Kaya Karena Chaya 1
Sayuran baru di Indonesia bernama chaya bersosok mirip pepaya.

Sayuran baru di Indonesia bernama chaya bersosok mirip pepaya.

Omzet Herni Turyana Rp600.000—Rp1.000.000 per hari.

Herni Turyana memperoleh omzet itu dari penjualan 400 ikat daun chaya atau sohor dengan sebutan pepaya jepang. Ia menjual daun pepaya jepang kepada pengepul asal Tangerang, Provinsi Banten, Rp1.500—Rp2.500 per ikat. Setiap ikat terdiri atas 4—5 pucuk daun pepaya jepang. Herni mengebunkan tanaman itu di lahan 1,5 ha di Desa Kertajaya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Populasi mencapai 20.000 tanaman per ha. Tinggi tanaman rata-rata satu meter. Ia panen perdana dengan memetik 1—3 daun per tanaman saat chaya berumur 39 hari pascatanam. Panen berikutnya pada tanaman yang sama 25 hari kemudian. Pemanenan chaya pun relatif mudah. Cukup potong pucuk hingga batang kurang lebih 30 cm. Dari ujung potongan bekas panen, akan muncul percabangan baru. “Penambahan cabang 2—3 kali lipat setelah panen,” katanya.

Chaya mulai banyak ditanam di kawasan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Chaya mulai banyak ditanam di kawasan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Sejak 1990-an
Pada panen berikutnya dari 1 tanaman bisa menghasilkan 1 ikat setara 4—5 daun. Ia hanya mengikat 4—5 daun dan menjualnya di pasaran. Menurut Herni daun chaya merupakan sayuran baru. “Biasaya daun pepaya jepang dikonsumsi sebagai lalapan atau ditumis,” katanya. Rasanya mirip daun singkong dan tidak pahit seperti daun pepaya sehingga konsumen menyukainya.

Sayuran baru itu mendapat julukan daun pepaya jepang karena bentuk daun mirip daun pepaya, tapi berukuran lebih kecil. Meski mendapat sebutan pepaya jepang, sebetulnya tanaman sayuran itu tidak sekerabat dengan pepaya Carica papaya. Menurut Gregori Garnadi Hambali, ahli botani di Kota Bogor, tanaman bernama ilmiah Cnidoscolus chayamansa itu malah sekerabat dengan singkong Manihot esculenta. Tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu juga bukan berasal dari Jepang.

Herni Turyana memanen 400 ikat daun tanaman chaya beromzet Rp600.000 – Rp1.000.000 per hari.

Herni Turyana memanen 400 ikat daun tanaman chaya beromzet Rp600.000 – Rp1.000.000 per hari.

Gregori Hambali yang pertama kali mendatangkannya sayuran itu dari Hawaii, Amerika Serikat, pada 1990-an. Menurut Greg habitat asli chaya—sebutannya di Meksiko dan Guatemala—tersebar di kawasan Amerika selatan. Di daerah asalnya bayam pohon—sebutan lainnya—juga kerap dikonsumsi sebagai sayuran. Greg lalu menanam chaya di kebun miliknya di Kota Bogor sebagai tanaman pagar.

Baca juga:  Demi Produksi Benih Bermutu

“Tapi orang Indonesia takut mengonsumsi tanaman itu karena buahnya seperti jarak sehingga dikira berbahaya jika dikonsumsi,” kata master Biologi lulusan Universitas Birmingham, Inggris, itu. Sebenarnya Greg sudah memperkenalkan tanaman pepaya jepang sebagai tanaman konsumsi. Ia membagikan tanaman chaya kepada teman dan saudara yang berkunjung ke kebunnya.

Namun, persepsi tanaman itu berbahaya untuk dikonsumsi telanjur melekat di masyarakat sekitar kebun. Akhirnya Greg tidak memanfaatkan chaya dan membiarkan tanaman tumbuh hingga mencapai 1—2 m menjadi tanaman pagar. “Di habitat aslinya chaya dapat mencapai tinggi 2,5 m,” katanya. Pada akhir 2014, Herni Turyana menemukan daun chaya yang dijual di pasar Cikokol, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

“Informasi dari para pedagang penjualan sayuran itu bagus,” ujarnya. Herni pun tertarik untuk menanamnya. Pria murah senyum itu lalu mempersiapkan lahan miliknya yang sudah ditanami pohon milenium. Ia menebang seluruh pohon dan mencangkulnya hingga tanah gembur dan siap ditanami. Ia lalu mengumpulkan bibit dari para pekebun di seputar Rumpin.

Chaya dipanen kurang lebih 30 cm dari daun hingga batang.

Chaya dipanen kurang lebih 30 cm dari daun hingga batang.

Mudah
Menurut Herni membudidayakan chaya tergolong mudah. Untuk persiapan lahan, Herni hanya mencangkul tanah, lalu memberikan pupuk organik berupa rendaman kotoran ayam sebanyak 600 kg per ha. Sumber bibit berupa hasil perbanyakan setek batang, persis seperti hendak menanam singkong. Ia kemudian menanam bibit chaya dengan jarak tanam 50 cm x 50 cm secara zig-zag tanpa guludan.

Herni menanam chaya tanpa guludan agar air untuk irigasi terbagi rata. Ia tak khawatir lahannya tergenang karena kontur lahan agak miring. Akar pada bibit hasil setek biasanya keluar pada 14 hari setelah tanam. Menurut Herni, budidaya chaya tidak terlalu intensif. “Tanaman itu relatif tahan cuaca panas dan kekeringan jika akar sudah terbentuk,” ujar Herni.

Baca juga:  Pandan Antidiabetes

Herni menuturkan chaya jarang terkena serangan hama. “Paling hanya cendawan, biasanya menyerang bagian bawah daun saat musim hujan,” tuturnya.

Namun, intenstias serangan hanya 1%. Jika ada tanaman yang terserang cendawan, Herni menyemprotkan fungisida hanya pada tanaman yang terserang. Untuk perawatan, pria asal Rawabelong, Jakarta Barat, itu melakukan penyiangan bersamaan dengan saat pemanenan.

Saat panen ia menyewa tenaga kerja untuk mengikat hasil panen dengan upah Rp150 per ikat tanaman. Pengepul menjemput hasil panen Herni ke kebunnya setiap sore. Melihat hasil yang diperoleh Herni Turyana, Josia Lazuardi terinspirasi untuk menanam tanaman chaya.

Tanaman chaya dewasa terlihat seperti jarak, berpotensi tinggi hingga 2,5 m.

Tanaman chaya dewasa terlihat seperti jarak, berpotensi tinggi hingga 2,5 m.

Pria yang berdomisili di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu membudidayakan chaya lebih intensif dibandingkan Herni. Ia membuat guludan memanjang 1 m x 5 m. Josia membuat guludan untuk memudahkan pemupukan dan penyiangan. Penyiraman awal dilakukan lebih intensif hingga terbentuknya akar.

Josia memberikan pupuk tambahan saat perakaran mulai muncul. Indikatornya muncul tunas-tunas baru. Ia memberikan pupuk SP 36 dan NPK dengan dosis masing-masing 2 kg per 500 m2.

Menurut Josia budidaya yang mudah, biaya produksi rendah, dan hasil yang menguntungkan, itulah yang membuat chaya layak dibudidayakan. Meskipun ia belum panen, ia berencana menambah luas penanaman dengan memanfaatkan lahan kosong di kebunnya. “Tanaman ini sangat potensial sesuai namanya, chaya. Siapa tahu saya bisa kaya karena chaya,” katanya sambil tersenyum. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *