Ke Hutan Tanpa Bedil

Ke Hutan Tanpa Bedil 1
Samuel Rabenak, pemburu yang berbalik menjadi pelindung

Samuel Rabenak, pemburu yang berbalik menjadi pelindung

Sudah bertahun-tahun Samuel Rabenak tak lagi menyentuh senapan itu. Mungkin peranti pencabut nyawa itu telah berdebu atau berkarat termakan usia. Ia kerap menggunakan senapan itu untuk membidik burung. Rumahnya di tepi hutan di Desa Bukambero, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memudahkan ia berburu beragam jenis burung. Dalam sekali berburu, ia mampu membawa pulang 20 burung beragam jenis.

Ingatannya masih menyimpan kenangan, pergam hijau Ducula aenea yang bersosok besar paling lezat dagingnya. Dalam perburuan burung itu, temannya kerap menantang Samuel Rabenak untuk menembak burung yang terbang melintas. Berkali-kali pula Samuel mampu menjatuhkan elang yang terbang dengan ujung senapannya. “Ular, bajing, kadal, atau ayam hutan pun saya tembak kalau ketemu,” ujar Samuel.

Itu dahulu, 25 tahun silam ketika Samuel Rabenak remaja. Kini Samuel Rabenak yang bergabung dengan lembaga swadaya masyarakat Burung Indonesia adalah pelindung dan penyayang burung. Ayah dua anak itu pernah membongkar dan membuang jaring penjebak burung sepanjang 300 meter di hutan Puarlolo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Jaring itu untuk menjebak burung-burung yang biasa bermain di lantai hutan.

Hendrikus Habur, setiap pagi terbangun oleh kicauan burung di pekarangan

Hendrikus Habur, setiap pagi terbangun oleh kicauan burung di pekarangan

Setelah tamat SMA, Samuel merantau ke Waingapu, Sumba Timur, dan bekerja di sebuah hotel. Ketika itulah tamu mancanegara acap menyewa Samuel sebagai pemandu tur. Dua tahun berselang, tepatnya pada 1998, ia bergabung dengan Burung Indonesia. “Saya ingin mencoba pengalaman baru,” ungkap pria berambut ikal itu. Pengalaman menembak burung sempat membuatnya gamang. Walhasil, ia baru menikmati dunia pelestarian burung 4 tahun berselang.

Baca juga:  Meniran Cegah Aeromonas

Sejak itu, senapannya tergantung tak tersentuh lagi. Kehidupan Sam berbalik 180 derajat. Sebelumnya, ia meletuskan senapan ketika melihat burung. Kini, begitu mendengar kicau burung, ia ganti membidikkan kamera atau teropong binokular. Samuel mampu mengenali kicauan burung, hapal tempat persinggahan setiap jenis burung. Kemampuan itu menjadikan ia pemandu andalan tim Burung Indonesia. Setiap kali ada periset mancanegara yang ingin melihat burung, Sam senantiasa menjadi pemandu. Burung pagi, siang, bahkan jenis nokturnal seperti celepuk alias burung hantu sekalipun tidak mampu lolos dari mata dan telinganya. Sejatinya kemampuan mengidentifikasi burung mulai terasah ketika Samuel remaja. Jumlah burung yang ia kenali semakin banyak, demikian juga tempat persinggahan mereka. Itu menjadi poin tersendiri lantaran pehobi burung mancanegara rela datang dari jauh sekadar melihat atau mendengar burung. “Kalau salah, sudah malu, kita pun harus mengembalikan uang mereka,” ungkap Samuel.

Srigunting Dicrurus sp, jenis yang lazim dijumpai di hutan Sesok

Srigunting Dicrurus sp, jenis yang lazim dijumpai di hutan Sesok

Setelah bergabung dengan Burung Indonesia, Samuel yang kini berusia 45 tahun itu terus mempelajari jenis-jenis burung berdasarkan suara dan sosoknya. Meski demikian, ia pernah nyaris dipermalukan oleh tamu dari Amerika Serikat. Sang tamu, yang kebetulan pemandu burung profesional di negaranya, ingin melihat gemak sumba Turnix everetti. Mereka berjalan di hutan. Di sebuah savana, Sam melihat burung itu. Ia pun mendekat bersama sang tamu. Sayang, burung itu cepat berlari sebelum sang tamu melihatnya. Samuel menjawab ringan, “Sudah,” ketika sang tamu bertanya, “Apakah Anda sudah melihat gemak?”
“Intinya tamu ingin kita mendahulukan mereka. Jika kita melihat buruan, biarkan tamu maju duluan,” ungkap Sam. Untung protes sang tamu terhenti setelah ia bisa melihat gemak sumba beberapa saat kemudian. Bukan hanya Samuel Rabenak yang “bertobat” dan berbalik menjadi pelindung burung. Di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, ada Hendrikus Habur yang pernah mendulang jutaan rupiah dari perburuan anis merah pada 2004—2007.

Danau Sanonggoang dikelilingi hutan seluas 4.000 ha

Danau Sanonggoang dikelilingi hutan seluas 4.000 ha

Pengawasan ketat di bandara dan pelabuhan menjadikan tren tangkapan alam redup. Saat itulah penyesalan meruyak dalam hati Hendrikus. Ia lantas belajar mengenali jenis-jenis burung dan peranan mereka terhadap kelestarian hutan. Saat Trubus berkunjung ke Waesano pada akhir Mei 2014, Hendrikus dengan fasih menceritakan jenis-jenis burung yang hidup di hutan Sesok seluas 4.000 hektar, di tepi danau Sanonggoang. “Ada 84 jenis burung di sini, termasuk beberapa spesies endemik maupun migratori,” ungkap Hendrikus.

Baca juga:  Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Di antaranya ada gagak, srigunting, sampai berbagai jenis burung cabai emas pemakan nektar. Ia lantas menanam tanaman-tanaman kayu seperti ampupu Eucalyptus urophylla di pekarangan belakang rumah. Selain menangkap air, pohon itu menjadi tempat persinggahan burung ketika mencari makan. Jika warga Jakarta mengandalkan alarm untuk membangunkan mereka dari tidur malam, Hendrikus dan keluarga dibangunkan oleh kicau burung yang bersahutan setiap pagi.

Samuel Rabenak dan Hendrikus Habur keruan saja menyesal atas perburuan burung pada masa lampau. Itulah sebabnya mereka kini mati-matian menjaga habitat burung agar keberagaman jenis unggas itu lestari. Masa lalu biarlah terkubur oleh waktu yang terus melintas. Mereka menjaga kelestarian alam untuk masa depan. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sardi Duryatmo)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x