi satu.

Para penjaja lalu menata di lapak di tepi jalan dengan banderol B$15 setara Rp150.000 per ikat. Mereka menjual durian macan bersama spesies lain seperti durian Durio zibethinus dan durian anggang Durio graveolens. “Keragaman spesies durian macan justru saya temukan di area yang dikuasai oleh negara paling kecil di Pulau Borneo,” kata Prof Aziz Zakaria, praktikus pertanian di Kelantan, Malaysia.

Pohon terawat karena buah memiliki nilai ekonomi tinggi

Pohon terawat karena buah memiliki nilai ekonomi tinggi

Penasaran
Aziz mengisahkan penemuan durian macan itu kepada Dr Lutfi Bansir, pemerhati durian di Kalimantan Utara, pada pertengahan Agustus 2014. Tentu saja Lutfi yang juga kolektor durian penasaran dengan informasi itu. Hanya dalam hitungan 10 hari sejak mendengar kisah itu, Lutfi langsung terbang ke jantung Negeri Brunei untuk berburu Durio testudinarum. “Saya penasaran karena di tanahair belum pernah lihat durian macan yang layak jual sebagai buah konsumsi,” kata Lutfi.

Kini status durian kura-kura—nama lain durian macan—memang langka. Padahal, 20 tahun silam buah durian yang muncul di pangkal batang itu kerap ditemukan di hutan Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kini untuk mendapatkannya lagi amat sulit seiring lenyapnya hutan primer di Kalimantan. Eksplorasi mencari Durio testudinarum yang layak konsumsi di hutan Kalimantan selalu gagal sepanjang 2005—2010.

Dr Lutfi Bansir temukan durian kura-kura dijajakan bersama durian lainnya di pasar tradisional

Dr Lutfi Bansir temukan durian kura-kura dijajakan bersama durian lainnya di pasar tradisional

Sebuah pohon masih ditemukan di hutan Kalimantan Barat dengan jumlah buah terbatas dan kualitas rendah, ukuran buah hanya sekepalan tangan dengan daging buah sangat tipis sehingga tidak layak jadi buah konsumsi. Di luar itu perburuan durian kura-kura selalu nihil. Itulah sebabnya begitu mendengar kabar pedagang menjajakan durian macan, Lutfi bergegas terbang ke negeri jiran.

Baca juga:  Kiat Buat Pakan Ikan Bermutu

Saat Lutfi Bansir mendarat di Bandar Udara Seri Begawan, Brunei Darussalam, tak sulit bagi doktor durian alumnus Universitas Brawijaya itu menemukan durian kura-kura. “Saya tak perlu berhari-hari menembus pedalaman hutan seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur,” kata dekan Fakultas Pertanian, Universitas Kalimantan Utara, itu. Sopir taksi mengantar Lutfi ke pasar durian di tepian Sungai Limbang. Kisah berikutnya benar-benar mirip seperti yang diceritakan Aziz pada Lutfi.

Durian kura-kura berbuah di pangkal batang

Durian kura-kura berbuah di pangkal batang

Di sana durian kura-kura dijajakan bersama dengan durian Durio zibethinus. Ukuran durian macan pun nyaris sama besar dengan durian biasa. Bobot sekitar 0,8—1 kg. Bedanya, buahnya bergerombol di satu tempat, tidak tersebar di setiap percabangan. Yang membedakan warna kulit Durio testudinarum cenderung lebih kuning. Mirip kulit durian lai Durio kutejensis.

Kenyal
Lutfi meminta penjaja membelah buah. Begitu kulit terbuka aroma khas durian macan yang seperti amonia pun menguar. Menurut Lutfi, “Aromanya mirip urine. Anehnya masyarakat Brunei menyukainya.” Itu mirip kasus sebagian orang tidak menyukai aroma durian Durio zibethinus, tapi sebagian yang lain malah tergila-gila pada durian. Lutfi mencicip durian macan untuk membandingkannya dengan spesies durio lainnya.

Menurut Lutfi tebal pongge durian macan setara dengan durian lokal yang berkisar 3—5 mm. Namun, begitu dicicip sensasinya berbeda. “Manis meski terasa kenyal di lidah,” kata Lutfi. Sensasi seragam itu muncul dari 5 buah durian macan yang Lutfi cicip untuk membandingkan.

Pemilik lapak durian itu menunjukkan kepada Lutfi soal lokasi asal durian kura-kura. “Saya tahu daerah itu dapat diakses mobil,” kata Tahir, sopir taksi keturunan Bugis, yang kini berkebangsaan Malaysia. Tahir dan Lutfi melaju ke sebuah hutan di tepi kampung di perbatasan Brunei Darussalam dengan Limbang, Sarawak, Malaysia. Di sana Lutfi menemukan 3 pohon Durio testudinarum tengah berbuah lebat. Jarak antarpohon 20—30 m.

Baca juga:  Pilihan Pekebun Tin

Di setiap pohon, buah durian kura-kura bergelayutan di pangkal pohon hingga batang atas di ketinggian 2 m. “Buahnya besar-besar, tidak kecil seperti yang saya bayangkan sebelumnya,” ujar Lutfi. Maklum, julukan durian kura-kura lahir dari ukurannya yang bulat kecil di atas permukaan tanah. Mirip sosok punggung “rumah” kura-kura. Sementara nama durian macan disematkan karena pada masa silam macan dengan mudah menyantap durian itu.

Di Brunei Darussalam durian merah pun diperjualbelikan di pasar

Di Brunei Darussalam durian merah pun diperjualbelikan di pasar

Menurut Greg Hambali, ahli durian di Bogor, Jawa Barat, setiap spesies durian anggota genus Durio memiliki banyak varian. Sebut saja durian Durio zibethinus, lai Durio kutejensis, dan durian anggang Durio graveolens yang memiliki bentuk buah dan rasa yang beragam. “Populasi yang terbanyak ditemukan adalah zibethinus sehingga ahli taksonomi mendeskripsikan morfologi tanaman lebih lengkap. Spesies lain lebih sedikit populasinya sehingga contoh tanaman yang digambarkan lebih sedikit,” ungkap Greg.

Kualitas durian kura-kura di Brunei yang lebih baik daripada di tanah air membuatnya tetap muncul di pasaran. “Boleh jadi dulu di hutan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pun ada yang berkualitas, tapi karena letaknya di tengah hutan maka tidak muncul ke pasaran, lalu telanjur punah oleh penebangan hutan dan kebakaran hutan,” kata Lutfi. Kualitas yang lebih baik di Brunei itu membuat pohon memiliki nilai ekonomi tinggi sehingga dirawat penduduk. (Destika Cahyana, peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian serta mahasiswa Sekolah Pascasarjana, Universitas Chiba, Jepang).

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x